Pamijahan, POJOKBOGOR.id – Kondisi Curug Cigamea di Kampung Rawa Bogo, Desa Gunung Sari, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, berubah drastis setelah kemarau panjang melanda wilayah Bogor.

Air terjun yang biasanya menjadi daya tarik utama kawasan Gunung Salak Endah kini terpantau memiliki debit sangat kecil.

Sisa air pada bagian kolam juga terlihat keruh sehingga aktivitas bermain air yang biasanya menjadi salah satu daya tarik wisata praktis berkurang.

Berdasarkan pantauan langsung di lokasi pada Senin, 28 September 2026, kawasan yang biasanya ramai saat akhir pekan terlihat jauh lebih sepi.

Baca Juga: Guyub Merdeka KKMP Curug Mekar, Denny Mulyadi Ajak Penguatan Ekonomi Berbasis Masyarakat

Kondisi tersebut mulai dirasakan pedagang dan penyedia jasa di sekitar Curug Cigamea karena jumlah wisatawan yang datang menurun.

Yang menarik, hujan sebenarnya sudah beberapa kali turun di wilayah Bogor dalam beberapa hari terakhir. Namun kondisi aliran Curug Cigamea belum terlihat kembali seperti normal.

 

Dulu Dikenal dengan Dua Air Terjun dan Kolam Alami

Perubahan kondisi Curug Cigamea cukup kontras dengan daya tarik yang selama ini dipromosikan.

Dalam platform resmi Jaringan Desa Wisata Kementerian Pariwisata, Curug Cigamea menjadi salah satu produk wisata Desa Gunungsari.

Destinasi tersebut digambarkan menawarkan trekking dengan aliran sungai serta air terjun yang turun deras dari tebing dan kolam alami yang bisa digunakan pengunjung untuk bermain air.

Sumber informasi wisata 2026 juga mencatat Curug Cigamea memiliki dua air terjun berdampingan dengan ketinggian sekitar 30 dan 50 meter, serta aktivitas berendam dan bermain air sebagai bagian utama pengalaman wisata.

Baca Juga: Bikin Feed Makin Estetik, Curug Instagramable di Bogor Ini Wajib Dikunjungi

Kini, kondisi itu nyaris tidak terlihat.

Debit yang minim membuat panorama air terjun berubah dan otomatis mengurangi aktivitas yang selama ini dicari wisatawan.

 

Kemarau Panjang Sudah Tekan Sumber Air Bogor

Kondisi Curug Cigamea muncul setelah Kabupaten Bogor mengalami kemarau panjang sepanjang pertengahan 2026.

BPBD Kabupaten Bogor mencatat hingga 5 September 2026, kekeringan telah berdampak pada 33 kecamatan dan 178 desa/kelurahan, dengan total 88.670 KK atau 304.210 jiwa terdampak.

Lebih dari 4,8 juta liter air bersih bahkan sudah didistribusikan pemerintah ke wilayah terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bogor Ade Hasrat mengatakan pemerintah terus memantau wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air.

Baca Juga: Surga Tersembunyi di Kaki Gunung, Curug-Curug Alami di Bogor Ini Masih Sepi Pengunjung

“Kami terus melakukan pemantauan dan penanganan secara intensif. Prioritas kami adalah memastikan masyarakat yang terdampak kekeringan tetap mendapatkan akses air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Ade Hasrat, Minggu, 6 September 2026.

BMKG juga mencatat sebagian besar Jawa pada awal September masih berada dalam kondisi relatif kering dengan curah hujan rendah hingga menengah.

 

Pamijahan Juga Terdampak Krisis Air

Kecamatan Pamijahan sendiri termasuk wilayah yang merasakan dampak musim kering.

Dalam catatan penanganan kebencanaan Kabupaten Bogor, penurunan intensitas hujan menyebabkan sumber air warga di sejumlah wilayah berkurang.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kekeringan bukan hanya menyentuh kebutuhan rumah tangga, tetapi juga dapat berdampak pada destinasi wisata yang daya tarik utamanya bergantung pada air.

Bupati Bogor Rudy Susmanto pada pertengahan September bahkan menyebut kemarau sudah berdampak terhadap sumur warga, lahan pertanian, saluran irigasi hingga sumber air baku.

Baca Juga: 7 Rekomendasi Curug Cantik di Sekitar Stasiun Bogor yang Wajib Kamu Kunjungi Akhir Pekan

“Ikhtiar sudah, bahkan dengan BNPB juga sudah mencoba untuk membuat hujan buatan. Ini cara utama manusia adalah kita berdoa, memohon kepada Allah mudah-mudahan diberikan hujan, tentunya hujan yang memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat, khususnya masyarakat Kabupaten Bogor,” kata Rudy Susmanto, Jumat, 18 September 2026.

