POJOKBOGOR.id - IPB University menggelar kegiatan The 45th Strategic Talk yang diselenggarakan pada, Jumat 12 September 2024 di IPB International Convention Center.
The 45th Strategic Talk yang yang digelar IPB University ini membahas pentingnya pendidikan inklusif untuk keberlangsung Indonesia Maju 2045.
Dalam acara The 45th Strategic Talk tersebut, Rektor IPB University Prof Arif Satria mengutarakan bahwa pendidikan inklusif menjadi pondasi utama dalam menopang cita cita Indonesia maju 2045 mendatang.
Baca Juga: Polisi Siapkan Rekayasa Lalu Lintas jelang Libur Panjang Maulid Nabi Muhammad SAW
Sehingga, Prof Arif Satria menyebut, pendidikan inklusif bukan hanya memastikan akses bagi semua, tetapi menjamin kualitas pendidikan yang merata, terutama di daerah daerah terpencil.
Apalagi, kata Prof Arif Satria, saat ini Indonesia tengah dihadapkan dengan peluang besar, yaitu bonus demografi, tentu menurutnya yang demikian itu harus dimanfaatkan secara bijak.
Bahkan ia menegaskan bahwa, Indonesia perlu belajar dari negara China, Korea, dan Jepang, karena 3 negara itulah yang berhasil memanfaatkan bonus demografi sebagai peluang untuk menghantarkan sebagai negara maju.
Baca Juga: Holding Ultra Mikro: Tiga Tahun Memberdayakan Jutaan UMKM
“Bonus demografi di Indonesia pada tahun 2030, puncaknya, harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan memperkuat sistem pendidikan kita,” tutur Prof Arif Satria.
Maksud memperkuat sistem pendidikan yang disoroti oleh Rektor IPB University itu adalah, mampu menciptakan mental para peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat.
“Karena dunia bergerak begitu cepat, kalau kita tidak punya mentalitas sebagai seorang pembelajar kita akan ketinggalan jauh,” tegas Prof Arif Satria.
Tidak hanya itu, Prof Arif Satria juga menegaskan, bahwa ke depan, kemampuan yang dimiliki oleh manusia pada hari ini, hanya relevan sekitar 60 persen saja.
Baca Juga: Prabowo Subianto Ingatkan Bacabup Bogor Rudy Susmanto untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan
Artinya, Rektor IPB University itu menyebutkan bahwa, hampir 30 hingga 40 persen, skill yang dimiliki oleh manusia, tidak lagi relevan untuk digunakan karena larut dengan masifnya perkembangan teknologi.


.webp)
