POJOKBOGOR.id – Kabupaten Bogor bersiap menjadi titik kumpul peternak dan sapi-sapi unggulan dari berbagai daerah dalam Kontes Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Piala Presiden 2026.

Ajang berskala nasional tersebut dijadwalkan berlangsung selama dua hari, Sabtu–Minggu, 3–4 Oktober 2026, di kawasan Stadion Pakansari, Cibinong.

Bukan hanya peternak Kabupaten Bogor yang mendapat panggung. Peserta dari luar daerah juga telah mempersiapkan ternak terbaik untuk bersaing membawa pulang gelar.

Baca Juga: Agustusan Sudah Lewat, Pawai Pesta Rakyat Kembali Padati Pasir Kuda–Pancasan Bogor

Salah satu yang mencuri perhatian adalah sapi bernama Sapu Jagat asal Desa Taman, Kecamatan Grujugan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Sapi tersebut memiliki bobot sekitar 1,4 ton dan tercatat telah sembilan kali menjadi juara dalam berbagai kontes sapi di sejumlah daerah.

Sejak Agustus 2026, Sapu Jagat sudah diberitakan tengah dipersiapkan untuk mengikuti Kontes Sapi Piala Presiden di Bogor.

Baca Juga: Sempat Merah Sejam, Mata Air Keramat Kareo Kembali Jernih Sampel Dibawa ke Laboratorium

 

Dari Bondowoso, Sapi 1,4 Ton Siap Tantang Sapi Terbaik Nasional

Kehadiran sapi berukuran jumbo seperti Sapu Jagat memberi gambaran mengenai level persaingan yang bakal hadir di Pakansari.

Sapi yang datang bukan semata dinilai karena tubuhnya besar. Kontes ternak menjadi ruang bagi peternak untuk menunjukkan hasil pemeliharaan, teknik penggemukan, kualitas fisik hingga manajemen ternak yang telah dilakukan dalam waktu panjang.

Dengan peserta dari berbagai daerah, Pakansari berpotensi berubah dari kawasan olahraga menjadi tempat bertemunya jaringan peternak nasional selama dua hari.

Baca Juga: Hampir 40 Tahun Berdiri, Tugu Narkoba Bogor Direnovasi Lagi; Pernah Hendak Diubah Jadi 'Cinta Prestasi'

Konteks tersebut sejalan dengan fungsi kontes yang selama ini didorong Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia atau APPSI.

Ketua Umum APPSI Ahmad Muzani sebelumnya menjelaskan bahwa perkumpulan tersebut dibangun sebagai tempat para peternak bertukar pengalaman mengenai berbagai persoalan teknis.

“APPSI sebagai wadah mempertemukan orang yang gemar menggemukan sapi, memelihara sapi, bertukar ilmu dan cerita,” ujar Ahmad Muzani, Sabtu (20/12/2025).

Baca Juga: Rumah 2 Lantai di Baranangsiang Terbakar, Damkar Tiba 11 Menit Setelah Laporan

 

Kontes Sapi Bisa Jadi Tempat Transaksi

Ada sisi ekonomi yang membuat kontes sapi tidak hanya menarik dari sisi tontonan.

Dalam Rakernas APPSI di Bogor pada Desember 2025, Muzani mengatakan penyelenggaraan kontes di berbagai daerah dapat mempertemukan peternak sekaligus mendorong nilai transaksi ternak.

“Semua daerah ingin ada kontes sapi. Karena jika ada kontes, transaksi akhir jadi tinggi,” ujar Ahmad Muzani, Sabtu (20/12/2025).

Baca Juga: Usai OTT KPK Kasus HGB Bogor, Warga Nagrak Was-was Ramai Pasang Plang 'Tanah Ini Tidak Dijual'

Artinya, sapi yang datang ke Pakansari tidak hanya membawa peluang mendapatkan trofi.

Pertemuan peternak, penggemuk, pembeli, komunitas dan pelaku usaha membuka kemungkinan terbentuknya jaringan pasar baru setelah acara selesai.

Kementerian Pertanian juga menyebut kegiatan APPSI sebagai ruang untuk meningkatkan kualitas ternak sekaligus memperluas akses pasar.

 

Bukan Cuma Cari Sapi Terbesar

Pada Kontes Sapi APPSI di Wonosobo pada April 2026, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menjelaskan bahwa kompetisi dapat menjadi pemicu bagi peternak untuk terus meningkatkan kualitas.

“Kontes ini menjadi trigger. Gengsi antar peternak harus kita pelihara supaya gayeng,” ujar Sudaryono, Sabtu (25/4/2026).

