BOGOR, POJOKSATU.id - Mural bertema kebakaran hutan dan lahan atau karhutla mulai menghiasi dinding kolong Flyover Cileungsi, Kabupaten Bogor. Karya seniman lokal tersebut menjadi bentuk kepedulian pemuda terhadap kerusakan lingkungan dan ancaman yang dihadapi satwa liar.
Mural seluas sekitar lima meter persegi itu dibuat oleh seniman lokal bernama Dwi Ope. Lukisannya memperlihatkan seekor induk orangutan sedang menggendong anaknya di tengah kobaran api yang melahap kawasan hutan.
Melalui karya tersebut, para pemuda dan komunitas Cileungsi berusaha menyampaikan pesan tentang dampak kebakaran hutan terhadap kehidupan satwa dan kelestarian habitatnya.
Sosok induk orangutan yang menggendong anaknya menjadi pusat perhatian dalam mural di kolong Flyover Cileungsi.
Keduanya digambarkan berada di tengah situasi kebakaran hutan, dengan kobaran api yang mengelilingi kawasan tempat tinggal mereka.
Di bagian lain, terlihat pepohonan yang terbakar serta siluet petugas pemadam kebakaran yang sedang berupaya mengendalikan api.
Perpaduan gambar tersebut menghadirkan gambaran tentang kondisi satwa liar ketika habitatnya terancam bencana.
Induk orangutan yang membawa anaknya menjadi simbol perjuangan satwa untuk bertahan hidup di tengah kerusakan lingkungan.
Sementara itu, keberadaan petugas pemadam kebakaran memperlihatkan upaya manusia dalam menghadapi bencana karhutla.
Selain menampilkan visual kebakaran hutan, mural karya Dwi Ope juga memuat sejumlah tulisan yang memiliki pesan lingkungan.
Pada bagian atas lukisan, terdapat kalimat:
“TERIMA KASIH TUHAN KAMI PULANG”
Tulisan tersebut dapat dimaknai sebagai ungkapan harapan agar satwa liar bisa kembali hidup dengan aman di habitat alaminya.
Sementara itu, pada tubuh induk orangutan terdapat selempang dengan tulisan:
“MASIH INDONESI(ASAP)”
Permainan kata tersebut menyampaikan kritik terhadap persoalan kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
Melalui dua pesan itu, mural tidak hanya menjadi karya visual, tetapi juga sarana untuk mengajak masyarakat memikirkan dampak kerusakan lingkungan.
Kehadiran mural karhutla di kolong Flyover Cileungsi merupakan bagian dari ekspresi kepedulian pemuda dan komunitas setempat.
Mereka memilih ruang publik sebagai tempat menyampaikan pesan agar karya tersebut dapat dilihat masyarakat yang melintas.
Melalui pendekatan seni jalanan, persoalan kebakaran hutan yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia diangkat menjadi pesan visual yang mudah dipahami.
Karya ini juga memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus disampaikan melalui kegiatan formal.
Seni mural dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap persoalan yang berdampak pada kehidupan manusia dan satwa.
Kebakaran hutan dan lahan memiliki dampak luas terhadap ekosistem, termasuk hilangnya tempat berlindung dan sumber makanan satwa liar.
Ketika kawasan hutan terbakar, berbagai jenis satwa berisiko kehilangan habitat serta menghadapi ancaman keselamatan.
Orangutan menjadi salah satu satwa yang rentan terhadap kerusakan hutan karena kehidupannya bergantung pada keberadaan habitat alami.
Melalui gambar induk orangutan yang menggendong anaknya, Dwi Ope menghadirkan gambaran mengenai ancaman tersebut.
Pesan yang disampaikan mengingatkan masyarakat bahwa kebakaran hutan bukan sekadar persoalan api dan asap, tetapi juga menyangkut kelangsungan hidup makhluk hidup di dalamnya.
Kini, mural di kolong Flyover Cileungsi menjadi salah satu bentuk ekspresi seni yang membawa pesan kepedulian lingkungan.
Karya tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk lebih memperhatikan persoalan karhutla dan pentingnya menjaga kelestarian hutan Indonesia.



