BOGOR, POJOKBOGOR.id – Bunyi bambu mengambil ruang di Kabupaten Bogor, Sabtu (3/10/2026).

Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 membuka rangkaiannya di Bogor melalui Sangitaloka: Bambu dan Bunyi Ritus, dengan seminar kebudayaan di Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor dan pertunjukan musik tradisi di kawasan Stadion Pakansari, Cibinong.

Namun festival ini membawa persoalan yang lebih besar daripada sekadar menghadirkan angklung, calung, karinding atau suling ke atas panggung.

Salah satu kesenian yang tampil adalah Angklung Gubrag dari Kampung Cipining, Desa Argapura, Kecamatan Cigudeg, kesenian asli Kabupaten Bogor yang sejak 2021 telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Baca Juga: Skandaversary ke-12, Menteri Kebudayaan Kagumi SMKN 2 Cibinong

Angklung Gubrag lahir bukan sebagai musik panggung.

Dalam catatan resmi Warisan Budaya Indonesia, kesenian tersebut hidup bersama siklus pertanian masyarakat, mulai dari menanam padi, membawa hasil panen hingga menyimpan padi ke dalam leuit.

Kini bunyi yang dahulu hadir di sawah dan ruang ritual itu dimainkan di pusat pemerintahan dan Stadion Pakansari.

Di situlah persoalan pelestarian musik tradisi menjadi menarik: ketika ruang hidup aslinya berubah, bagaimana sebuah tradisi tetap bertahan tanpa kehilangan ingatannya?

 

Bogor Jadi Pembuka Rangkaian FMTI 2026

Sangitaloka merupakan bagian dari Festival Musik Tradisi Indonesia 2026 yang digelar di sejumlah wilayah dengan karakter musik berbeda.

Bogor menjadi titik awal rangkaian pada 3 Oktober 2026 dengan tema “Bambu dan Bunyi Ritus”, yang memandang bambu bukan hanya sebagai bahan pembuat instrumen, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sosial, ekologis dan ritual masyarakat.

Agenda Bogor dibagi menjadi dua ruang.

Pada pagi hari digelar seminar “Bambu, Ritus, dan Jejak Musik Tradisi di Bogor dan Tatar Sunda”.

Baca Juga: Dedie Rachim Tegaskan Museum Pajajaran Bukan Sekadar Arsip, tapi Pusat Kebudayaan Sunda

Pembahasannya menghadirkan Ilham Nurwansyah dari EFEO Jakarta, Hudaepah dari ISBI Bandung, praktisi musik Dody Satya Ekagustdiman, serta Muhamad Alnoza dari EFEO Jakarta/Bujangga Manik Society sebagai moderator.

Malamnya, musik tradisi berpindah ke kawasan Pakansari.

Sejumlah kelompok yang dijadwalkan tampil antara lain Angklung Gubrag, Bilik Jasinga, Layung Jagat, Gamelan/Seni Cibatokan, Saung Kalingga, Gamelan Ajeng serta Bajidoran Abot, dengan Rita Tila sebagai bintang tamu.

 

Angklung Gubrag Sudah Diakui sebagai Warisan Budaya

Pemilihan tema bambu dan ritus memiliki hubungan yang sangat dekat dengan sejarah kebudayaan Kabupaten Bogor.

Data resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat Angklung Gubrag ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2021 melalui SK Nomor 372/M/2021.

Kesenian tersebut berasal dari Kampung Cipining, Cigudeg.

Berbeda dengan angklung modern yang lebih banyak dikenal masyarakat sebagai instrumen pertunjukan, Angklung Gubrag sejak awal memiliki hubungan dengan kehidupan agraris.

Ia dimainkan dalam tradisi melak pare atau menanam padi, ngunjal pare atau mengangkut hasil panen, hingga ngadiukkeun pare ka leuit atau menyimpan padi ke lumbung.

Baca Juga: Pelatihan ToT Senam Kebudayaan Indonesia Dilakukan Sambil Peringati Hari Bambu Nasional

Dengan kata lain, bunyinya dahulu tidak berdiri sendiri.

Ada sawah, panen, leuit, keluarga, kepercayaan dan kehidupan kampung yang menjadi ruang hidup kesenian tersebut.

 

Enam Angklung Punya Nama Sendiri

Angklung Gubrag juga memiliki bentuk yang berbeda dari angklung yang umum ditemui saat ini.

