POJOKBOGOR.id – Akses Jalan Nanggerang menuju Babakan Waru di Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, mengalami longsor dan ambles setelah wilayah tersebut diguyur hujan, Sabtu, 19 September 2026.

Rekaman kondisi di lapangan memperlihatkan permukaan aspal mengalami retakan dan penurunan pada sebagian badan jalan.

Kondisi tersebut membuat ruang kendaraan untuk melintas menyempit dan meningkatkan risiko apabila pergerakan tanah terus berlanjut.

Namun kejadian ini bukan sekadar persoalan jalan yang rusak setelah hujan.

Baca Juga: Sehari Setelah Kasus Video LGBT di Purasari Leuwiliang, Bupati Bogor Langsung Beri Arahan, 14 Kecamatan Mulai Bergerak

Penelusuran terhadap catatan kebencanaan menunjukkan kawasan Nanggerang dan Desa Pabuaran memiliki riwayat panjang pergerakan tanah, bahkan sebelumnya telah mendapat kajian dari Badan Geologi Kementerian ESDM.

 

Nanggerang Pernah Dinyatakan Zona Potensi Menengah–Tinggi

Pada 8 Juli 2025, gerakan tanah berupa rayapan terjadi di Kampung Nanggerang RT 03/RW 02, Desa Pabuaran, Kecamatan Sukamakmur.

Peristiwa tersebut ditandai dengan munculnya retakan pada permukaan tanah dan bangunan.

Hasil kajian Badan Geologi menyebut lokasi itu berada pada zona potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi, terutama apabila dipicu curah hujan tinggi atau di atas normal.

Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid saat itu mengingatkan masyarakat agar terus mengamati perkembangan retakan ketika hujan turun.

Baca Juga: Kurang dari 48 Jam, Dua Pria Video Asusila di Purasari Leuwiliang Ditangkap di Jakarta Barat, Baru 2 Bulan Saling Kenal

“Masyarakat diminta aktif mengamati retakan, terutama bila ada hujan deras,” ujar Muhammad Wafid dalam rekomendasi Badan Geologi, Selasa (5/8/2025).

Badan Geologi juga mengingatkan agar aliran air tidak masuk ke zona retakan serta merekomendasikan sistem drainase yang mampu mengalirkan air langsung menuju saluran utama.

 

Awal 2026, Puluhan Rumah Kembali Rusak

Ancaman tersebut kembali muncul pada awal 2026.

Pada Januari, pergerakan tanah kembali terjadi di Kampung Nanggerang, Desa Pabuaran. Dampaknya jauh lebih besar.

Data resmi Pemerintah Kabupaten Bogor menyebut sedikitnya 58 kepala keluarga harus mengungsi, dengan 38 rumah mengalami rusak berat dan 20 rumah lainnya terancam ambles.

Baca Juga: KPM Penerima Bansos PKH dan BPNT Harus Daftar Ulang di Portal Perlinsos? Pahami Agar Bantuan Tidak Hilang

Bupati Bogor Rudy Susmanto bahkan turun langsung ke lokasi pada Jumat, 30 Januari 2026.

Saat itu Pemkab menyiapkan bantuan biaya sewa hunian sementara selama enam bulan sekaligus menurunkan tim geologi untuk memastikan kelayakan kawasan tersebut sebagai tempat tinggal.

“Jika secara kajian geologi lahan tersebut dinyatakan tidak layak huni, kami akan bermusyawarah dengan tokoh masyarakat dan masyarakat sekitar untuk melakukan relokasi. Keselamatan masyarakat berada di atas segala-galanya,” tegas Rudy Susmanto, Jumat (30/1/2026).

Pemkab juga menyatakan akan menindaklanjuti indikasi persoalan lingkungan apabila ditemukan memiliki hubungan dengan pergerakan tanah.

Baca Juga: Dua Pria Pembuat Video 'A Day In My Life' di Bogor Dipastikan Bukan Seorang Pelajar

“Saat ini fokus kami adalah menyelamatkan masyarakat. Namun, segala saran dan masukan terkait indikasi pelanggaran lingkungan akan kami tindak lanjuti secara tegas,” kata Rudy Susmanto, Jumat (30/1/2026).

 

Babakan Waru Juga Pernah Longsor

Riwayat kerawanan tidak hanya berada di Nanggerang.

Kampung Babakan Waru yang berada di Desa Pabuaran juga pernah mengalami longsor pada akses jalan desa.

Catatan resmi BPBD Kabupaten Bogor pada Februari 2021 menyebut longsor merusak Tembok Penahan Tanah jalan penghubung Kampung Leuwi Catang dan Kampung Babakan Waru.

Longsoran ketika itu memiliki ukuran sekitar 12 meter panjang, 4 meter lebar, dan 15 meter tinggi. Jalan terdampak hanya dapat dilalui kendaraan roda dua.

Baca Juga: Duh... Video Gay 'A Day In My Life' di Bogor Banyak Dicari Netizen

BPBD bahkan sudah memberikan catatan khusus terkait risiko longsor susulan.

“Dikhawatirkan kalau terjadi hujan deras, akan mengakibatkan longsor kembali,” demikian analisis BPBD Kabupaten Bogor dalam laporan kejadian tersebut.

Dengan demikian, akses Nanggerang menuju Babakan Waru yang kini mengalami kerusakan berada dalam kawasan yang kedua sisinya sama-sama memiliki rekam jejak gerakan tanah.