Dalam forum yang sama, kontes juga diposisikan sebagai tempat bertukar pengetahuan mengenai peningkatan bobot ternak hingga penanganan penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Lumpy Skin Disease (LSD).

Baca Juga: Jalur Nanggerang–Babakan Waru Ambles, Kawasan Ini Pernah Masuk Zona Rawan Gerakan Tanah

Dengan begitu, kualitas peternakan tidak hanya diukur dari angka pada timbangan.

Manajemen pakan, kesehatan hewan, reproduksi, genetika, hingga kemampuan peternak mempertahankan kondisi sapi menjadi bagian penting dari ekosistem yang berkembang di balik sebuah kontes.

 

Bogor Punya Agenda Lebih Besar di Sektor Peternakan

Pemilihan Kabupaten Bogor sebagai lokasi kontes juga bukan tanpa konteks.

Dalam tata ruang Kabupaten Bogor, pengembangan peternakan besar seperti sapi potong dan sapi perah tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya Leuwiliang, Sukajaya, Pamijahan, Cibungbulang, Tajurhalang, Cisarua, Ciawi, Tanjungsari, Cariu, Jonggol, Cileungsi dan Cijeruk.

Kabupaten Bogor juga memiliki jaringan pelayanan kesehatan hewan. Data pedoman pelayanan Puskeswan Kementerian Pertanian mencatat Kabupaten Bogor memiliki delapan Puskeswan.

Pada Agustus 2026, Pemkab Bogor bahkan meresmikan Pasar Hewan Bogor di Jonggol sebagai pusat perdagangan ternak.

Baca Juga: Sehari Setelah Kasus Video LGBT di Purasari Leuwiliang, Bupati Bogor Langsung Beri Arahan, 14 Kecamatan Mulai Bergerak

Rangkaian tersebut menunjukkan pembangunan sektor peternakan bergerak dari pelayanan kesehatan, sentra perdagangan hingga penyelenggaraan kegiatan tingkat nasional.

 

Kesehatan Sapi yang Datang dari Luar Daerah Jadi Hal Penting

Kontes nasional juga berarti terdapat mobilitas ternak dari berbagai wilayah menuju Kabupaten Bogor.

Aspek kesehatan hewan karena itu menjadi bagian penting yang tidak bisa dilepaskan dari kemeriahan acara.

Dalam penanganan PMK sebelumnya, Pemkab Bogor mewajibkan ternak yang masuk dari luar daerah membawa Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) atau Sertifikat Veteriner, disertai langkah isolasi atau karantina sebelum bergabung dengan ternak lainnya.

Baca Juga: Kurang dari 48 Jam, Dua Pria Video Asusila di Purasari Leuwiliang Ditangkap di Jakarta Barat, Baru 2 Bulan Saling Kenal

Namun, ketentuan teknis khusus untuk peserta Kontes Piala Presiden 2026 tetap perlu merujuk pada aturan resmi panitia. Belum ditemukan dokumen publik terbaru yang merinci persyaratan veteriner masing-masing peserta pada agenda 3–4 Oktober.

Konteks kesehatan tersebut penting mengingat ternak bernilai tinggi yang datang ke sebuah kontes merupakan aset ekonomi peternak.

 

Tahun Lalu Bogor Juga Sudah Matangkan Kontes Nasional

Pemkab Bogor sebelumnya juga telah mempersiapkan Kontes Ternak Piala Presiden pada 2025 sebagai bagian dari agenda Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Dalam persiapannya, pemerintah daerah menyatakan kegiatan peternakan tidak semestinya berhenti sebagai event tahunan, tetapi perlu memiliki manfaat langsung melalui dukungan kesehatan hewan dan pengembangan peternak.

Agenda 2026 kemudian memperkuat posisi Pakansari sebagai lokasi yang bukan hanya identik dengan sepak bola atau pertandingan olahraga.

Baca Juga: KPM Penerima Bansos PKH dan BPNT Harus Daftar Ulang di Portal Perlinsos? Pahami Agar Bantuan Tidak Hilang

Pada 3–4 Oktober mendatang, kawasan tersebut akan menjadi panggung untuk melihat hasil kerja peternak dari berbagai wilayah Indonesia.

Dan dengan sapi sekelas Sapu Jagat—berbobot 1,4 ton dengan koleksi sembilan gelar—yang sudah dipersiapkan menuju kompetisi di Bogor, persaingannya berpotensi menghadirkan ternak-ternak unggulan dengan kualitas tinggi.

Tetapi nilai penting kontes ini berada lebih jauh dari soal siapa yang memiliki sapi paling besar.

Pertemuan peternak, transfer pengetahuan, kesehatan ternak dan terbukanya jaringan pasar baru menjadi dampak yang dapat bertahan jauh setelah piala dibawa pulang.