BOGOR, POJOKBOOR.id – Normalisasi Saluran Sasak Sekunder Cogreg di Desa Cogreg, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, ternyata bukan sekadar pekerjaan mengeruk lumpur menggunakan alat berat.

Di sejumlah titik, petugas justru tidak bisa sepenuhnya mengandalkan ekskavator karena terdapat jembatan dan bangunan akses warga yang melintang tepat di atas saluran.

Akibatnya, pekerjaan harus dilakukan dengan dua cara.

Bagian saluran yang terbuka dikeruk menggunakan alat berat. Sementara lumpur dan sampah yang berada di bawah sejumlah jembatan harus dibersihkan secara manual bersama masyarakat.

Baca Juga: Mall BTM Bogor Banjir, Air Masuk ke Dalam Gedung saat Hujan Deras

Saat monitoring pada Jumat (2/10/2026), Camat Parung Adhi Nugraha menyebut terdapat 10 titik jembatan yang menjadi bagian dari penanganan di Desa Cogreg.

Empat titik telah selesai dibersihkan secara gotong royong, sementara satu titik lainnya masih dalam proses pengerjaan.

“Di beberapa titik jembatan, normalisasi dilakukan secara manual bersama masyarakat. Pemilik bangunan yang memiliki jembatan di atas drainase juga ikut membersihkan lumpur dan sampah,” ujar Adhi Nugraha, Jumat (2/10/2026).

Kondisi tersebut memperlihatkan persoalan Saluran Cogreg tidak berhenti pada sedimentasi.

Baca Juga: Bupati Bogor Rudy Susmanto segera Benahi Irigasi Penyebab Banjir di Parung dan Ciseeng

Akses di atas saluran juga menjadi faktor yang menentukan apakah normalisasi bisa dilakukan secara menyeluruh atau tidak.

 

Sebelumnya 16 Jembatan Sudah Dibongkar Warga

Beberapa hari sebelumnya, persoalan akses alat berat sudah terlihat lebih jelas.

Pada monitoring hingga Selasa (29/9/2026), Pemerintah Kecamatan Parung mencatat warga atau pemilik bangunan telah membongkar secara mandiri 16 jembatan yang berada di atas saluran irigasi untuk memberikan ruang bagi proses normalisasi.

Adhi mengatakan pembongkaran tersebut membantu alat berat menjangkau badan saluran.

“Warga atau pemilik bangunan yang memiliki jembatan di atas irigasi turut mendukung dengan melakukan pembongkaran secara mandiri. Ini sangat membantu agar proses normalisasi dapat berjalan lebih optimal,” kata Adhi Nugraha, Selasa (29/9/2026).

Baca Juga: Pemkab Bogor Percepat Penanganan Banjir di Wilayah Utara dengan Normalisasi Saluran Irigasi

Pada bagian yang masih tertutup jembatan, pengerukan menggunakan alat berat tidak selalu memungkinkan.

Pembersihan lumpur dan sampah kemudian dilakukan secara manual.

Catatan 16 jembatan tersebut merupakan data pada tahapan pekerjaan sebelumnya, sedangkan monitoring 2 Oktober secara khusus mencatat penanganan manual pada 10 titik jembatan di Desa Cogreg.

 

Sudah 1,72 Kilometer, Target Parung 2 Kilometer

Normalisasi Saluran Sasak Sekunder Cogreg dilakukan pada ruas sekitar dua kilometer di Kecamatan Parung.

Jalurnya dimulai dari depan Sekolah Muhammadiyah hingga Masjid Al Barkah di sekitar pintu masuk KURI.

Hingga 29 September 2026, pekerjaan telah mencapai 1,72 kilometer, atau sekitar 86 persen dari target ruas Parung.

“Alhamdulillah, sampai hari ini pekerjaan sudah mencapai 1,72 kilometer dan terus kita monitor agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik,” ujar Adhi Nugraha, Selasa (29/9/2026).

Pekerjaan tersebut saat itu sudah berlangsung selama sekitar 19 hari dengan dukungan dua unit alat berat.

Baca Juga: Pemkot Bogor Siapkan Normalisasi Drainase di Sejumlah Titik Rawan Banjir Lintasan

Artinya, tersisa sekitar 280 meter dari target dua kilometer di wilayah Kecamatan Parung.

Namun angka dua kilometer bukan panjang keseluruhan saluran.

 

Saluran Sebenarnya Membentang 4 Kilometer

Saluran Sasak Sekunder Cogreg secara keseluruhan memiliki panjang sekitar empat kilometer.

Sekitar dua kilometer berada di wilayah irigasi Desa Cogreg, Kecamatan Parung, sedangkan dua kilometer lainnya melanjut ke wilayah Ciseeng.

Dengan demikian, capaian 1,72 kilometer yang sering muncul dalam laporan pemerintah bukan berarti keseluruhan Saluran Sasak Sekunder hampir selesai dinormalisasi.

Angka tersebut baru merujuk pada target pekerjaan di wilayah Kecamatan Parung.

