POJOKBOGOR.id – Normalisasi Saluran Sasak Sekunder Cogreg di Desa Cogreg, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, terus berjalan.

Dalam 13 hari pengerjaan, pemerintah mencatat sekitar 592 meter saluran telah ditangani hingga Selasa, 22 September 2026.

Namun pekerjaan di Cogreg bukan sekadar pengerukan saluran di satu desa.

Normalisasi tersebut merupakan bagian dari rangkaian penataan jaringan air di wilayah utara Kabupaten Bogor yang sejak pertengahan 2026 diarahkan untuk mengurangi risiko genangan dan banjir sekaligus mengembalikan fungsi saluran irigasi.

Pemerintah Kabupaten Bogor sebelumnya menyebut penataan jaringan air di Kecamatan Rancabungur, Kemang, Ciseeng, dan Parung berpotensi mengaktifkan kembali sekitar 70–80 persen saluran yang selama ini mengalami penyumbatan.

Baca Juga: Kenapa Jalan Tegar Beriman Belum Dikerjakan? Rekonstruksi Total Masih Disiapkan Lewat IJD

Saluran Sasak Sekunder Cogreg sendiri memiliki panjang sekitar 4 kilometer. Sekitar 2 kilometer melintasi wilayah irigasi Desa Cogreg, Kecamatan Parung, dan 2 kilometer lainnya berada di wilayah Ciseeng.

 

13 Hari, Pekerjaan Capai 592 Meter

Camat Parung Adhi Nugraha mengatakan monitoring dilakukan langsung untuk memastikan progres pekerjaan sekaligus mendeteksi persoalan teknis di lapangan.

“Monitoring ini kami lakukan untuk melihat langsung perkembangan pekerjaan normalisasi di lapangan,” kata Adhi Nugraha, Selasa (22/9/2026).

Menurutnya, pengerjaan berlangsung pada Saluran Sasak Sekunder Cogreg sekaligus Saluran Inlet Setu Cogreg.

Untuk wilayah Parung, normalisasi Saluran Sasak Sekunder Cogreg dilakukan sepanjang sekitar 2 kilometer, mulai dari depan Sekolah Muhammadiyah hingga Masjid Al Barkah di samping pintu masuk KURI.

Baca Juga: Mayat Pria Penuh Luka Ditemukan di Leuwisadeng, Isu Penggerebekan Narkoba Menguat

Pemerintah mencatat progres keseluruhan hingga Selasa mencapai sekitar 592 meter.

Pekerjaan di antaranya dilakukan dari titik nol di depan Sekolah Muhammadiyah sepanjang 272 meter serta dari kawasan Masjid Jami Nur Muhammad Cogreg menuju Masjid Al Barkah atau pintu masuk KURI.

 

Alat Berat Sempat Mengalami Kendala

Dalam proses normalisasi, pekerjaan tidak seluruhnya berjalan tanpa hambatan.

Adhi mengungkapkan terdapat kendala teknis berupa kerusakan alat berat excavator ketika pekerjaan telah mencapai kawasan Perumahan Lembah Bukit Calincing.

“Memang terdapat kendala teknis berupa kerusakan alat berat excavator, tetapi saat ini sedang dilakukan perbaikan,” ujar Adhi, Selasa (22/9/2026).

Perbaikan alat dilakukan agar normalisasi dapat kembali dilanjutkan menuju titik berikutnya.

Baca Juga: Sempat Dikeramatkan, Misteri Mata Air Merah di Gunung Sindur Kemungkinan Akibat Kain Luntur

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa monitoring lapangan terus dilakukan selama pekerjaan berlangsung, sehingga hambatan teknis dapat segera ditindaklanjuti.

 

Inlet Setu Cogreg Tinggal Puluhan Meter

Pekerjaan juga menyasar Saluran Irigasi Inlet Setu Cogreg.

Panjang saluran yang ditangani mencapai sekitar 350 meter, mulai dari titik nol kawasan Perumahan Bukit Parung Permai Cogreg hingga Setu Cogreg.

Hingga Selasa, 22 September 2026, sekitar 300 meter telah ditangani secara manual dengan melibatkan 26 pekerja.

Sisa saluran sekitar 50 meter berada dari sekitar Jembatan Cogreg menuju Setu Cogreg.

