BOGOR, POJOKSATU.ID - Bupati Bogor Rudy Susmanto menargetkan penataan kawasan wisata Puncak mulai direalisasikan pada 2027. Sejumlah program strategis telah disiapkan, mulai dari pembangunan sodetan di titik rawan kemacetan, pembenahan rest area, hingga penertiban bangunan yang melanggar aturan.
Rudy mengatakan, Pemkab Bogor telah mematangkan perencanaan penataan Jalur Puncak sejak 2025 hingga 2026. Bahkan, Detail Engineering Design (DED) untuk sejumlah rencana pembangunan infrastruktur tersebut telah rampung.
Menurutnya, penataan kawasan Puncak menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan sekaligus mengatasi berbagai persoalan yang selama ini terjadi di kawasan wisata andalan Kabupaten Bogor tersebut.
"Salah satunya membuka beberapa sodetan di sejumlah titik kemacetan. Kemudian, kita juga akan berupaya merapikan rest area Puncak," ujar Rudy saat meninjau sejumlah titik di kawasan Puncak, Jumat (6/11/2026).
Ia menjelaskan, penataan tidak hanya berfokus pada infrastruktur jalan, tetapi juga mencakup pembenahan kawasan wisata secara menyeluruh. Pemkab Bogor akan memperkuat kolaborasi dengan para pelaku usaha pariwisata agar pengembangan kawasan Puncak berjalan lebih tertib dan berkelanjutan.
Rudy juga menegaskan pentingnya penertiban bangunan ilegal, khususnya bangunan yang berdiri dan menutupi saluran air di sepanjang kawasan Puncak. Langkah tersebut diperlukan untuk mengembalikan fungsi drainase serta menjaga kelestarian lingkungan.
Meski demikian, ia memastikan penataan kawasan Puncak tetap memperhatikan keberlangsungan ekonomi masyarakat setempat.
"Kita tidak ingin menghilangkan mata pencaharian masyarakat yang ada di wilayah selatan. Kita mengedepankan musyawarah mufakat agar keberlangsungan wisata Puncak bisa lebih optimal," tegasnya.
Rudy menambahkan, Pemkab Bogor juga menyiapkan sejumlah program pendukung melalui organisasi perangkat daerah (OPD). Program tersebut meliputi sosialisasi, pelatihan, hingga dukungan bagi para pelaku usaha pariwisata.
Menurutnya, wilayah Bogor Selatan menjadi salah satu prioritas pengembangan karena memiliki konsentrasi hotel dan fasilitas penunjang pariwisata yang lebih banyak dibandingkan wilayah lainnya.
"Kita juga ingin pemerintah berkegiatan memberikan subsidi secara tidak langsung kepada para pelaku dunia usaha yang ada di kawasan Puncak," ungkapnya.
Dalam rangka mematangkan rencana tersebut, Rudy bersama Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Bogor meninjau sejumlah titik strategis, mulai dari Gadog, Simpang Pasir Muncang, Pasir Angin, Megamendung, Simpang Tiga Hankam, Pasar Cisarua, hingga Simpang Tiga Taman Safari Indonesia.
Peninjauan dilanjutkan ke Telaga Saat yang dikenal sebagai titik kilometer nol Sungai Ciliwung. Di lokasi tersebut, Rudy mengapresiasi pengembangan desa wisata yang dinilai mampu mengoptimalkan potensi ekonomi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Ia menilai konsep bangunan wisata seperti resor dan cottage dengan model rumah panggung dapat menjadi contoh pengembangan pariwisata yang tetap memperhatikan daya serap tanah dan aliran air.
Selain potensi alam, Rudy juga menyoroti keberadaan perkebunan teh yang masih terawat serta aktivitas masyarakat sebagai pemetik teh yang menjadi bagian dari daya tarik wisata Puncak.
Menurutnya, kawasan Puncak memiliki potensi wisata yang sangat beragam, mulai dari wisata alam, religi, hingga sejarah. Beberapa di antaranya adalah Masjid At-Ta'awun, monumen helikopter yang mengabadikan lokasi gugurnya pahlawan nasional Laksamana R.E. Martadinata, serta makam K.H. Idham Chalid.
Rudy berharap seluruh potensi tersebut dapat dikembangkan secara terpadu melalui kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, tokoh agama, dan masyarakat desa.
Ia optimistis, melalui perencanaan matang dan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, penataan kawasan Puncak dapat meningkatkan daya saing pariwisata sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Kabupaten Bogor. ***







