POJOKBOGOR.id – Lahan di sepanjang Jalan Bojonggede–Kemang atau Bomang, Kabupaten Bogor, mulai menunjukkan perubahan fungsi.

Kawasan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal kini perlahan diarahkan menjadi area pertanian produktif dan bagian dari konsep pertanian terintegrasi.

Perkembangan terbaru terlihat pada Selasa, 22 September 2026. Satgas Pengawal Indonesia Emas Han Pangan Korem 061/Suryakancana bersama kelompok tani dan sejumlah perangkat daerah kembali menggarap berbagai titik di kawasan Jalan Raya Suryakancana, Bomang.

Pekerjaan tidak hanya berupa penyiraman tanaman.

Baca Juga: 592 Meter Saluran Cogreg Dinormalisasi, Bagian dari Upaya Hidupkan Kembali Aliran Air Bogor Utara

Alat berat diturunkan untuk meratakan tanah, rumput dibabat, bedengan baru dibuat, pupuk kandang ditebar, sementara sejumlah area tanaman terus dirawat secara rutin.

Namun di balik aktivitas tersebut, ada rencana yang lebih besar: Bomang disiapkan bukan hanya menjadi kebun di tengah koridor jalan, tetapi kawasan percontohan pertanian modern Kabupaten Bogor.

 

Dari Lahan Belum Produktif Menjadi Pertanian Terintegrasi

Gagasan pemanfaatan kawasan Bomang sudah dibahas pemerintah beberapa bulan sebelum aktivitas pertanian semakin intensif.

Pada Jumat, 17 Juli 2026, Bupati Bogor Rudy Susmanto membahas optimalisasi lahan sepanjang Jalur Bojonggede–Kemang bersama perangkat daerah.

Lahan yang sebelumnya belum termanfaatkan diarahkan menjadi kawasan pertanian terintegrasi yang diharapkan memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

“Lahan di sepanjang Jalur Bojonggede-Kemang yang sebelumnya belum dimanfaatkan mulai kita optimalkan menjadi lebih produktif,” kata Rudy Susmanto, Jumat (17/7/2026).

Konsep tersebut membuat pengembangan Bomang tidak berhenti pada penanaman komoditas.

Baca Juga: Kenapa Jalan Tegar Beriman Belum Dikerjakan? Rekonstruksi Total Masih Disiapkan Lewat IJD

Pemkab juga merancang keterhubungan pertanian dengan sektor peternakan, perikanan, tata air dan aktivitas ekonomi masyarakat di sepanjang koridor.

 

Didorong Jadi Laboratorium Pertanian Modern

Rencana pengembangan kawasan tersebut bahkan sudah muncul sejak pembahasan koridor strategis Tegar Beriman–Bomang pada Juni 2026.

Dalam rancangan itu, pemerintah menyiapkan pengembangan demplot pertanian skala besar, greenhouse serta teknologi budidaya untuk komoditas hortikultura dan buah-buahan.

Sejumlah laporan mengenai rencana tersebut menyebut sekitar 24 hektare lahan disiapkan untuk pusat percontohan pertanian.

Baca Juga: Mayat Pria Penuh Luka Ditemukan di Leuwisadeng, Isu Penggerebekan Narkoba Menguat

Bupati Bogor menyebut konsep yang ingin dibangun lebih jauh daripada sekadar membuka lahan pertanian biasa.

“Kita ingin kawasan ini menjadi laboratorium pertanian modern,” ujar Rudy Susmanto saat pembahasan pengembangan kawasan pada Jumat (5/6/2026).

Konsep tersebut membuat pengelolaan kawasan dilakukan dengan melibatkan banyak pihak.

Tidak hanya Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, tetapi juga Dinas Perikanan, Dinas Peternakan, jajaran TNI, kelompok tani hingga praktisi pertanian.

Baca Juga: Sempat Dikeramatkan, Misteri Mata Air Merah di Gunung Sindur Kemungkinan Akibat Kain Luntur

 

Cabai dan Tomat Sudah Mulai Ditanam

Tahapan pengembangan mulai terlihat pada awal September.

Pada Area 14, bibit cabai dan tomat sudah ditanam. Tanaman tomat juga dilengkapi turus sebagai penyangga pertumbuhan.

Di area lain, pekerjaan masih berupa pembentukan bedengan, pengolahan tanah dan pembangunan sistem pengairan.