Perbedaan ini penting karena jaringan air tidak berhenti pada batas administrasi desa atau kecamatan.

Baca Juga: Pemkot Bogor Dalam Waktu Dekat Bakal Tambah Alat Pendeteksi Banjir

Jika aliran di satu ruas lancar tetapi titik berikutnya masih mengalami penyempitan, sedimentasi atau sumbatan, fungsi jaringan secara keseluruhan tetap dapat terganggu.

 

Normalisasi Cogreg Bagian dari Masalah Banjir Bogor Utara

Pekerjaan di Cogreg juga tidak berdiri sendiri.

Sejak Juni 2026, Pemerintah Kabupaten Bogor sudah membahas pembenahan jaringan sungai dan irigasi di Kemang, Ciseeng, Parung dan Rancabungur untuk menangani kawasan yang berulang kali menghadapi genangan maupun banjir.

Bupati Bogor Rudy Susmanto ketika itu menyebut pekerjaan harus dilakukan ketika kondisi cuaca memungkinkan.

“Kami ingin menuntaskan sejumlah lokasi yang selama ini menjadi langganan banjir. Saat banjir terjadi tentu kami tidak bisa melakukan normalisasi. Karena itu, ketika kondisi cuaca mendukung seperti saat ini, kita harus bergerak cepat melakukan penataan dan normalisasi saluran irigasi maupun sungai,” ujar Rudy Susmanto, Sabtu (20/6/2026).

Baca Juga: Sering jadi Korban Banjir Lintasan, Kelurahan Babakan Akui Buruknya Kontrol Drainase di Pemukiman Warga

Parung termasuk dalam empat kecamatan yang menjadi fokus penanganan tersebut.

Normalisasi Saluran Cogreg kemudian berjalan sebagai salah satu bagian dari agenda itu.

 

Ada Target Aktifkan Kembali 70–80 Persen Saluran yang Tersumbat

Data resmi pemerintah menunjukkan skala masalahnya lebih besar dibanding satu saluran di Desa Cogreg.

Dalam rapat normalisasi jaringan Salabenda–Ciseeng–Parung pada Senin (22/6/2026), pemerintah menargetkan sekitar 70–80 persen saluran air yang selama ini tersumbat dapat kembali diaktifkan di kawasan Bogor Utara.

Pemerintah juga mengakui kondisi sejumlah jaringan saat itu tidak dalam keadaan baik.

Salah satu penyebabnya, menurut catatan resmi, adalah normalisasi yang telah terlalu lama tidak dilakukan, pada sejumlah bagian disebut mencapai sekitar lima tahun bahkan lebih.

Baca Juga: 50 Warga di Kecamatan Cigudeg yang jadi Korban Banjir Mulai Mengungsi, Pemkab Bogor Percepat Penanganan

Pernyataan tersebut merujuk pada jaringan yang lebih luas di Salabenda, Ciseeng dan Parung, bukan khusus satu titik di Cogreg.

Namun konteks tersebut membantu menjelaskan mengapa pengerukan sedimentasi dilakukan cukup besar di wilayah utara.

 

Persoalannya Bukan Cuma Banjir

Jaringan Salabenda–Ciseeng–Parung juga mempunyai fungsi lain.

Kawasan Ciseeng, Kemang, Parung dan Rancabungur merupakan salah satu sentra perikanan Kabupaten Bogor.

Pemkab mencatat kawasan Minapolitan di wilayah tersebut memiliki sekitar 200 hektare kolam perikanan yang ikut membutuhkan suplai air.

Rudy mengatakan normalisasi dilakukan untuk menjaga fungsi aliran bagi masyarakat dan kegiatan produktif.

Baca Juga: 50 Warga di Kecamatan Cigudeg yang jadi Korban Banjir Mulai Mengungsi, Pemkab Bogor Percepat Penanganan

“Kami ingin memastikan ketika musim kemarau tiba, sawah tetap mendapatkan air dan sentra perikanan tetap bisa berproduksi,” ujar Rudy Susmanto, Kamis (2/7/2026).

Dengan kata lain, saluran yang tersumbat menghadirkan persoalan ganda.

Ketika hujan, aliran yang tidak lancar dapat meningkatkan risiko luapan dan genangan.

Ketika kemarau, jaringan yang tidak berfungsi juga dapat menghambat distribusi air untuk aktivitas pertanian dan perikanan.

 

Masuk Pancaroba, Saluran Kembali Jadi Perhatian

Urgensi normalisasi kembali meningkat pada akhir September.

Setelah periode kemarau panjang, hujan mulai kembali turun di sejumlah wilayah Kabupaten Bogor.

Pemerintah kemudian meningkatkan pembukaan dan normalisasi saluran pada titik rawan agar air tidak tersumbat ketika intensitas hujan meningkat.

“Walaupun saluran airnya dibuka, airnya tidak ada, tetapi kita antisipasi pada saat nanti hujan terjadi, air akan mengalir, air tidak tersumbat,” ujar Rudy Susmanto, Selasa (29/9/2026).

