JAKARTA, POJOKSATU.id - Isu penghapusan BPJS Kesehatan dan pengalihannya ke klinik Koperasi Desa Merah Putih ramai diperbincangkan di media sosial pada Oktober 2026.

Di tengah kabar tersebut, video Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang mengkritik perubahan layanan BPJS kembali menjadi perhatian publik.

Dalam video yang beredar, Megawati terlihat menyampaikan kritik dengan nada tegas. Ketua Umum PDI Perjuangan itu mempertanyakan mengapa program jaminan kesehatan yang ditujukan untuk membantu masyarakat justru mulai diutak-atik.

“Saya lho yang bikin BPJS. Tapi sekarang mulai dikutik-kutik,” kata Megawati.

Namun, pernyataan tersebut sebenarnya disampaikan pada 17 Agustus 2026, jauh sebelum isu penggantian BPJS Kesehatan dengan klinik Koperasi Desa Merah Putih ramai dibicarakan pada Oktober.

Artinya, video Megawati bukan tanggapan langsung terhadap isu penghapusan BPJS Kesehatan yang belakangan beredar.

Megawati menyampaikan kritik tersebut ketika menjadi inspektur upacara peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Sekolah Partai PDI Perjuangan, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (17/8/2026).

Dalam pidatonya, Megawati menyinggung pentingnya mempertahankan jaminan kesehatan bagi masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat kecil kerap menghadapi kesulitan finansial ketika harus membayar pengobatan di rumah sakit.

Karena itu, Megawati meminta pemerintah tidak mengurangi perhatian terhadap keberlangsungan BPJS Kesehatan.

“Tolong dengarkan ya, Kementerian Kesehatan dan lain sebagainya, Keuangan, tolonglah BPJS itu tetap ada dan ditambahlah uangnya bagi rakyat banyak,” tegas Megawati.

Menurutnya, pemerintah memiliki kewajiban memastikan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang layak tanpa menghadapi beban biaya yang memberatkan.

Megawati juga menginginkan anggaran program jaminan kesehatan diperkuat agar manfaatnya semakin luas.

Dalam kesempatan yang sama, Megawati menceritakan pengalaman yang membuatnya menaruh perhatian besar terhadap persoalan jaminan kesehatan.

Ia mengaku pernah melihat seorang ibu menangis di rumah sakit karena tidak mampu membayar biaya pengobatan anaknya.

Saat itu, sang ibu harus menunggu suaminya mencari uang untuk membayar perawatan.

Pengalaman tersebut membuat Megawati menyadari bahwa persoalan biaya pengobatan dapat menjadi beban berat bagi masyarakat miskin.

“Saya enggak nyari nama, itu memang saya yang buat karena hati nurani saya sedih melihat rakyat menjual ini menjual itu,” ujarnya.

Megawati menilai negara harus hadir memberikan perlindungan kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar, termasuk kesehatan dan pendidikan.

Baginya, akses pengobatan tidak seharusnya hanya bergantung pada kemampuan ekonomi seseorang.