POJOKBOGOR.id – Deretan drum, ember hingga jeriken memenuhi sisi jalan di Kampung Rancasari, Desa Pasir Gaok, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, Jumat, 18 September 2026.

Warga bergantian mengambil air dari mobil tangki yang datang membawa pasokan air bersih. Di tengah kemarau panjang, air yang dibawa kendaraan tersebut kini menjadi salah satu tumpuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Distribusi air dilakukan saat Kabupaten Bogor masih berada dalam kategori Awas kekeringan meteorologis berdasarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis BMKG untuk Dasarian II September 2026 atau periode 11–20 September.

Baca Juga: Bogor Masuk Status Awas Kekeringan, Warga Bersimpuh Memohon Turunnya Hujan

Kabupaten Bogor menjadi salah satu wilayah Jawa Barat yang masuk kategori tertinggi dalam peringatan tersebut.

 

Dari Rancasari, Terlihat Dampak Kekeringan yang Makin Luas

Situasi di Rancasari menjadi bagian dari persoalan kekeringan yang cakupannya terus bertambah di Kabupaten Bogor.

Berdasarkan data penanganan terbaru, kekeringan telah berdampak kepada 98.152 kepala keluarga atau 335.807 jiwa.

Distribusi air bersih sudah menjangkau 748 titik di 200 desa yang tersebar pada 35 kecamatan.

Total air yang telah didistribusikan mencapai 5.886.000 liter.

Baca Juga: Pura-Pura Tidur di Bus Bogor, Pria Sempat Mengelak Sebelum Akui Pegang Paha Penumpang

Sebanyak 3.230.000 liter atau 670 rit disalurkan langsung kepada masyarakat.

Kemudian 2.400.000 liter atau 250 rit digunakan untuk mengisi toren penampungan, sedangkan 256.000 liter lainnya digunakan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bogor Ade Hasrat mengatakan pemenuhan kebutuhan air warga menjadi prioritas selama kekeringan masih berlangsung.

Baca Juga: Bogor Barat Kembali Dilanda Kebakaran, LeuwiMart Leuwiliang Hangus Dilalap Api

“Prioritas kami adalah memastikan masyarakat yang terdampak kekeringan tetap mendapatkan akses air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.”

Distribusi dilakukan menyesuaikan kebutuhan masing-masing wilayah, baik dengan mengantarkan air langsung kepada warga maupun mengisi toren sebagai cadangan.

 

Dampaknya Melonjak dalam Beberapa Bulan

Data penanganan menunjukkan kekeringan Kabupaten Bogor berkembang cukup cepat selama musim kemarau 2026.

Pada 22 Juli 2026, BNPB mencatat sebanyak 16.291 KK atau 52.602 jiwa terdampak kekeringan di Kabupaten Bogor.

Sepekan kemudian, 29 Juli, jumlah tersebut tercatat meningkat menjadi 21.504 KK atau 69.889 jiwa.

Baca Juga: Kabel Melintang Rendah di Jalan Raya Parung Bogor Halangi Truk, Aduan Serupa Pernah Masuk 112

Memasuki akhir Agustus, BPBD Kabupaten Bogor mencatat dampaknya telah mencapai 78.917 KK atau 271.805 jiwa dan menyebar pada 32 kecamatan.

Kini cakupan penanganannya telah mencapai 35 kecamatan dengan lebih dari 335 ribu jiwa terdampak.

Perubahan angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pasokan air tidak lagi terkonsentrasi di satu kawasan. Permintaan datang dari wilayah barat, timur, selatan hingga tengah Kabupaten Bogor.

Baca Juga: Pemkab dan Ulama Bogor Ketuk Pintu Langit Memohon Hujan di Tengah Kemarau Panjang

 

Rancabungur Bukan Pertama Kali Menghadapi Krisis Air

Persoalan kekurangan air bersih bukan fenomena baru di Kecamatan Rancabungur.

Catatan BPBD Kabupaten Bogor menunjukkan wilayah ini beberapa kali membutuhkan distribusi air ketika intensitas hujan menurun.

Pada September 2020, misalnya, BPBD pernah menyalurkan 15 ribu liter air kepada 512 kepala keluarga atau 1.628 jiwa di sejumlah titik Desa Rancabungur.

Pada Februari 2022, krisis air kembali terjadi setelah sejumlah sumber mata air mengalami penurunan akibat minimnya hujan.

Baca Juga: Kepala BAPPISUS Tegaskan Proyek PSEL Bogor Raya Harus Dipertanggungjawabkan kepada Rakyat

Catatan historis tersebut menunjukkan kerentanan sebagian wilayah Rancabungur terhadap berkurangnya ketersediaan air pada periode kering.

Kondisi Jumat pagi di Kampung Rancasari kembali menggambarkan situasi itu: warga membawa wadah masing-masing dan menunggu mobil tangki datang.

 

September Termasuk Periode Puncak Kekeringan

Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan kekeringan bisa berlangsung dalam periode panjang.

Berdasarkan pola historis 2015–2025, periode kekeringan secara umum dapat berlangsung mulai Mei hingga November bahkan Desember.

September juga termasuk periode ketika puncak kekeringan pernah terjadi.

“Bencana kekeringan ini menunjukkan tren yang cukup panjang,” kata Berton.

Baca Juga: Kolaborasi Pertamina dan TNI Hijaukan Katasik Ar-Razaq, Tanam Mangga hingga Alpukat

Kondisi tersebut dapat berdampak bukan hanya terhadap ketersediaan air bersih, tetapi juga pertanian, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat hingga meningkatnya risiko kebakaran.

BNPB menjalankan sejumlah upaya mitigasi, mulai dari optimalisasi cadangan air, operasi modifikasi cuaca, pembangunan sumur dalam, penguatan tempat penampungan hingga distribusi air bersih bagi daerah terdampak.

Masyarakat juga diminta menggunakan air secara bijak dengan memprioritaskan kebutuhan dasar seperti minum, memasak dan sanitasi.

Bagi warga Rancasari, persoalan tersebut kini terasa sangat sederhana sekaligus mendasar.

Ketika sumber air di sekitar rumah tidak lagi mencukupi, kedatangan sebuah mobil tangki berarti tersedianya air untuk kebutuhan keluarga beberapa waktu ke depan.