BOGOR, POJOKBOGOR.id – Kawasan Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, berubah menjadi arena berkumpulnya peternak dan sapi-sapi unggulan dari berbagai daerah pada Sabtu–Minggu, 3–4 Oktober 2026.

Kontes Sapi Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia (APPSI) Piala Presiden 2026 digelar di Lapangan Panahan Stadion Pakansari.

Kementerian Pertanian memasukkan pembukaan kontes tersebut dalam agenda resminya pada Sabtu, 3 Oktober 2026, dengan lokasi Lapangan Panahan Stadion Pakansari, Bogor.

Dari permukaan, magnet utama acara ini memang mudah terlihat: sapi berukuran besar, peternak dari berbagai daerah, serta kompetisi untuk menentukan ternak terbaik.

Baca Juga: Sapi 1,4 Ton Juara 9 Kali Bersiap ke Pakansari, Kontes Piala Presiden 2026 Bukan Sekadar Adu Bobot, Cek Jadwalnya

Namun konteks Kabupaten Bogor membuat kontes kali ini memiliki arti yang lebih besar.

Kurang dari dua bulan sebelumnya, Pemkab Bogor baru meresmikan Pasar Hewan Jonggol yang mampu menampung sekitar 500–700 sapi dan kerbau serta 200–250 kambing dan domba.

Pakansari menjadi panggungnya.

Jonggol mulai dibangun sebagai pasar dan titik transaksinya.

Pertanyaannya, apakah dua momentum tersebut bisa benar-benar disambungkan menjadi ekosistem peternakan yang menguntungkan peternak?

 

Rudy Susmanto Sudah Umumkan Kontes Sejak September

Bupati Bogor Rudy Susmanto sebelumnya mengumumkan Kabupaten Bogor akan menjadi tuan rumah kegiatan tersebut.

“Kurang lebih 2 minggu lagi kita akan menggelar kontes sapi APPSI Piala Presiden di tanggal 3 dan 4 Oktober 2026,” ujar Rudy Susmanto, Senin (21/9/2026).

Kontes selama dua hari itu mempertemukan sapi unggulan dari berbagai daerah.

Keberadaan peserta luar daerah menjadi penting karena kontes peternakan bukan hanya membandingkan ukuran hewan.

Baca Juga: Polres Bogor Kurbankan 30 Sapi dan 23 Kambing di Idul Adha 1447 H

Di belakang seekor sapi yang tampil terdapat proses pemilihan bakalan, pengaturan pakan, kesehatan, pemeliharaan, penggemukan hingga strategi pemasaran.

Semua metode tersebut bertemu di satu arena.

 

Sapi 1,4 Ton Ikut Mencuri Perhatian

Salah satu sapi yang sudah menarik perhatian sebelum gelaran dimulai adalah Sapu Jagat.

Sapi tersebut memiliki bobot sekitar 1,4 ton dan sebelumnya sudah sembilan kali meraih gelar dalam berbagai kontes sapi.

Sapu Jagat dipersiapkan untuk bersaing pada Piala Presiden di Bogor.

Kehadiran sapi dengan bobot lebih dari satu ton memang efektif menarik masyarakat datang ke lokasi.

Namun ukuran tubuh bukan satu-satunya nilai dari kontes ternak.

Baca Juga: Sapi dari Presiden Prabowo Dikurbankan di Masjid Nurul Wathon Pakansari

Kementerian Pertanian sebelumnya menilai kegiatan seperti ini memiliki fungsi lebih luas karena mempertemukan peternak, membuka transfer pengalaman dan memperluas akses pasar.

 

Kementan: Kontes Jadi Pemicu Peternak Meningkatkan Kualitas

Dalam gelaran APPSI sebelumnya di Wonosobo, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut kontes sapi sebagai pemicu bagi peternak untuk meningkatkan kualitas ternaknya.

“Kontes ini menjadi trigger. Gengsi antar peternak harus kita pelihara supaya gayeng,” kata Sudaryono, Sabtu (25/4/2026).

Kementerian Pertanian menempatkan kontes sebagai ruang bertukar pengalaman, peningkatan kualitas ternak sekaligus perluasan akses pasar.

