POJOKBOGOR.id - Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (Umbara) M Afif Zaelani, mengungkap pentingnya ruang dialog kebangsaan di tengah menurunnya kepercayaan publik terhadap penyelenggara negara.

Hal itu ia ungkapkan dalam Simposium Kebangsaan bertajuk 'Menarasikan Ulang Arah Negara di Tengah Krisis Kepercayaan Publik' yang diselenggarakan di Aula Universitas Muhammadiyah Bogor Raya.

Afif menerangkan, simposium itu diselenggarakan setelah melalui observasi terhadap dinamika nasional, serta konsolidasi internal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Umbara.

Baca Juga: Dirgahayu Bhayangkara ke-80, Bupati Bogor Rudy Susmanto: Peran Polri Sangat Penting Demi Menciptakan Rasa Aman

Forum ini merupakan bentuk tanggung jawab moral dan intelektual mahasiswa, berkaca pada situasi bangsa saat ini.

"Ini bukan sekadar forum akademik, melainkan ruang dialektika untuk mengevaluasi berbagai kebijakan publik, memperkuat partisipasi demokratis, serta merumuskan perspektif kebangsaan yang berpijak pada kepentingan rakyat," ujar Afif.

Afif menyoroti sedikitnya enam isu strategis yang dinilai memerlukan perhatian bersama seluruh elemen bangsa.

Baca Juga: Ketua DPRD Kabupaten Bogor Dukung Produk Lokal Kabupaten Bogor Didorong untuk Naik Kelas

Isu pertama ialah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan stabilitas ekonomi nasional. Menurutnya, fluktuasi nilai tukar rupiah menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia masih menghadapi tantangan struktural yang cukup serius.

Menurutnya, pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada meningkatnya biaya impor, tetapi juga berpengaruh terhadap harga kebutuhan pokok, biaya produksi, hingga daya beli masyarakat.

"Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, persoalan ini bukan sekadar dinamika pasar keuangan, tetapi realitas yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari," kata Afif.

Baca Juga: Telkomsel Hadirkan Paket Bola Gembira MAXStream TV untuk 32 Besar Piala Dunia 2026, Begini Cara Aktivasinya

Ia juga menyoroti persoalan pertumbuhan ekonomi yang belum sepenuhnya sejalan dengan peningkatan kesempatan kerja yang layak.

Menurutnya, banyak lulusan perguruan tinggi menghadapi keterbatasan akses terhadap pekerjaan sesuai kompetensi, sementara sektor informal terus menjadi pilihan utama akibat terbatasnya lapangan kerja formal.

Afif juga menginginkan sektor pendidikan sebagai perhatian utama. Ia menilai ketimpangan akses pendidikan, disparitas kualitas antarwilayah, serta belum optimalnya keterkaitan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja masih menjadi tantangan besar yang harus diselesaikan pemerintah.

Baca Juga: Jangan Sampai Hangus! Ini Deretan Bansos yang Masih Perlu Dicek Para Seluruh KPM

"Ketika pendidikan belum mampu menjadi instrumen mobilitas sosial secara merata, maka diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap arah kebijakan pendidikan nasional," ungkapnya.

Di bidang tata kelola keuangan negara, Afif menyoroti pentingnya efektivitas pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ia menegaskan bahwa setiap alokasi anggaran harus dilaksanakan secara transparan, efisien, akuntabel dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Baca Juga: Dari Kelas 4 SD Sampai Menikah, Seorang Wanita di Bogor Digauli Ayah Tiri Hingga Berulang Kali

Demokrasi internal partai politik juga menjadi perhatian dalam simposium tersebut. Menurutnya, demokrasi tidak berhenti pada penyelenggaraan pemilu, melainkan harus tercermin dalam tata kelola internal partai melalui mekanisme partisipatif, regenerasi kepemimpinan, dan proses pengambilan keputusan yang inklusif.

Isu terakhir yang dibahas adalah Program Makan Bergizi Gratis yang saat ini menjadi salah satu agenda strategis pemerintah.

Afif menilai program tersebut memiliki tujuan yang baik dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan pembangunan sumber daya manusia, namun implementasinya tetap perlu dikawal agar berjalan efektif, tepat sasaran, transparan, dan berkelanjutan.

Baca Juga: Bakal Diedarkan Tahun 2026 Ini, Gas Melon Akan Diganti Jadi Gas Merah Putih

Menurut Afif, berbagai persoalan tersebut saling berkaitan dan pada akhirnya bermuara pada satu persoalan mendasar, yakni menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan negara.

Sebagai Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, ia menilai kondisi tersebut harus dijawab melalui ruang-ruang dialog yang terbuka, berbasis argumentasi, data, dan semangat kebangsaan.

"Mahasiswa memiliki tanggung jawab historis sebagai kekuatan moral yang menjaga agar arah pembangunan nasional tetap berpijak pada amanat konstitusi dan kepentingan rakyat," tegasnya.

Ia berharap Simposium Kebangsaan tersebut dapat menjadi ruang refleksi kolektif yang mempertemukan berbagai perspektif, memperkuat literasi demokrasi, serta membangun kesadaran bersama bahwa negara yang kuat hanya dapat diwujudkan melalui tata kelola pemerintahan yang akuntabel, partisipasi publik yang bermakna, serta keberanian seluruh elemen bangsa untuk mengawal jalannya republik.

Baca Juga: Penerima PIP Diminta Koordinasi dengan Sekolah, Ini Bedanya SK Nominasi dan SK Pemberian

Afif menegaskan bahwa menarasikan ulang arah negara bukan berarti menegasikan negara, melainkan merupakan ikhtiar intelektual untuk memastikan perjalanan republik tetap berorientasi pada cita-cita para pendiri bangsa, yakni keadilan sosial, demokrasi konstitusional, dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

"Ketika arah itu dipertanyakan, maka menjadi tanggung jawab bersama untuk mengawal, mengoreksi, dan menguatkannya melalui cara-cara yang demokratis, konstitusional, dan berkeadaban," kata dia. ***