BOGOR, POJOKSATU.id - Harga barang di Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang lebih murah dibandingkan warung kelontong memicu perdebatan di media sosial.
Kondisi ini menguntungkan konsumen, tetapi sekaligus menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan usaha pedagang kecil, termasuk di Kabupaten Bogor.
Perbincangan tersebut mencuat setelah beredar unggahan yang memperlihatkan produk kebutuhan sehari-hari dijual di Kopdes Merah Putih dengan harga lebih rendah daripada harga eceran yang tercetak pada kemasan.
Salah satu contohnya adalah bumbu racik sasetan yang dijual seharga Rp1.750, sementara harga eceran pada kemasan tercantum Rp2.000.
Selisih harga tersebut terlihat kecil bagi konsumen. Namun, bagi pemilik warung kelontong yang mengandalkan keuntungan dari penjualan produk harian, persaingan harga menjadi persoalan tersendiri.
Perdebatan mengenai harga barang di Kopdes Merah Putih salah satunya disoroti pengguna media sosial Threads.
Dalam pemberitaan Jatim TIMES pada Jumat, 23 Oktober 2026, seorang pengguna bernama Felicia menyoroti unggahan akun @siwiajaaaaaaasih yang memperlihatkan perbandingan harga produk di Kopdes.
"Jujur kaget banget liat threads @siwiajaaaaaaasih yang post foto harga jual di KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) yang di bawah harga ecer yg tercetak di kemasannya," tulis Felicia.
Ia juga mempertanyakan kemungkinan harga jual di koperasi sama dengan harga pembelian barang oleh pemilik warung kelontong.
"Katanya, harga jual KDMP = harga beli warung desa. Bener ga? KDMP di daerah kalian apa gini juga?" ujarnya.
Unggahan tersebut menggambarkan kekhawatiran mengenai persaingan usaha antara koperasi yang didukung program pemerintah dan pedagang kecil.
Namun, kesamaan harga jual koperasi dengan harga modal warung belum dapat dipastikan berlaku secara umum karena biaya pembelian dan distribusi setiap pedagang berbeda.
Bagi masyarakat, kehadiran Kopdes Merah Putih dengan harga barang lebih terjangkau tentu memberikan keuntungan.
Selisih harga kebutuhan pokok maupun produk rumah tangga dapat membantu menghemat pengeluaran keluarga.
Namun, kondisi berbeda dapat dirasakan pedagang kelontong yang harus membeli barang melalui distributor atau pedagang grosir.
Apabila harga modal pedagang mendekati harga jual koperasi, ruang untuk mendapatkan keuntungan menjadi semakin terbatas.
Persaingan tersebut berpotensi memengaruhi omzet warung apabila konsumen memilih berbelanja di koperasi karena menawarkan harga lebih murah.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, sebelumnya juga mengingatkan potensi persaingan antara Kopdes dan pelaku usaha kecil.
"Bukan minimarket modern yang ditakutkan karena tidak semua produk subsidi dijual di minimarket. Misalnya pupuk subsidi kan nggak ada di indomaret. Yang jadi masalah justru kopdes vs warung umkm dan agen pupuk tingkat desa," ujar Bhima.
Menurut Bhima, akses koperasi terhadap distributor utama berpotensi membuat harga pembelian barang lebih rendah dibandingkan warung yang melalui rantai distribusi lebih panjang.