Artinya, ukuran keberhasilan kegiatan seperti Piala Presiden tidak semestinya hanya dihitung dari jumlah pengunjung atau ukuran sapi pemenang.

Dampak yang lebih panjang berada pada apa yang dibawa pulang oleh para peternak setelah acara selesai.

Baca Juga: Kabupaten Bogor Kebagian Sapi Limusin dari Presiden Prabowo Subianto untuk Dikurbankan

Apakah mereka memperoleh pembeli baru?

Apakah mengetahui teknik pakan yang lebih efektif?

Apakah mendapat akses kesehatan hewan?

Atau menemukan jaringan perdagangan baru?

 

Peternak Datang untuk Belajar, Bukan Sekadar Bertanding

Ketua Umum APPSI Ahmad Muzani juga pernah menekankan fungsi tersebut.

Dalam kontes APPSI pada April 2026, ia mengatakan arena kontes menjadi tempat pertemuan antarpeternak untuk berbagi cara meningkatkan kualitas ternak.

“Ini arena untuk mempertemukan peternak yang satu dengan yang lain, saling bertukar informasi bagaimana meningkatkan bobot sapi dan mengatasi penyakit,” ujar Ahmad Muzani, Sabtu (25/4/2026).

Baca Juga: Ketua DPRD Kabupaten Bogor Rudy Susmanto Bagikan 48 Sapi Kurban dari Prabowo Subianto

Isu kesehatan tersebut menjadi relevan dalam sebuah kontes berskala nasional.

Sapi datang dari wilayah berbeda dengan pola pemeliharaan dan kondisi lingkungan yang berbeda pula.

Karena itu, kompetisi ternak idealnya juga berjalan bersama standar kesehatan, biosekuriti, serta pemeriksaan hewan yang memadai.

 

Sapi Lokal Juga Dapat Panggung

Di tengah sorotan terhadap sapi jumbo, kehadiran sapi lokal juga menjadi bagian penting.

Seekor Peranakan Ongole asal Kebumen telah dibawa ke Pakansari untuk mengikuti kontes.

Pemiliknya mengaku melakukan persiapan sekitar tujuh hari sebelum keberangkatan dengan fokus menjaga kondisi ternak tetap sehat.

“Saya persiapkan tujuh hari sebelum berangkat ke sini. Sapinya sudah saya siapkan supaya sehat semua,” ujar salah seorang peserta, Jumat (2/10/2026).

Baca Juga: Tiga Ekor Sapi Milik Warga Ciomas Raib Digondol Maling

Peternak tersebut berharap keikutsertaan sapi lokal dapat mendorong pengembangan ternak di daerahnya.

Hal ini memperlihatkan kontes juga menjadi panggung pembuktian bahwa sapi lokal tetap memiliki ruang untuk bersaing di tengah popularitas sapi persilangan dan sapi berbobot ekstrem.

 

Dua Bulan Sebelumnya, Bogor Baru Buka Pasar Hewan Jonggol

Ada konteks lokal yang membuat Kontes Piala Presiden di Pakansari menarik.

Pada Kamis, 6 Agustus 2026, Pemkab Bogor meresmikan Pasar Hewan Bogor di Kecamatan Jonggol.

Pasar tersebut memiliki kapasitas sekitar:

500–700 ekor sapi dan kerbau

200–250 ekor kambing dan domba

sekitar 70 pedagang dari Kabupaten Bogor maupun luar daerah.

Baca Juga: 13 Ekor Sapi Milik Warga Rumpin, Raib Digondol Maling

Fasilitasnya mencakup ruang transaksi, kandang ternak, pemeriksaan kesehatan hingga hotel hewan.

Pasar beroperasi setiap Senin dan Kamis.

Dengan fasilitas tersebut, Jonggol diarahkan bukan hanya menjadi tempat jual-beli tradisional, tetapi simpul perdagangan ternak yang lebih terorganisir.

 

Dari Kontes di Pakansari ke Transaksi di Jonggol

Hubungan antara dua lokasi tersebut menarik untuk dicermati.

Pakansari menghadirkan jaringan peternak nasional.

