POJOKBOGOR.id – Ratusan warga Kabupaten Bogor memenuhi Alun-Alun Kabupaten Bogor, Cibinong, Jumat, 18 September 2026.
Mereka datang bukan untuk perayaan, melainkan bersama-sama menunaikan Salat Istisqa dan memohon agar hujan segera turun.
Salat berjamaah tersebut berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB.
Bupati Bogor Rudy Susmanto, Wakil Bupati Bogor Ade Ruhandi, unsur Forkopimda, jajaran Pemerintah Kabupaten Bogor, ulama, serta masyarakat turut berada dalam barisan jemaah.
Baca Juga: Pura-Pura Tidur di Bus Bogor, Pria Sempat Mengelak Sebelum Akui Pegang Paha Penumpang
Suasana berlangsung khidmat ketika warga bersimpuh dan memanjatkan doa di tengah kemarau panjang yang mulai memberi dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.
Momentum ini terjadi ketika Kabupaten Bogor masuk kategori AWAS kekeringan meteorologis berdasarkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis BMKG Dasarian II September 2026.
Status Awas merupakan tingkat tertinggi dalam kategori peringatan dini kekeringan meteorologis BMKG.
Baca Juga: Bogor Barat Kembali Dilanda Kebakaran, LeuwiMart Leuwiliang Hangus Dilalap Api
Kemarau Berlangsung Sejak Juni
Bupati Bogor Rudy Susmanto mengatakan kondisi kemarau telah berlangsung sejak Juni 2026.
Dampaknya mulai terlihat dari berkurangnya sumber air di sejumlah wilayah hingga mengeringnya lahan pertanian dan saluran irigasi.
“Hari ini kita melaksanakan Salat Istisqa untuk memohon turunnya hujan,” ujar Rudy.
Baca Juga: Kabel Melintang Rendah di Jalan Raya Parung Bogor Halangi Truk, Aduan Serupa Pernah Masuk 112
Salat Istisqa menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat dan pemerintah setelah berbagai langkah penanganan dilakukan di lapangan.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Bogor juga melakukan upaya modifikasi cuaca bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Namun, menurut Rudy, upaya tersebut belum menghasilkan hujan yang dibutuhkan Kabupaten Bogor.
Baca Juga: Pemkab dan Ulama Bogor Ketuk Pintu Langit Memohon Hujan di Tengah Kemarau Panjang
Harapannya, hujan dapat segera turun sehingga sumber-sumber air warga kembali terisi dan petani dapat kembali mengolah lahan mereka.
Kekeringan Sudah Menjangkau 35 Kecamatan
Di balik suasana doa bersama tersebut, dampak kekeringan di Kabupaten Bogor telah menjangkau wilayah yang cukup luas.
Berdasarkan data penanganan kekeringan Kabupaten Bogor pada September 2026, distribusi air bersih telah dilakukan di 748 titik yang tersebar di 200 desa pada 35 kecamatan.
Sebanyak 98.152 kepala keluarga atau sekitar 335.807 jiwa tercatat terdampak.
Total distribusi air untuk penanganan kekeringan dan kebutuhan lapangan telah mencapai 5.886.000 liter.
Baca Juga: Kepala BAPPISUS Tegaskan Proyek PSEL Bogor Raya Harus Dipertanggungjawabkan kepada Rakyat
Dari jumlah tersebut, sekitar 3,23 juta liter disalurkan langsung kepada masyarakat dan 2,4 juta liter digunakan untuk mengisi toren penampungan.
Sebanyak 256 ribu liter lainnya digunakan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bogor Ade Hasrat mengatakan pemenuhan kebutuhan air masyarakat menjadi salah satu fokus penanganan selama kekeringan berlangsung.
Baca Juga: Kolaborasi Pertamina dan TNI Hijaukan Katasik Ar-Razaq, Tanam Mangga hingga Alpukat
“Prioritas kami adalah memastikan masyarakat yang terdampak kekeringan tetap mendapatkan akses air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.”
Distribusi dilakukan secara bertahap berdasarkan laporan serta kondisi masing-masing wilayah.
Dari Ikhtiar Lapangan hingga Doa Bersama
Pelaksanaan Salat Istisqa juga sebelumnya telah diserukan Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bogor.
MUI Kabupaten Bogor mengajak ulama, tokoh masyarakat, pemerintah serta masyarakat untuk berkumpul dan melaksanakan salat memohon hujan di Alun-Alun Tegar Beriman, Cibinong.
Ikhtiar spiritual tersebut berjalan beriringan dengan langkah teknis di lapangan berupa distribusi air bersih, pemantauan sumber air dan penanganan potensi kebakaran selama musim kemarau.
Baca Juga: DPRD Kota Bogor Dorong Optimalisasi PAD di Perubahan APBD 2026
BMKG dalam Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Dasarian II September 2026 memasukkan Kabupaten Bogor bersama sejumlah kabupaten/kota lain di Jawa Barat ke kategori Awas.
Kondisi itu menjadi konteks di balik pemandangan ratusan warga yang bersimpuh di Alun-Alun Kabupaten Bogor.
Di tengah wilayah yang selama ini identik dengan hujan, satu harapan yang dipanjatkan bersama adalah agar langit kembali menurunkan air, mengisi sumur warga, membasahi lahan pertanian dan mengakhiri kemarau panjang.