Baca Juga: Setelah 79 Bangli Dibongkar, Rekayasa Lalu Lintas Pasar Cisarua Disiapkan

Mayor Inf Eka P. menjelaskan bahwa pekerjaan tidak berhenti setelah lahan selesai disiapkan.

“Harapannya, seluruh lahan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung ketahanan pangan,” ujar Mayor Inf Eka P., Kamis (3/9/2026).

Pendekatan tersebut menjadi alasan mengapa aktivitas di Bomang terus berulang setiap pekan.

Tanaman yang sudah masuk tahap budidaya membutuhkan penyiraman dan pemeliharaan, sedangkan area yang belum siap terus ditata untuk memasuki tahap produksi.

 

Dua Beko Turun, Area Dibagi untuk Kelompok Tani

Pada Selasa, 22 September 2026, pola kerja di Bomang semakin terstruktur.

Penyiraman dilakukan pada Area 12, 13, 14 dan 15.

Satu unit beko digunakan untuk meratakan tanah di Area 1, sementara alat berat lainnya bekerja di Area 10.

Area 2 mendapatkan penebaran kotoran hewan pada bedengan untuk memperbaiki media tanam. Sementara di Area 3, tim bersama Kelompok Tani Suryakancana membabat rumput sekaligus membuat bedengan.

Pembagian area tersebut menunjukkan pekerjaan di Bomang mulai bergerak dari tahap membuka kawasan menuju pola pengelolaan rutin.

Baca Juga: Selama Dua Dekade Ruko Warung Jambu Bersengketa, Ahli Waris Istri Pertama Ancam Bakal Ambil Langkah Pidana

Perwakilan Satgas Pengawal Indonesia Emas Han Pangan Korem 061/Suryakancana, Kapt. Inf. Wawan, menyebut setiap kelompok telah mendapatkan tanggung jawab masing-masing.

“Setiap kelompok memiliki tugas masing-masing sehingga pekerjaan bisa berjalan bersama dan hasilnya dapat kita jaga,” kata Wawan, Selasa (22/9/2026).

 

Bukan Cuma untuk Menghasilkan Pangan

Pengembangan Bomang juga mulai memiliki fungsi lain.

Pada September 2026, kawasan tersebut untuk pertama kalinya digunakan sebagai lokasi eduwisata ketahanan pangan dengan kunjungan 253 siswa dari sekolah di sekitar Bomang.

Para siswa dikenalkan pada tanaman, pertanian dan pemeliharaan lingkungan secara langsung.

Artinya, apabila seluruh konsep pengembangan berjalan sesuai rencana, fungsi kawasan Bomang akan berlapis.

Baca Juga: UYC 2026 Kick Off di IPB University, PHE Ajak Mahasiswa Kenali Industri Hulu Migas

Ada lahan produksi, area percontohan pertanian, ruang edukasi, pengembangan peternakan dan perikanan, serta dukungan sistem tata air.

Kawasan itu juga berada di koridor Jalan Bojonggede–Kemang sepanjang sekitar delapan kilometer yang tengah dikembangkan menjadi jalur strategis penghubung menuju kawasan Cibinong.

 

Tantangannya: Bukan Menanam, tetapi Menjaga Tetap Produktif

Fase berikutnya justru menjadi bagian penting.

Membuka dan menanam lahan dapat dilakukan dalam waktu tertentu, tetapi menjaga puluhan area tetap produktif membutuhkan sistem penyiraman, tata air, pemupukan, tenaga pengelola hingga kepastian pemanfaatan hasil produksi.

Karena itu, aktivitas rutin yang terlihat sederhana seperti menyiram tanaman, membuat bedengan dan meratakan tanah menjadi penentu apakah kawasan Bomang benar-benar dapat berkembang sesuai konsep awal atau hanya produktif pada tahap pembukaan.

Baca Juga: TP PKK Kota Bogor Gandeng RRI Perkuat Sinergi Penyebarluasan Informasi Program Pemerintah ke Masyarakat

Perawatan intensif sepanjang September menunjukkan kawasan tersebut kini mulai memasuki fase itu.

Dari lahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan, Bomang tengah diarahkan menjadi kawasan dengan satu target besar: lahan harus terus menghasilkan, bukan sekadar selesai ditanami.