Jonggol menyediakan infrastruktur perdagangan ternak.

Jika kedua hal ini terkoneksi, Kabupaten Bogor memiliki peluang memperoleh dampak ekonomi lebih panjang dari penyelenggaraan kontes.

Baca Juga: Program Berkah Daging 2023, PLN Salurkan Ratusan Paket Daging Sapi untuk Masyarakat Kurang Mampu

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor Nurhayati sebelumnya menyebut akses pasar memang menjadi salah satu alasan pembangunan Pasar Hewan Jonggol.

“Pasar Hewan Bogor ini dibangun untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi tata niaga, dan akses pasar bagi para peternak serta pelaku usaha peternakan,” ujar Nurhayati, Selasa (25/8/2026).

Ia menegaskan keberadaan fasilitas pemeriksaan kesehatan juga ditujukan agar perdagangan ternak berlangsung lebih tertib.

“Selain menjadi tempat transaksi, pasar ini juga memiliki fasilitas pemeriksaan kesehatan hewan. Ini penting untuk mendukung perdagangan ternak yang lebih tertib, aman, dan memenuhi aspek kesehatan hewan,” ujar Nurhayati, Selasa (25/8/2026).

Di sinilah kontes nasional dapat memperoleh relevansi yang lebih nyata bagi Kabupaten Bogor.

Bukan hanya sapi terbaik yang datang ke daerah ini, tetapi jaringan orang-orang di belakangnya.

 

Jangan Berhenti Jadi Event Dua Hari

Tantangan terbesar sebuah kontes besar justru muncul setelah panggung dibongkar.

Selama dua hari Pakansari dapat dipenuhi sapi unggulan dan peternak dari berbagai daerah.

Namun nilai ekonominya akan terbatas jika hubungan antara peserta, peternak lokal, pedagang, pasar hewan, tenaga kesehatan hewan dan lembaga pendukung ikut berhenti setelah acara selesai.

Kontes akan memiliki dampak lebih panjang apabila menjadi pintu menuju:

jejaring perdagangan baru, peningkatan kualitas pakan, pembibitan yang lebih baik, pendampingan kesehatan ternak, hingga akses langsung peternak kepada pasar.

Baca Juga: Plt Bupati Bogor Kurbankan Sapi Seberat 900 Kilogram

Kementerian Pertanian sendiri melihat peluang investasi peternakan masih sangat terbuka.

“Saya mengundang investasi di bidang peternakan karena jika Anda pelihara sapi perah, susunya pasti laku, sapi pedaging dagingnya pasti laku,” kata Sudaryono, Sabtu (25/4/2026).

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa sektor ternak tidak sekadar berbicara tentang kompetisi fisik sapi.

Ada pasar daging, susu, pembibitan, pakan, jasa kesehatan, transportasi hingga perdagangan ternak yang ikut bergerak.

 

Pakansari Jadi Etalase, Bogor Punya Kesempatan Lebih Besar

Kontes Sapi Piala Presiden 2026 akhirnya memberikan dua wajah kepada Kabupaten Bogor.

Di Pakansari, masyarakat bisa melihat hasil akhir dari pemeliharaan ternak terbaik.

Sapi jumbo menjadi tontonan.

Sapi lokal mendapat panggung.

Peternak saling membandingkan hasil.

Namun sekitar dua bulan sebelumnya, Bogor juga sudah menyediakan fasilitas untuk tahap yang berbeda: transaksi ternak melalui Pasar Hewan Jonggol.

Karena itu, potensi terbesar acara ini bukan hanya pada siapa yang membawa pulang Piala Presiden.

Baca Juga: Lobi Group Pasok Sapi Qurban Lebih Awal, Berapa Harganya?

Nilainya justru ada pada apa yang terjadi setelahnya.

Jika peternak yang bertemu di Pakansari kemudian terhubung dengan jaringan pasar, fasilitas kesehatan dan perdagangan ternak di Kabupaten Bogor, kontes ini bisa meninggalkan dampak yang jauh lebih panjang daripada keramaian selama dua hari.

Pakansari menjadi etalasenya.

Tantangannya adalah memastikan peternak juga mendapatkan pasarnya.