BOGOR.POJOKSATU.id - Kabupaten Bogor bakal memiliki destinasi agrowisata baru yang menarik bagi pecinta durian sekaligus masyarakat yang ingin belajar mengembangkan usaha perkebunan.

Lahan seluas 3,5 hektare di Desa Cogrek, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, tengah dipersiapkan menjadi kawasan eduwisata durian sekaligus pusat pembelajaran budidaya durian.

Kawasan tersebut dirancang sebagai proyek percontohan atau pilot project yang nantinya dapat menjadi tempat belajar bagi para pekebun durian dari berbagai wilayah Indonesia.

Konsultan durian, Syahril M Said, mengatakan pengembangan kawasan tersebut tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga memberikan pengetahuan mengenai teknik budidaya durian.

“Yang kita rencanakan adalah bikin kebun eduwisata untuk durian. Selain eduwisata, kebun ini juga kita fokuskan untuk tempat pembelajaran bagi pekebun-pekebun durian di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Dalam pengembangannya, lahan seluas 3,5 hektare tersebut akan ditanami sebanyak 200 pohon durian dengan jarak tanam sekitar 12 meter.

Penataan kebun dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pertumbuhan tanaman serta pembangunan sejumlah fasilitas pendukung.

Fasilitas yang direncanakan antara lain rumah singgah, akses jalan, hingga gudang untuk menunjang kegiatan perkebunan.

Menariknya, kebun tersebut akan menghadirkan berbagai varietas durian unggulan dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

Untuk varietas lokal, pengelola memilih durian Matahari asal Bogor, Taibabi, serta Supertebaga.

Sementara varietas dari Malaysia meliputi Musang King dan Bulu Hitam. Adapun varietas asal Thailand yang akan dibudidayakan adalah Kanjau.

Kehadiran beragam jenis durian tersebut diharapkan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin mengenal karakteristik masing-masing varietas.

Syahril memperkirakan tanaman durian di kawasan tersebut mulai menghasilkan buah dalam waktu sekitar tiga tahun.

Target itu dinilai memungkinkan karena bibit pohon yang digunakan sudah memiliki ukuran relatif besar.

“Karena pohon yang kita tanam agak besar, kita berharap tiga tahun sudah mulai panen,” ungkapnya.

Meski demikian, hasil panen tetap bergantung pada pertumbuhan tanaman dan pengelolaan kebun selama masa pemeliharaan.

Sambil menunggu pohon durian memasuki masa produktif, pengelola menerapkan sistem pertanian tumpangsari untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan.

Sejumlah komoditas pertanian lain turut dikembangkan, mulai dari melon yang dibudidayakan menggunakan rumah kaca atau greenhouse, hingga sayuran, jagung, dan tomat.