Dalam satu perangkat terdapat enam angklung dengan nama masing-masing, yaitu Bibit, Anak Bibit, Engklok 1, Engklok 2, Gonjing dan Panembal.

Instrumennya dibuat menggunakan bambu gombong dan bagian atasnya dihiasi kembang wiru.

Catatan pemerintah juga menyebut susunan nada Angklung Gubrag tidak sama dengan angklung diatonik modern.

Karakter tersebut menjadi salah satu bukti bahwa Angklung Gubrag berkembang dari tradisi musikal yang memiliki sistem dan fungsi sendiri jauh sebelum angklung kemudian berkembang sebagai alat musik pertunjukan populer.

Baca Juga: Daftar Konser Musik Setelah Lebaran 2026, Dari Idol K-Pop hingga Musisi Indonesia Siap Guncang Panggung!

 

Masalahnya: Ruang Hidup Tradisi Ikut Berubah

Di sinilah Sangitaloka menemukan relevansinya.

Dokumen resmi Warisan Budaya Indonesia tidak hanya mencatat keunikan Angklung Gubrag, tetapi juga secara terbuka menjelaskan ancaman terhadap keberlangsungannya.

Salah satu perubahan besar terjadi ketika leuit atau lumbung padi mulai kehilangan fungsi dalam kehidupan masyarakat.

Ketika masyarakat menggunakan cara penyimpanan hasil pertanian yang lebih modern, ritual yang dahulu menyertai penyimpanan padi ikut berkurang.

Perubahan pola pikir masyarakat terhadap kepercayaan agraris juga memengaruhi fungsi Angklung Gubrag sebagai musik ritual.Baca Juga: Tempat Wisata Situ Rawa Gede Bogor Resmi Larang Pengunjung Pasang Musik Keras Hingga DJ Remix

Itu berarti tantangan musik tradisi sebenarnya bukan hanya kekurangan panggung.

Masalah yang lebih mendasar adalah hilangnya konteks sosial tempat musik tersebut dahulu hidup.

 

Dari Sawah ke Panggung Festival

Perubahan tersebut kemudian mendorong Angklung Gubrag memiliki fungsi baru.

Kesenian yang dahulu berhubungan erat dengan ritual padi kini juga dimainkan dalam penyambutan tamu, pernikahan adat, Seren Taun hingga pertunjukan kebudayaan dan pariwisata.

Transformasi itu membuat Angklung Gubrag dapat bertahan ketika masyarakatnya berubah.

Namun ada konsekuensi lain.

Ketika sebuah musik tradisi berpindah dari ruang ritual menuju panggung, generasi baru mungkin mengenali bunyinya tetapi belum tentu memahami mengapa bunyi itu dahulu dimainkan.

Karena itulah FMTI di Bogor tidak hanya menghadirkan pertunjukan.

Baca Juga: Buat Para Penggemar Musik, Ada Jazz Hujan Banjir Musisi di Kota Bogor Sampai Januari 2026

Seminar ditempatkan sebelum panggung musik untuk mempertemukan penelitian, sejarah dan praktik kesenian.

 

Titi: Festival Harus Menambah Pengetahuan, Bukan Cuma Pertunjukan

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor Titi Sugiarti mengatakan seminar Sangitaloka diarahkan menjadi ruang pengetahuan mengenai musik dan kebudayaan tradisi sebelum masyarakat melihat bentuk pertunjukannya.

Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh dari forum tersebut dapat diterjemahkan saat menyaksikan rangkaian musik yang ditampilkan dalam festival.

“Melalui kegiatan hari ini kita dapat bersama-sama menopang pariwisata budaya daerah, khususnya budaya di Kabupaten Bogor,” ujar Titi Sugiarti, Sabtu (3/10/2026).

Ia juga menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Kabupaten Bogor sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan Festival Musik Tradisi Indonesia 2026.

Baca Juga: Musisi Jalanan Kota Bogor Ramaikan Taman Sempur dengan Festival Musik

Bagi daerah, festival membuka peluang agar seni lokal tidak hanya tampil di lingkup komunitas, tetapi bertemu peneliti, praktisi, publik dan jaringan kebudayaan dari luar wilayah.

