POJOKBOGOR.id – Gerakan Tanam Cabai Serentak yang digulirkan TP-PKK Kabupaten Bogor datang pada momentum yang menarik.

Di saat masyarakat didorong menanam cabai mulai dari pekarangan rumah, harga cabai rawit merah di Kabupaten Bogor justru sedang bergerak naik.

Data monitoring Perumda Pasar Tohaga menunjukkan harga cabai rawit merah tercatat Rp59.603 per kilogram pada 2 September 2026.

Baca Juga: Lahan Tidur Bomang Diubah Jadi Laboratorium Pertanian Modern, Perawatan Kini Dikebut

Delapan hari kemudian, pada 10 September, angkanya naik menjadi Rp68.032 per kilogram. Hingga 18 September 2026, harga kembali naik menjadi Rp68.667 per kilogram.

Artinya, dalam kurun sekitar dua pekan, kenaikannya mencapai sekitar Rp9.064 per kilogram atau 15,2 persen.

Di tengah kondisi tersebut, Ketua TP-PKK Kabupaten Bogor Eva Rudy Susmanto mengajak kader PKK hingga masyarakat di tingkat kecamatan, desa dan kelurahan untuk mulai menanam cabai secara mandiri.

Baca Juga: 592 Meter Saluran Cogreg Dinormalisasi, Bagian dari Upaya Hidupkan Kembali Aliran Air Bogor Utara

Gerakan dilaksanakan serentak pada Selasa, 22 September 2026, dengan titik utama di Sekretariat TP-PKK Kabupaten Bogor.

 

Kenapa yang Dipilih Cabai?

Pemilihan cabai bukan tanpa alasan.

Cabai merupakan salah satu komoditas yang dekat dengan kebutuhan dapur sehari-hari, tetapi harganya juga sangat mudah berubah ketika produksi ataupun pasokan terganggu.

Eva mengatakan keluarga sebenarnya dapat mengambil peran dari lingkungan terkecil dengan menanam sebagian kebutuhan sendiri.

“Tidak harus dimulai dalam skala besar. Kita bisa menanam untuk kebutuhan sendiri, untuk keluarga,” kata Eva Rudy Susmanto, Selasa (22/9/2026).

Baca Juga: Mayat Pria Penuh Luka Ditemukan di Leuwisadeng, Isu Penggerebekan Narkoba Menguat

Menurut Eva, menanam cabai sendiri dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan penuh keluarga terhadap pasar ketika harga sedang bergerak naik.

“Ketika harga cabai meningkat, kita tidak harus sepenuhnya bergantung pada pasar,” ujar Eva, Selasa (22/9/2026).

Gerakan tersebut menjadi bagian dari program TP-PKK Kabupaten Bogor pada bidang penguatan ketahanan keluarga.

 

Harga Cabai Naik Bukan Cuma di Bogor

Pergerakan harga cabai ternyata tidak hanya terjadi di Kabupaten Bogor.

Badan Pusat Statistik mencatat pada pekan ketiga September 2026, kenaikan harga cabai rawit terjadi di 265 kabupaten/kota atau sekitar 73,61 persen wilayah yang dipantau.

Harga cabai rawit secara nasional juga tercatat meningkat 29,85 persen hingga pekan ketiga September.

Rata-rata nasional ketika itu mencapai Rp77.596 per kilogram, sementara Harga Acuan Penjualan berada pada Rp57.000 per kilogram.

Baca Juga: Kenapa Jalan Tegar Beriman Belum Dikerjakan? Rekonstruksi Total Masih Disiapkan Lewat IJD

Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana cabai menjadi komoditas pangan yang sensitif terhadap perubahan pasokan.

Badan Pangan Nasional sebelumnya juga mencatat rata-rata nasional harga cabai rawit telah mencapai Rp81.052 per kilogram pada 10 September 2026.

 

Pemerintah Pusat Sampai Siapkan Distribusi Cabai

Tekanan harga cabai membuat pemerintah pusat ikut melakukan intervensi.

Badan Pangan Nasional bersama Kementerian Pertanian menyiapkan Fasilitasi Distribusi Pangan untuk memindahkan pasokan dari wilayah surplus menuju daerah yang mengalami kekurangan atau lonjakan harga.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional I Gusti Ketut Astawa mengatakan dinamika harga dan pasokan cabai perlu segera direspons.