Baca Juga: Setelah 79 Bangli Dibongkar, Rekayasa Lalu Lintas Pasar Cisarua Disiapkan

Pengerjaan di titik tersebut dilakukan secara manual karena kondisi medan tidak memungkinkan alat berat masuk ke seluruh bagian saluran.

 

Bukan Program Dadakan

Normalisasi di Cogreg memiliki kaitan dengan agenda penanganan air yang lebih luas di Kabupaten Bogor.

Pada Juni 2026, Pemkab Bogor telah membahas normalisasi saluran irigasi Salabenda–Ciseeng–Parung sebagai bagian dari upaya penanganan banjir wilayah utara.

Kawasan Rancabungur, Kemang, Ciseeng hingga Parung menjadi perhatian karena sejumlah jaringan saluran mengalami penyumbatan dan sudah cukup lama tidak dinormalisasi.

Bupati Bogor Rudy Susmanto saat rapat koordinasi pada Senin (22/6/2026) menegaskan bahwa pemerintah ingin fungsi jaringan air dikembalikan sesuai peruntukannya.

Baca Juga: Selama Dua Dekade Ruko Warung Jambu Bersengketa, Ahli Waris Istri Pertama Ancam Bakal Ambil Langkah Pidana

“Kita betul-betul ingin melakukan normalisasi sungai, mengembalikan fungsi lahan sesuai dengan ketentuan awalnya,” ujar Rudy Susmanto, Senin (22/6/2026).

Pemkab saat itu menyebut normalisasi di wilayah Bogor Utara berpotensi mengaktifkan kembali sekitar 70–80 persen saluran air yang tersumbat.

Penanganannya tidak hanya diarahkan untuk mengurangi banjir, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan kawasan perikanan.

Baca Juga: UYC 2026 Kick Off di IPB University, PHE Ajak Mahasiswa Kenali Industri Hulu Migas

 

Air Dibutuhkan Saat Hujan maupun Kemarau

Fungsi saluran menjadi penting bukan hanya ketika curah hujan tinggi.

Pada musim kemarau, jaringan yang sama dibutuhkan untuk menjaga distribusi air menuju lahan pertanian dan kawasan perikanan.

Wilayah Ciseeng, Kemang, Parung, dan Rancabungur merupakan bagian dari kawasan perikanan dengan sekitar 200 hektare kolam yang ikut bergantung pada ketersediaan dan kelancaran air.

“Ketika musim kemarau tiba, sawah tetap mendapatkan air dan sentra perikanan tetap bisa berproduksi,” ujar Rudy Susmanto, Kamis (2/7/2026).

Baca Juga: TP PKK Kota Bogor Gandeng RRI Perkuat Sinergi Penyebarluasan Informasi Program Pemerintah ke Masyarakat

Karena itu, normalisasi tidak hanya berbicara tentang membuang lumpur atau membersihkan semak.

Tujuannya adalah mengembalikan kapasitas saluran agar air dapat bergerak dari hulu ke hilir dengan lebih lancar, baik ketika debit meningkat pada musim hujan maupun ketika pasokan air harus dijaga pada musim kemarau.

Cogreg Jadi Kelanjutan Normalisasi Bogor Utara

Sebelum pekerjaan bergerak ke Saluran Sasak Sekunder Cogreg, normalisasi lebih dahulu dilakukan pada sejumlah jaringan air di kawasan Kemang.

Penataan kemudian berlanjut menuju Ciseeng dan Parung secara bertahap.

Dengan panjang Saluran Sasak Sekunder Cogreg sekitar 4 kilometer, pekerjaan 592 meter yang tercatat hingga 22 September menunjukkan normalisasi masih berlanjut ke titik-titik berikutnya.

Baca Juga: Tak Jadi Ditutup, Perlintasan Gaperi 'Naik Kelas': Palang Bambu Diganti, Pos dan Petugas Resmi Disiapkan

Pemantauan terhadap kondisi alat berat, medan, sedimentasi hingga akses menuju saluran menjadi bagian yang menentukan kecepatan pengerjaan.

Normalisasi Cogreg pada akhirnya menjadi satu bagian dari pekerjaan yang lebih panjang: mengembalikan jaringan saluran Bogor Utara agar kembali berfungsi untuk pengendalian air, irigasi, dan aktivitas masyarakat.