Baca Juga: 30 Unit Rumah Sampai Kuburan di Ciomas Terendam Banjir Mencapat Satu Meter

Normalisasi di Kemang, Ciseeng, Parung dan Rancabungur kembali disebut sebagai bagian dari mitigasi menghadapi perubahan musim.

Momentum tersebut bertepatan dengan pekerjaan yang tengah berlangsung di Cogreg.

 

Lumpur dan Sampah Tetap Jadi Masalah

Pengerukan menggunakan alat berat sebagian besar ditujukan untuk mengangkat sedimentasi yang telah mempersempit badan saluran.

Namun pembersihan manual warga memperlihatkan persoalan lain: sampah ikut berada di dalam aliran.

Kondisi serupa juga ditemukan dalam normalisasi sejumlah sungai lain di kawasan Bogor Utara.

Di Kali Cibeuteung, Rancabungur, misalnya, material yang diangkat bukan hanya lumpur, tetapi juga kayu, bambu dan sampah yang menghambat aliran.

Baca Juga: Delapan Desa di Kabupaten Bogor Terendam Banjir, BPBD Kabupaten Bogor Ingatkan Warga yang Tinggal di Bantaran Sungai

Situasinya menunjukkan normalisasi tidak akan bertahan lama apabila saluran kembali menjadi tempat pembuangan material dan sampah.

Pengerukan dapat memperbesar kembali kapasitas saluran, tetapi fungsi tersebut membutuhkan pemeliharaan setelah alat berat meninggalkan lokasi.

 

Jembatan di Atas Saluran Jadi Persoalan Teknis

Keberadaan jembatan sebenarnya bukan otomatis menjadi masalah.

Warga membutuhkan akses untuk masuk ke rumah, tempat usaha maupun bangunan yang berada di seberang saluran.

Persoalan muncul apabila konstruksinya membuat akses pemeliharaan tertutup.

Alat berat kemudian tidak memiliki ruang untuk menjangkau sedimentasi yang berada tepat di bawah jembatan.

Itulah yang terlihat dalam pekerjaan Cogreg.

Sebagian pemilik memilih membongkar jembatan secara mandiri.

Baca Juga: Delapan Desa di Kabupaten Bogor Terendam Banjir, BPBD Kabupaten Bogor Ingatkan Warga yang Tinggal di Bantaran Sungai

Sebagian titik yang belum dapat dijangkau alat berat akhirnya dibersihkan secara manual.

Adhi sebelumnya juga meminta pemilik jembatan lain membuka akses agar normalisasi tidak terhambat.

“Kami mengimbau kepada masyarakat yang masih memiliki jembatan di atas saluran irigasi untuk bersama-sama mendukung kegiatan ini. Jika dilakukan secara mandiri, tentu pekerjaan akan lebih mudah dan cepat,” ujar Adhi Nugraha, Selasa (29/9/2026).

 

Kewenangan Saluran Juga Tidak Sepenuhnya di Kabupaten

Ada lapisan persoalan lain yang jarang terlihat.

Dalam pembahasan normalisasi Salabenda–Ciseeng–Parung pada Juni 2026, Pemkab Bogor menyebut sebagian daerah irigasi dan saluran tersebut secara regulasi berada dalam kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Karena itu, penanganannya membutuhkan koordinasi lintas lembaga.

Rencana normalisasi ketika itu melibatkan pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, BBWS, unsur TNI hingga instansi pertanahan.

Hal ini menjelaskan mengapa penanganan jaringan air sering lebih kompleks dibanding sekadar menurunkan ekskavator.

Ada persoalan kewenangan, akses alat, bangunan di sekitar saluran, sedimentasi, sampah hingga keterhubungan antarruas.

 

Setelah Dikeruk, Tantangan Berikutnya Pemeliharaan

Normalisasi di Cogreg memperlihatkan pekerjaan fisik sudah bergerak cukup jauh.

Dari 592 meter pada 22 September, progres meningkat menjadi 1,72 kilometer pada 29 September.

Warga juga telah ikut membuka akses dan membersihkan bagian saluran yang tidak dapat dijangkau alat berat.

Namun pekerjaan sesungguhnya tidak selesai ketika lumpur sudah diangkat.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana memastikan sedimentasi dan sampah tidak kembali memenuhi saluran.

Baca Juga: Hujan Deras, Beberapa Titik Jalan di Kota Bogor Langsung Alami Banjir

Bagaimana akses untuk pengerukan berikutnya tetap tersedia.

Dan bagaimana saluran empat kilometer dari Cogreg menuju Ciseeng dapat bekerja sebagai satu jaringan, bukan hanya ruas-ruas yang ditangani secara terpisah.

Sebab persoalan air di Bogor Utara sudah berlangsung lebih lama daripada proyek normalisasi September 2026.

Cogreg hanya menjadi salah satu titik yang memperlihatkan masalah itu secara nyata.

Di atas saluran ada jembatan. Di bawahnya ada lumpur dan sampah. Sementara di hilir dan hulunya, ribuan warga bergantung pada air yang harus tetap mengalir.