BOJONGGEDE, POJOKBOGOR.id - Pemerintah Kabupaten Bogor terus mengembangkan kawasan Bomang sebagai salah satu titik penguatan ketahanan pangan.
Melalui Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor, Zona 19 kini dimanfaatkan sebagai Taman Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman atau Taman B2SA.
Kawasan tersebut tidak hanya difungsikan sebagai tempat budidaya tanaman pangan, tetapi juga dirancang menjadi ruang belajar, pembibitan, pemeliharaan ternak, hingga pemberdayaan kelompok masyarakat.
Pengembangan Zona 19 menjadi bagian dari upaya Pemkab Bogor untuk membuat lahan yang tersedia semakin produktif sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Zona 19 Dilengkapi Saung Edukasi hingga Kandang Ayam
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor, Andri Hadian, mengatakan pengelolaan Taman B2SA dilakukan bersama gabungan kelompok Taman B2SA di Kecamatan Bojonggede.
Kawasan tersebut dilengkapi berbagai fasilitas untuk mendukung kegiatan budidaya sekaligus edukasi masyarakat.
“Di Zona 19 kita membuat Taman B2SA yang dilengkapi saung edukasi, saung bibit, kandang ayam, dan penanaman benih sayuran. Pengelolaannya dilakukan bersama gabungan kelompok Taman B2SA di Kecamatan Bojonggede,” ujar Andri Hadian, Kamis (15/10/2026).
Dengan konsep tersebut, Zona 19 tidak hanya diarahkan menjadi lahan produksi.
Masyarakat juga dapat belajar mengenai pembibitan, pemanfaatan lahan, hingga cara menghasilkan pangan dari lingkungan sekitar.
Bayam, Kangkung, dan Jagung Mulai Dibudidayakan
Pemanfaatan lahan di Zona 19 dilakukan secara bertahap.
Saat ini beberapa komoditas yang mulai ditanam antara lain bayam, kangkung, dan jagung.
Tanaman tersebut menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan lahan agar dapat menghasilkan pangan yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
Selain itu, keberagaman jenis tanaman juga sejalan dengan konsep B2SA yang mendorong pola konsumsi pangan tidak bergantung pada satu jenis bahan pangan.
Masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya konsumsi makanan yang beragam, memiliki nilai gizi, seimbang, serta aman.
Tidak Hanya Mengejar Hasil Panen
Konsep Taman B2SA tidak berhenti pada kegiatan menanam dan memanen.
Program ini juga diarahkan menjadi media pembelajaran bagi masyarakat mengenai pemanfaatan pekarangan dan lahan produktif.
Melalui pendekatan tersebut, warga dapat memperoleh pengetahuan mengenai budidaya sayuran, pembibitan, hingga pengembangan sumber pangan hewani.
Andri Hadian sebelumnya mengatakan Taman B2SA memiliki fungsi edukasi yang cukup penting.
“Taman B2SA tidak hanya menjadi sarana budidaya pangan di lingkungan rumah tangga, tetapi juga merupakan media edukasi bagi masyarakat dalam membangun pola konsumsi pangan yang sehat, bergizi, dan berkelanjutan,” ujar Andri Hadian, Rabu (24/6/2026).
Ketahanan Pangan Bisa Dimulai dari Lingkungan Sendiri
Pemanfaatan pekarangan dan lahan yang tersedia menjadi salah satu pendekatan dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal dapat ditanami berbagai jenis sayuran maupun tanaman pangan lainnya.
Dalam skala rumah tangga, langkah tersebut dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga.
Jika dikembangkan secara lebih luas, hasilnya juga berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan.
Karena itu, Taman B2SA tidak hanya berbicara tentang ketersediaan pangan, tetapi juga kemampuan masyarakat memanfaatkan potensi yang ada di lingkungannya.
Bomang Dibagi Menjadi Sekitar 20 Area
Zona 19 merupakan bagian dari kawasan ketahanan pangan Bomang yang memiliki sejumlah area dengan fungsi berbeda.
Kawasan tersebut sebelumnya dibagi menjadi sekitar 20 area yang pengelolaannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Koordinator Ketahanan Pangan Bomang Kapten Inf Wawan menjelaskan pembagian tersebut dilakukan agar pemanfaatan kawasan dapat lebih terarah.
“Jadi semuanya ada 20 area. Area 1 dimulai dari lampu merah Jampang dan berakhir di Area 20 setelah rel,” ujar Kapten Inf Wawan, Senin (29/9/2026).
Masing-masing area memiliki fungsi berbeda, mulai dari kegiatan pertanian hingga pengembangan kawasan hijau.
Potensi Ekonomi Ikut Dikembangkan
Keberadaan Taman B2SA juga membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat.
Jika produksi pertanian terus berkembang, hasil panen tidak hanya dapat digunakan untuk kebutuhan sendiri.
Sayuran, bibit, telur ayam, maupun produk olahan berpotensi memiliki nilai jual.
Kelompok masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan juga dapat mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis hasil budidaya.
Konsep tersebut membuat ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi berjalan secara bersamaan.
Pengelolaan Bomang Dilakukan Bersama
Pengembangan kawasan Bomang melibatkan berbagai unsur.
Selain Pemerintah Kabupaten Bogor, pengelolaan kawasan juga dilakukan bersama Satgas Pengawal Indonesia Emas Ketahanan Pangan Korem 061/Suryakancana, kelompok tani, serta perangkat daerah terkait.
Sejumlah area telah menghasilkan berbagai komoditas pangan.
Di titik lain, proses pengolahan tanah, pembibitan, hingga persiapan penanaman masih terus berlangsung.
Kolaborasi tersebut dilakukan agar kawasan tidak hanya produktif dalam jangka pendek, tetapi dapat terus dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Zona 19 Jadi Tempat Belajar Pangan
Keberadaan saung edukasi menjadi salah satu pembeda Taman B2SA di Zona 19.
Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran mengenai budidaya tanaman, pembibitan, hingga pola konsumsi pangan sehat.
Saung bibit juga mendukung proses pengembangan tanaman yang nantinya dapat digunakan kembali dalam kegiatan budidaya.
Sementara kandang ayam menjadi salah satu bagian untuk memperkenalkan sumber protein hewani dalam konsep pangan yang beragam dan seimbang.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya melihat hasil akhir berupa panen.
Mereka juga dapat memahami proses bagaimana pangan diproduksi dari lingkungan sekitar.
Dari Bomang untuk Ketahanan Pangan Masyarakat
Pengembangan Zona 19 menunjukkan bahwa ketahanan pangan bisa dibangun melalui pemanfaatan lahan yang tersedia secara produktif.
Bayam, kangkung, jagung, bibit tanaman, hingga pemeliharaan ayam menjadi bagian dari satu kawasan yang menggabungkan produksi, edukasi, dan pemberdayaan.
Program tersebut juga membuka peluang agar masyarakat semakin aktif memanfaatkan lahan di sekitar tempat tinggal mereka.
Dari Bomang, Pemkab Bogor mendorong ketahanan pangan tidak hanya menjadi program pemerintah.
Masyarakat juga diharapkan ikut terlibat, belajar, menghasilkan pangan sendiri, dan bahkan mengembangkan peluang ekonomi dari kegiatan tersebut.







