BOGOR, POJOKSATU.id - Peta persaingan menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menunjukkan perubahan signifikan. Elektabilitas Presiden Prabowo Subianto dilaporkan mengalami penurunan tajam berdasarkan hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Dalam survei nasional yang dilaksanakan pada 1-10 Oktober 2026, tingkat keterpilihan Prabowo hanya mencapai 9,8 persen dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama calon presiden.
Padahal, pada November 2025, elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra tersebut masih berada di angka 34,9 persen.
Artinya, dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, dukungan elektoral Prabowo mengalami penurunan sebesar 25,1 poin persentase berdasarkan rangkaian survei SMRC.
Elektabilitas Prabowo Terus Menurun Sejak Akhir 2025
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengungkapkan bahwa pelemahan dukungan terhadap Prabowo berlangsung secara bertahap.
Pada November 2025, elektabilitas Prabowo tercatat sebesar 34,9 persen.
Angka tersebut kemudian turun menjadi 33,3 persen pada survei Februari-Maret 2026.
Penurunan semakin tajam pada Juli 2026 ketika elektabilitas Prabowo hanya mencapai 14,5 persen, sebelum kembali merosot menjadi 9,8 persen pada Oktober 2026.
"Elektabilitas Prabowo menurun," demikian kesimpulan SMRC dalam pemaparan hasil surveinya, Sabtu (17/10/2026).
Dedi Mulyadi Justru Melonjak hingga 35,5 Persen
Berbeda dengan Prabowo, elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi justru mengalami peningkatan signifikan.
Pada November 2025, tingkat keterpilihan Dedi masih berada di angka 19,7 persen.
Namun, hasil survei Oktober 2026 menempatkan Dedi di posisi teratas dengan elektabilitas 35,5 persen.
Dalam simulasi 24 nama, Dedi Mulyadi unggul atas Anies Baswedan yang memperoleh 10,3 persen, Prabowo Subianto 9,8 persen, serta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebesar 8,4 persen.
Sementara itu, sebanyak 13,9 persen responden menyatakan belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban.
SMRC Soroti Kepuasan Publik terhadap Kinerja Pemerintah
Deni Irvani menilai melemahnya elektabilitas Prabowo berkaitan dengan penilaian masyarakat terhadap kinerja pemerintah, termasuk kondisi ekonomi, penegakan hukum, serta sejumlah program prioritas.
"Penurunan ini sangat berhubungan dengan kepuasan atas kinerja presiden, dengan kondisi makro ekonomi-politik dan penegakan hukum yang dinilai publik buruk, dengan kinerja pemerintah mengatasi masalah-masalah mendesak, serta dengan penilaian negatif atas program MBG dan KDMP," kata Deni.
Program yang dimaksud adalah Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
Meski demikian, hubungan antara penilaian kinerja pemerintah dan pilihan politik tersebut merupakan analisis SMRC berdasarkan data survei, bukan bukti tunggal mengenai penyebab perubahan dukungan.
Survei Melibatkan 1.213 Responden
Survei SMRC melibatkan 1.213 responden yang memiliki hak pilih di Indonesia.
Sebanyak 1.013 responden diwawancarai melalui telepon, sedangkan 200 responden lainnya diwawancarai secara tatap muka.
Survei tersebut memiliki estimasi margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, dengan asumsi pengambilan sampel acak sederhana.
Hasil survei ini menggambarkan preferensi politik masyarakat saat pengumpulan data dilakukan, bukan kepastian hasil Pilpres 2029.
Dengan waktu menuju pemilihan presiden berikutnya yang masih panjang, perubahan elektabilitas para tokoh politik masih sangat mungkin terjadi.



