CIOMAS, POJOKBOGOR.id - Siapa sangka, salah satu sumber air di Kabupaten Bogor pernah memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan air minum Batavia pada masa kolonial.

Sumber air tersebut dikenal sebagai Mata Air Ciburial yang berada di Kelurahan Pagelaran, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor.

Terletak di kawasan kaki Gunung Salak, mata air ini menjadi bagian dari sejarah pembangunan jaringan air minum yang menghubungkan Bogor dengan Batavia.

Lebih dari satu abad lalu, pemerintah Hindia Belanda memanfaatkan sumber air tersebut melalui sistem perpipaan untuk memasok air ke Batavia.

Jejak sejarah itu masih dapat ditelusuri melalui sejumlah bangunan tua yang dahulu menjadi bagian dari jaringan distribusi air.

Keberadaan Mata Air Ciburial menjadi salah satu warisan penting yang memperlihatkan hubungan panjang antara Kabupaten Bogor dan Jakarta.

Mata Air Ciburial Jadi Bagian dari Sejarah Air Minum Batavia

Sejarah pemanfaatan Mata Air Ciburial berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan air bersih di Batavia pada awal abad ke-20.

Saat itu, pemerintah kolonial mulai mengembangkan jaringan penyediaan air dengan memanfaatkan sumber mata air dari kawasan Bogor.

Berdasarkan catatan sejarah PAM JAYA, pengembangan sistem penyediaan air dari Ciburial berlangsung sekitar 1918 hingga 1920.

Proyek tersebut melibatkan pembangunan jaringan perpipaan dan fasilitas pendukung untuk mengalirkan air menuju Batavia.

Kemudian, pada 23 Desember 1922, air dari Ciburial untuk pertama kalinya dialirkan ke Batavia melalui jaringan tersebut.

Peristiwa bersejarah ini menjadi salah satu tonggak perkembangan layanan air minum perpipaan di Jakarta.

Bahkan, tanggal 23 Desember kemudian diperingati sebagai hari lahir PAM JAYA.

Dengan demikian, sejarah penyediaan air minum Jakarta tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sumber air di Kabupaten Bogor.

Dari Ciomas, Air Mengalir Melalui Bogor dan Cibinong

Perjalanan air dari Mata Air Ciburial menuju Batavia melewati sejumlah fasilitas yang dibangun pada masa Hindia Belanda.

Salah satu bangunan bersejarah tersebut adalah Kelder Air Mancur yang berada di kawasan Kota Bogor.

Bangunan ini menjadi bagian dari sistem pengaturan dan distribusi air sebelum alirannya diteruskan menuju wilayah lain.

Selanjutnya, jaringan perpipaan melewati Gardu Kelder Cibinong di Kabupaten Bogor.

Keberadaan gardu tersebut memiliki fungsi penting dalam sistem penyaluran air menuju kawasan Jakarta.

Dari Cibinong, jaringan air berlanjut ke arah Pasar Rebo, Jakarta Timur, sebelum terhubung dengan sistem distribusi di Batavia.

Rangkaian infrastruktur tersebut menjadi bukti perkembangan teknologi penyediaan air pada masa kolonial.

Menariknya, beberapa bangunan peninggalan itu masih dapat ditemukan dan menjadi bagian dari warisan sejarah daerah.

Kelder Air Cibinong Ditetapkan sebagai Cagar Budaya

Nilai sejarah jaringan air dari Bogor turut mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Bogor.

Pada 31 Desember 2025, Bupati Bogor Rudy Susmanto meresmikan Kelder Air Cibinong sebagai cagar budaya.

Peresmian tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya melindungi peninggalan infrastruktur air bersejarah.

Dalam keterangannya, Rudy menilai Kelder Air Cibinong memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah daerah.

"Kelder Air Cibinong adalah sumber mata air kehidupan yang menghubungkan Istana Bogor dan Istana Merdeka Jakarta," ungkap Rudy Susmanto.

Menurutnya, bangunan tersebut bukan sekadar peninggalan lama, melainkan bagian dari sejarah pelayanan air yang menghubungkan dua wilayah.

Karena itu, keberadaannya perlu dijaga agar nilai sejarahnya tidak hilang seiring perkembangan zaman.

Pelestarian bangunan tersebut sekaligus menjadi langkah untuk memperkenalkan warisan sejarah Kabupaten Bogor kepada masyarakat.

Mata Air Ciburial Kini Menjadi Bagian dari Warisan Budaya Bogor

Upaya menjaga peninggalan sejarah juga dilakukan terhadap kawasan Mata Air Ciburial.

Pada 2025, Pemerintah Kabupaten Bogor menetapkan bangunan dan instalasi Mata Air Ciburial sebagai cagar budaya.

Penetapan tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki nilai penting dalam sejarah penyediaan air bersih.

Selain menjadi peninggalan sejarah, Mata Air Ciburial masih memiliki manfaat sebagai sumber air yang dikelola Perumda Air Minum Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor.

Namun, pemanfaatan air saat ini telah mengalami perubahan dibandingkan sistem distribusi pada masa kolonial.

Karena itu, jaringan bersejarah yang dahulu mengalir menuju Batavia tidak dapat disamakan dengan sistem pelayanan air yang digunakan sekarang.

Di sisi lain, pelestarian kawasan juga memerlukan perhatian terhadap kondisi lingkungan sekitar.

Keberlanjutan sumber air menjadi bagian penting dalam menjaga manfaat Ciburial bagi masyarakat.

Rudy Susmanto Dorong Pelestarian Bangunan Bersejarah

Pemerintah Kabupaten Bogor menaruh perhatian terhadap peninggalan infrastruktur air yang memiliki nilai sejarah.

Selain Kelder Air Cibinong, pemerintah daerah juga mendukung pelestarian Kelder Air Mancur di Kota Bogor.

Dalam peresmian Kelder Air Mancur sebagai cagar budaya pada Agustus 2025, Rudy Susmanto menegaskan pentingnya menjaga manfaat bangunan bersejarah.

"Kelder ini harus terus memberikan manfaat, untuk masyarakat, serta terus mendukung pergerakan ekonomi," tegas Rudy.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa bangunan peninggalan masa lalu dapat tetap memiliki peran dalam kehidupan masyarakat.

Pelestarian sejarah tidak hanya berkaitan dengan menjaga bentuk fisik bangunan, tetapi juga mengenalkan nilai dan cerita di balik keberadaannya.

Melalui upaya tersebut, peninggalan infrastruktur air diharapkan dapat menjadi sumber pembelajaran sejarah bagi masyarakat Kabupaten Bogor.

Ciburial, Sisi Istimewa Bogor yang Menyimpan Cerita Lebih dari Satu Abad

Mata Air Ciburial menjadi pengingat bahwa sejarah besar terkadang berawal dari tempat yang terlihat sederhana.

Dari sebuah sumber air di Kecamatan Ciomas, lahir jaringan infrastruktur yang pernah membantu memenuhi kebutuhan air minum Batavia.

Jejaknya melintasi Kota Bogor, Cibinong, hingga kawasan Jakarta dan menjadi bagian dari perkembangan pelayanan air pada masa Hindia Belanda.

Kini, lebih dari satu abad setelah aliran pertama pada 23 Desember 1922, kawasan Ciburial masih menyimpan nilai sejarah yang penting untuk dikenali.

Keberadaannya juga menunjukkan bahwa Kabupaten Bogor memiliki peran dalam perkembangan wilayah sekitarnya sejak masa lalu.

Cerita ini bukan sekadar tentang air yang pernah mengalir menuju Batavia, melainkan tentang hubungan sejarah, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.