 

Hujan Turun, Debit Curug Belum Pulih

Hal yang sekarang menjadi pertanyaan adalah mengapa kondisi Curug Cigamea belum berubah signifikan meskipun hujan sudah kembali turun.

Pantauan di lokasi menunjukkan debit air masih sangat minim.

Hujan yang turun dalam beberapa hari tidak selalu langsung berarti sumber mata air dan daerah tangkapan air kembali penuh setelah periode kering yang panjang.

Namun, penyebab teknis spesifik mengecilnya debit Curug Cigamea tetap membutuhkan pemeriksaan pengelola ataupun instansi lingkungan terkait.

Baca Juga: Rekomendasi 7 Curug Paling Magic di Bogor Bisa Hipnotis Kamu Supaya Lupa Pulang

Belum ada keterangan resmi yang terpublikasi mengenai apakah kondisi tersebut murni dipicu kemarau, perubahan sumber aliran, sedimentasi, ataupun faktor lainnya.

Karena itu, penyebab penurunan debit belum dapat disimpulkan secara pasti.

 

Sepinya Curug Mulai Pukul Ekonomi Pedagang

Dampak yang paling langsung terlihat berada pada aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan wisata.

Pedagang makanan, minuman, jasa parkir hingga usaha kecil di sekitar destinasi sangat bergantung pada kedatangan wisatawan.
Ketika air terjun kehilangan daya tarik utamanya, jumlah orang yang singgah ikut menurun.

Hubungan antara Curug Cigamea dan ekonomi masyarakat sebenarnya sudah terbentuk sejak lama. Kajian mengenai masyarakat sekitar kawasan Gunung Salak Endah mencatat aktivitas perdagangan di Curug Cigamea menjadi salah satu sumber penghidupan warga karena destinasi ini dikenal sebagai salah satu objek wisata utama kawasan tersebut.

Baca Juga: Dari Curug hingga Kafe, Intip 10 Tempat Wisata di Sentul Bogor yang Hits, Dijamin Gamau Pulang!

Secara lebih luas, sektor wisata Pamijahan juga memiliki pasar cukup besar.

Data resmi Pemerintah Kabupaten Bogor mencatat 324.672 wisatawan nusantara berkunjung ke berbagai destinasi Kecamatan Pamijahan sepanjang 2024.

Angka tersebut merupakan total tingkat kecamatan, bukan kunjungan khusus Curug Cigamea.

Namun data itu menunjukkan betapa pentingnya aktivitas wisata bagi kawasan Pamijahan.

 

Gunung Salak Endah Memang Diproyeksikan sebagai Kawasan Ekowisata

Dalam dokumen perencanaan pariwisata Kabupaten Bogor, kawasan Gunung Salak Endah di Pamijahan ditempatkan sebagai sub-cluster edu-ekowisata, dengan wisata alam sebagai daya tarik utama.

Portal wisata resmi Kabupaten Bogor juga mencatat Gunung Salak Endah sebagai destinasi wisata alam dengan mata air, kawasan hutan tropis dan aktivitas berbasis air sebagai kekuatan utamanya.

Artinya, kondisi debit air di destinasi seperti Curug Cigamea bukan hanya persoalan satu objek wisata.

Jika berlangsung panjang, kondisi itu bisa memengaruhi daya tarik keseluruhan kawasan Gunung Salak Endah.

Baca Juga: Cari Burung di Hutan, Warga Pamijahan DitemukanTewas Terjepit Batu di Curug Seribu

 

Tantangannya Bukan Sekadar Menunggu Hujan

Kondisi Curug Cigamea sekarang menunjukkan kerentanan wisata alam terhadap perubahan cuaca.

Ketika daya tarik utama bergantung pada debit air, kemarau panjang dapat langsung mengubah pengalaman wisatawan sekaligus pendapatan masyarakat.

Karena itu, langkah berikutnya tidak cukup hanya menunggu hujan.

Perlu ada pemantauan sumber air, kondisi daerah tangkapan, kualitas air, serta evaluasi pengelolaan destinasi agar diketahui apakah penurunan debit hanya bersifat musiman atau terdapat persoalan lain yang perlu ditangani.

Baca Juga: 20 Rekomendasi Curug di Bogor yang Lokasinya Mudah DIjangkau Oleh Wisatawan dari Jakarta

Disparekraf Kabupaten Bogor sendiri pada Juni 2026 menegaskan bahwa wisata alam perlu dikelola dengan prinsip keselamatan sekaligus kelestarian lingkungan.

Bagi pedagang di sekitar Curug Cigamea, pemulihan debit air memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar mengembalikan panorama.

Ketika air kembali mengalir, harapannya wisatawan ikut kembali.

Dan ketika wisatawan datang, roda ekonomi kecil di sekitar kaki Gunung Salak itu bisa kembali bergerak.