Kota Bogor, POJOKBOGOR.id - Seorang videografer Metropolitan mengaku ditangkap saat meliput demonstrasi di Kota Bogor.
Padahal, ia telah menunjukkan kartu identitas pers dan menjelaskan bahwa dirinya sedang menjalankan tugas jurnalistik.
Tak hanya itu, videografer tersebut juga mengaku mendapat tekanan untuk menghapus rekaman yang memperlihatkan dugaan pemukulan terhadap massa aksi mahasiswa.
Pihak Metropolitan menyayangkan kejadian tersebut dan meminta kepolisian menyelidiki dugaan tindakan represif yang dilakukan seorang pria berpakaian sipil dalam insiden itu.
Senior Manager Produksi dan Konten Metropolitan, M Indra, membenarkan bahwa videografernya mengalami kejadian tersebut saat bertugas.
Menurutnya, tindakan terhadap jurnalis yang sudah menunjukkan identitas pers tidak bisa dianggap sebagai persoalan sepele.
"Kami menyesalkan tindakan yang dialami videografer kami saat menjalankan tugas peliputan. Yang bersangkutan telah menyatakan dirinya sebagai wartawan dan menunjukkan identitas pers. Karena itu, peristiwa ini harus menjadi perhatian serius," ujarnya.
Rekaman Dugaan Pemukulan Jadi Sorotan
Metropolitan turut menyoroti pengakuan videografer yang mendapat permintaan untuk menghapus rekaman saat demonstrasi berlangsung.
Berdasarkan keterangan yang diterima pihak media, seorang pria berpakaian sipil diduga meminta videografer menghapus video tersebut dengan alasan menjaga citra institusi.
Videografer itu mengaku tidak sempat menghapus rekaman yang dimaksud. Sementara itu, kartu identitas persnya disebut turut diambil saat kejadian.
Indra menilai dugaan tersebut perlu diusut untuk mengetahui siapa yang terlibat dan apa alasan di balik tindakan tersebut.
"Jika benar ada tekanan untuk menghapus rekaman jurnalistik, hal itu tidak bisa dianggap sepele. Rekaman yang diperoleh wartawan dalam menjalankan tugasnya tidak semestinya dihapus melalui intimidasi atau tekanan," katanya.
Bagi Metropolitan, rekaman yang diambil saat demonstrasi merupakan bagian dari kerja jurnalistik untuk mendokumentasikan peristiwa di lapangan. Karena itu, dugaan tekanan untuk menghapusnya perlu mendapat perhatian serius.
Meski begitu, dugaan penangkapan, intimidasi, dan pemukulan tersebut masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pihak-pihak terkait.
Metropolitan Minta Polisi Turun Tangan
Metropolitan mendesak kepolisian memeriksa insiden tersebut secara menyeluruh. Ada beberapa hal yang dinilai perlu diperjelas, mulai dari dugaan penangkapan videografer, pengambilan kartu identitas pers, hingga permintaan untuk menghapus rekaman.
Indra meminta polisi mengidentifikasi orang-orang yang terlibat dan menjelaskan dasar tindakan mereka terhadap videografer yang sedang meliput.
"Kami meminta kepolisian mengusut kejadian ini secara objektif. Harus ada kejelasan mengenai siapa yang melakukan penangkapan, mengapa identitas pers diambil, dan apa dasar permintaan penghapusan rekaman tersebut," ujarnya.
Jika ditemukan pelanggaran, Metropolitan meminta pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
Persoalan ini, menurut Indra, bukan sekadar menyangkut keselamatan seorang videografer. Ada kepentingan publik yang ikut dipertaruhkan ketika jurnalis mengalami hambatan saat mendokumentasikan sebuah peristiwa.
Jangan Sampai Jurnalis Tak Bebas Meliput
Metropolitan mengingatkan bahwa kebebasan pers dijamin melalui Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Karena itu, pengamanan demonstrasi tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghalangi kerja jurnalistik yang dilakukan secara profesional.
Wartawan berada di lokasi demonstrasi untuk merekam kejadian dan menyampaikan informasi kepada masyarakat. Kehadiran mereka semestinya dihormati selama menjalankan tugas jurnalistik, bukan justru menghadapi tekanan.
Indra berharap kejadian serupa tidak terulang, baik terhadap jurnalis Metropolitan maupun wartawan dari media lain.
"Kebebasan pers bukan hanya menyangkut kepentingan wartawan atau perusahaan media, tetapi juga hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar. Jangan sampai tindakan represif terhadap jurnalis justru menghalangi publik mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di lapangan," tuturnya.
Metropolitan pun meminta kepolisian menindaklanjuti dugaan insiden tersebut secara transparan agar duduk perkaranya jelas dan pihak yang terbukti melakukan pelanggaran dapat dimintai pertanggungjawaban.