 

Kabupaten Bogor Punya Lebih dari Angklung Gubrag

Angklung Gubrag bukan satu-satunya musik tradisi yang masih tercatat dalam ekosistem kebudayaan Kabupaten Bogor.

Data Dinas Kebudayaan memasukkan berbagai bentuk seni musik dan pertunjukan, antara lain Gamelan Salendro, Calung, Karinding, Degung, Kliningan, Seni Cibatokan, Gondang, Kecapi Suling hingga Wayang Golek.

Peraturan daerah mengenai pemajuan kebudayaan bahkan mencatat berbagai manuskrip, adat istiadat, ritus hingga pengetahuan tradisional yang masih terdapat di Kabupaten Bogor.

Artinya, tantangan kebudayaan Bogor bukan kekurangan materi.

Baca Juga: Ledakan Musik dan Semangat Rakyat, 15 Ribu Penonton Padati Smartfren Festival 2025 Gelaran Spektakuler XLSMART

Kabupaten ini justru memiliki lapisan tradisi yang sangat beragam.

Persoalannya adalah bagaimana tradisi tersebut tetap memiliki pelaku, ruang belajar dan regenerasi.

 

Angklung Gubrag Saat Ini Masih Punya Tiga Generasi

Ada satu catatan yang cukup penting dalam data Warisan Budaya Indonesia.

Di Kampung Cipining, kelompok Angklung Gubrag tercatat masih memiliki tiga lapisan generasi, yaitu generasi sepuh, generasi muda dan generasi anak-anak.

Pewarisan tersebut sebagian besar berlangsung melalui hubungan keluarga.

Ini menjadi modal penting karena sebuah warisan budaya tidak akan bertahan hanya dengan dokumentasi.

Instrumen bisa disimpan.

Baca Juga: Pertamina Regional JBB Ajak Generasi Muda Lestarikan Budaya Sunda lewat Angklung dan Kuliner Tradisional

Video pertunjukan bisa direkam.

Nama kesenian bisa dimasukkan ke dalam daftar warisan budaya.

Tetapi jika tidak ada generasi berikutnya yang mampu memainkan dan memahami tradisinya, keberlanjutan praktiknya tetap terancam.

 

Festival Bukan Garis Akhir Pelestarian

Inilah tantangan terbesar setelah Sangitaloka selesai.

Festival mampu mempertemukan kesenian tradisional dengan audiens baru.

Pakansari memberi panggung lebih besar.

Seminar menghasilkan pengetahuan.

Media sosial dapat memperluas jangkauannya.

Namun pelestarian baru benar-benar terjadi apabila proses tersebut kembali ke komunitas.

Baca Juga: Gegara Alih Kepemilikan dan Fungsi Lahan, Kesenian Angklung Gubrak Berusia 600 Tahun Terancam Punah

Apakah anak-anak di Cigudeg tetap belajar Angklung Gubrag?

Apakah kelompok musik tradisi mendapat ruang tampil sepanjang tahun?

Apakah dokumentasi teknik permainan, cerita dan pengetahuan para sesepuh dilakukan sebelum pengetahuan tersebut hilang?

Dan apakah generasi muda mengenal musik tradisi sebagai bagian dari kehidupan mereka, bukan hanya sebagai pertunjukan ketika ada festival?

Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih menentukan dibanding seberapa besar panggung yang dibangun selama satu malam.

 

Bambu Bogor Punya Cerita Lebih Panjang dari Festival

Pada akhirnya, tema “Bambu dan Bunyi Ritus” terasa sangat dekat dengan Kabupaten Bogor.

Karena di daerah ini masih hidup Angklung Gubrag yang dahulu dibunyikan ketika masyarakat menanam padi.

Ada Calung.

Ada Karinding.

Ada seni Cibatokan.

Dan masih ada komunitas yang mempertahankan bunyi tersebut lintas generasi.

Baca Juga: Main Angklung dan Himpun Beasiswa, Reuni ala Angkatan 30 IPB

Sangitaloka membawa semua cerita itu ke ruang publik yang lebih besar.

Namun tugas berikutnya justru dimulai ketika lampu panggung mati.

Karena musik tradisi tidak benar-benar lestari hanya ketika dipertontonkan.

Ia lestari ketika masih ada orang yang tahu cara memainkannya, memahami ceritanya, dan mau mengajarkannya kepada generasi berikutnya.