 

Kemarau Panjang Lalu Hujan Bisa Meningkatkan Risiko

Kondisi tahun ini juga memiliki faktor lain yang perlu diperhatikan.

Kabupaten Bogor baru saja melewati periode kemarau panjang. Tanah yang kehilangan banyak kandungan air dapat mengalami retakan atau rekahan.

Kementerian ESDM menjelaskan, ketika hujan kembali turun, air dapat masuk melalui retakan tersebut dan membuat tanah cepat jenuh.

Baca Juga: Duh... Video Gay 'A Day In My Life' di Bogor Banyak Dicari Netizen

“Hujan lebat yang turun pada awal musim dapat menimbulkan longsor, karena melalui tanah yang merekah air akan masuk dan terakumulasi di bagian dasar lereng,” demikian penjelasan teknis Kementerian ESDM mengenai mekanisme tanah longsor.

Karena itu, kombinasi tanah yang telah retak setelah periode kering, kontur lereng, kondisi geologi dan masuknya air hujan dapat meningkatkan potensi pergerakan tanah.

Namun penyebab pasti amblesnya Jalan Nanggerang–Babakan Waru tetap memerlukan pemeriksaan teknis langsung. Tidak tepat menyimpulkan hujan sebagai satu-satunya penyebab sebelum assessment dilakukan.

Baca Juga: Mulai Oktober 2026, Portal Bansos Digital Perlinsos Diproyeksikan Diakses 50 Juta Masyarakat

 

Hujan Lebat Tercatat di Sukamakmur

BMKG melalui Portal Informasi Kejadian Cuaca Ekstrem juga mencatat kejadian hujan lebat pada Sabtu, 19 September 2026, dengan wilayah terdampak yang mencakup Sukamakmur, Kabupaten Bogor.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Badan Geologi sebelumnya telah menyatakan curah hujan tinggi dapat mengaktifkan kembali gerakan tanah lama pada kawasan dengan tingkat kerentanan menengah hingga tinggi.

Badan Geologi menjelaskan pada daerah semacam ini, gerakan tanah dapat terjadi kembali terutama pada bagian yang berdekatan dengan lembah sungai, tebing jalan, gawir, atau lereng yang telah mengalami gangguan.

Baca Juga: Cuaca Kabupaten Bogor Hari Ini: Hujan Sedang hingga Lebat Mengintai, Warga Diminta Waspada

 

Sukamakmur Berulang Kali Dilanda Gerakan Tanah

Catatan Siaga 112 Kabupaten Bogor menunjukkan persoalan tanah labil di Kecamatan Sukamakmur tidak berhenti di Desa Pabuaran.

Pada 23 Januari 2026, pergerakan tanah di Kampung Pancuran, Desa Sukamakmur merusak jalan desa dan tiga rumah serta berdampak kepada 14 warga. BPBD menyebut kondisi tanah labil dan hujan berdurasi lama sebagai faktor kejadian.

Pada 30 Maret, longsor kembali dilaporkan di Sukaharja setelah hujan intensitas tinggi berlangsung cukup lama.

Baca Juga: Cuaca Kota Bogor Hari Ini Senin 21 September 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang

Kemudian pada 16 April, hujan deras menyebabkan longsor di Jalan Puncak Dua, Desa Sukawangi, hingga jembatan di Kampung Gombong Lega terputus dan beberapa rumah mengalami kerusakan.

Rangkaian tersebut memperlihatkan mengapa penanganan jalan ambles di Nanggerang tidak cukup hanya dengan menambal permukaan aspal.

 

Perlu Dicek Apakah Hanya Aspal atau Lereng Ikut Bergerak

Retakan aspal dapat menjadi kerusakan pada lapisan jalan, tetapi dalam kawasan dengan riwayat pergerakan tanah diperlukan pemeriksaan lebih jauh terhadap kondisi bawah permukaan, lereng, drainase, serta perkembangan retakan di sekitarnya.

Badan Geologi sebelumnya bahkan merekomendasikan agar retakan di Nanggerang ditutup menggunakan tanah liat dan dipadatkan untuk memperlambat masuknya air, serta meminta saluran air tidak diarahkan ke zona retakan.

Karena itu, persoalan utama pada akses Nanggerang–Babakan Waru bukan hanya kapan aspal diperbaiki, tetapi apakah pergerakan tanah di bawah badan jalan masih berlangsung.

Baca Juga: SIM Keliling Kabupaten Bogor Hari Ini, Cek Lokasi dan Syarat Perpanjang SIM

Jika retakan bertambah panjang atau badan jalan kembali turun setelah hujan, pembatasan akses sementara dan pemeriksaan geologi dapat diperlukan untuk mencegah risiko bagi pengguna jalan.

Hingga artikel ini disusun, belum ditemukan keterangan resmi terbaru yang menjelaskan dimensi amblesan, jumlah warga terdampak, maupun hasil assessment BPBD khusus untuk kejadian 19 September di Jalan Nanggerang–Babakan Waru.

Yang sudah diketahui, kawasan ini bukan titik baru dalam peta bencana Sukamakmur. Nanggerang pernah mengalami pergerakan tanah berulang, Babakan Waru pernah terdampak longsor jalan, dan Badan Geologi sebelumnya telah mengingatkan bahwa gerakan tanah lama dapat aktif kembali ketika dipicu hujan.