“Kita ingin melihat wilayah mana yang dapat kita dukung melalui FDP,” kata Ketut pada Jumat (11/9/2026).

Baca Juga: Sempat Dikeramatkan, Misteri Mata Air Merah di Gunung Sindur Kemungkinan Akibat Kain Luntur

Badan Pangan Nasional mencatat sejumlah faktor dapat memengaruhi fluktuasi harga cabai, mulai dari kemarau berkepanjangan, gangguan organisme tanaman hingga petani yang berpindah menanam komoditas lain.

Produksi cabai rawit nasional pada September sendiri diperkirakan sekitar 119 ribu ton. Pemerintah menilai produksi masih cukup hingga akhir tahun, tetapi distribusi tetap perlu dijaga untuk mengantisipasi gejolak harga.

 

Dari Kecamatan Sampai Desa Diminta Ikut Menanam

Di Kabupaten Bogor, pendekatan yang dilakukan TP-PKK bergerak dari sisi rumah tangga.

Penanaman secara simbolis diawali dengan penyerahan bibit kepada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bogor serta perwakilan TP-PKK kecamatan.

Gerakan kemudian dilakukan serentak melalui jaringan TP-PKK kecamatan, desa dan kelurahan.

Perwakilan TP-PKK Kecamatan Cibinong, Bojonggede, Tajurhalang, Babakan Madang, Parung, Kemang dan Sukaraja ikut hadir dalam kegiatan tersebut.

Baca Juga: Setelah 79 Bangli Dibongkar, Rekayasa Lalu Lintas Pasar Cisarua Disiapkan

Sejumlah perangkat daerah juga dilibatkan, mulai DPMD, Dinas Perikanan dan Peternakan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan hingga Dinas Ketahanan Pangan.

Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor turut menghadirkan Mobil Alih Teknologi dan Informasi atau Mobil ATI sebagai sarana edukasi dan informasi kepada masyarakat.

 

Bukan Sekadar Tanam Ramai-Ramai

Tantangan terbesar gerakan ini justru muncul setelah kegiatan serentak berakhir.

Bibit yang ditanam harus dirawat sampai tumbuh dan menghasilkan.

Karena itu Eva meminta kader PKK tidak menjadikan gerakan tersebut hanya sebagai kegiatan simbolis.

“Gerakan ini tidak berhenti pada satu kegiatan,” kata Eva Rudy Susmanto, Selasa (22/9/2026).

Pekarangan rumah, lingkungan kantor, sekolah maupun lahan lain yang masih tersedia didorong menjadi ruang produksi pangan sederhana.

Baca Juga: Selama Dua Dekade Ruko Warung Jambu Bersengketa, Ahli Waris Istri Pertama Ancam Bakal Ambil Langkah Pidana

Keberhasilan gerakan pun tidak hanya dapat dihitung dari berapa banyak bibit yang dibagikan pada hari pelaksanaan, tetapi berapa banyak tanaman yang berhasil hidup, berbuah, kemudian benar-benar digunakan keluarga.

Dari Cabai untuk Ketahanan Dapur

Gerakan menanam cabai tentu tidak serta-merta membuat harga pasar turun.

Skala produksi rumah tangga juga berbeda dengan kebutuhan pasar Kabupaten Bogor yang dihuni jutaan penduduk.

Namun, bagi keluarga yang berhasil merawat beberapa tanaman sampai produktif, kebutuhan cabai untuk dapur dapat dipenuhi sebagian tanpa harus selalu membeli.

Di sinilah gerakan tersebut mengambil posisi.

Baca Juga: TP PKK Kota Bogor Gandeng RRI Perkuat Sinergi Penyebarluasan Informasi Program Pemerintah ke Masyarakat

Di tengah harga cabai yang bisa berubah dalam hitungan minggu, ketahanan pangan keluarga coba dimulai dari sesuatu yang sangat dekat: pekarangan rumah dan kebutuhan dapur sendiri.

Dari satu pot cabai, TP-PKK Kabupaten Bogor ingin membangun kebiasaan yang lebih besar—menanam, merawat, memanen, kemudian mengurangi ketergantungan terhadap pasar untuk sebagian kebutuhan pangan keluarga.