POJOKBOGOR.id – Naik transportasi umum dari Bojonggede kini bukan hanya soal duduk di dalam KRL.
Bagi penumpang yang mengakses Stasiun Bojonggede melalui terminal, ada satu aktivitas tambahan sebelum bertemu kereta: jalan kaki menyusuri Skybridge Bojonggede sepanjang 243 meter.
Waktu tempuh dari sisi Terminal Bojonggede menuju area stasiun diperkirakan sekitar empat menit dengan berjalan kaki. Jembatan tersebut menghubungkan langsung Terminal Tipe C Bojonggede dengan Stasiun KRL Bojonggede.
Bagi pekerja komuter yang menggunakannya setiap hari, perjalanan itu secara tidak langsung menjadi tambahan aktivitas fisik.
Jika seseorang melintasi skybridge sekali saat berangkat dan sekali ketika pulang, panjang koridor yang ditempuh mencapai sekitar 486 meter sehari, belum termasuk berjalan dari rumah, area parkir, terminal, peron hingga perjalanan di tempat tujuan.
Jika dilakukan lima hari kerja, khusus di koridor skybridge saja jaraknya sekitar 2,43 kilometer dalam sepekan.
Pengguna: Memang Lebih Jauh, tapi Lebih Nyaman
Keluhan soal jarak sebenarnya sudah muncul sejak Skybridge Bojonggede mulai diuji coba pada Desember 2023.
Ronny, salah seorang pengguna, mengaku sempat terkejut karena akses baru membuatnya harus berjalan lebih jauh dibanding akses lama.
“Kaget juga ya jadi jalan lebih jauh dari biasanya. Tapi lebih enak soalnya ada parkiran langsung di depan pintu masuk skybridge,” ujar Ronny, Selasa (22/9/2026).
Rosan, pengguna lain berusia 22 tahun, justru menilai perjalanan di dalam skybridge relatif nyaman karena terlindung dari panas.
“Aku ngerasanya enak karena full ketutup jadi nggak panas. Terus karena tinggi, angin yang masuk jadi lebih banyak gitu,” kata Rosan, Selasa (22/9/2026).
Baca Juga: Seorang Pria Berseragam PT KAI Tertangkap Basah Curi Sejumlah Barang di Indomaret Bogor
Sementara Giana, pengguna KRL lainnya, mengatakan tambahan jarak tersebut masih dapat diterima apabila dampaknya membuat kawasan stasiun lebih tertib.
“Iya sih, jadi misalnya lebih jauh, tapi kalau bisa ngurangin kemacetan nggak apa-apa deh,” ujar Giana, Selasa (22/9/2026).
Komentar tersebut menggambarkan pertukaran yang terjadi setelah akses stasiun diubah: lebih banyak berjalan kaki, tetapi konflik langsung antara pejalan kaki, angkot, ojek, dan kendaraan di depan stasiun berkurang.
Baca Juga: Dianggap Jadi Biang Macet, Puluhan Lapak PKL di Simpang Cisarua Bogor Resmi Dibongkar
Empat Menit Jalan Kaki Sebelum Naik KRL
BPTJ sejak awal memperkirakan perjalanan dari ujung terminal ke stasiun membutuhkan waktu sekitar empat menit.
“Nanti dari ujung terminal ke ujung stasiun itu kira-kira membutuhkan waktu sekitar 4 menit. Maka akan tersambung dan tiba di stasiun, langsung bisa naik KRL,” ujar Sekretaris BPTJ Zamrides, Senin (4/12/2023).
Secara desain, skybridge memiliki panjang 243 meter dan lebar sekitar 3 meter.
Fasilitasnya dilengkapi area penghubung, toilet, musala, akses untuk penyandang disabilitas, serta eskalator di sisi stasiun.
Karena pintu selatan Stasiun Bojonggede kemudian ditutup dan akses pengguna dari sisi tersebut dialihkan melalui skybridge, berjalan kaki bukan lagi pilihan tambahan bagi sebagian komuter, melainkan bagian dari perjalanan antarmoda.
Naik Transportasi Umum Sekalian Tambah Langkah
Fasilitas yang awalnya dibangun untuk integrasi transportasi secara tidak langsung ikut mendorong active mobility, yakni penggunaan aktivitas fisik seperti berjalan kaki sebagai bagian dari perjalanan sehari-hari.
Kementerian Kesehatan memasukkan berjalan kaki dan menaiki tangga sebagai bentuk aktivitas fisik. Untuk orang dewasa, anjuran aktivitas fisik intensitas sedang berada pada sekitar 150–300 menit per minggu.
Tentu berjalan empat menit melewati skybridge tidak otomatis menggantikan kebutuhan olahraga harian.
Namun jika dilakukan konsisten, perjalanan menuju transportasi umum dapat menjadi salah satu cara menambah aktivitas fisik tanpa harus menyediakan waktu olahraga secara khusus.
Kementerian Kesehatan juga menekankan bahwa memperbanyak langkah dan mengurangi waktu duduk merupakan bagian dari gaya hidup aktif.
Dengan skenario sederhana komuter bekerja lima hari, berjalan sekitar empat menit saat berangkat dan empat menit saat pulang berarti ada sekitar 40 menit aktivitas berjalan tambahan dalam satu pekan hanya dari menyeberangi skybridge.
Angka itu belum menghitung perjalanan kaki dari terminal menuju kendaraan lanjutan maupun dari peron stasiun tujuan menuju tempat kerja.
Dibangun karena Stasiun Bojonggede Sangat Padat
Skybridge ini bukan dibangun hanya agar masyarakat lebih banyak berjalan.
Masalah utamanya adalah kepadatan luar biasa di sekitar Stasiun Bojonggede.
Kementerian Perhubungan mencatat pada saat peresmian, Stasiun Bojonggede melayani sekitar 70 ribu penumpang per hari dan termasuk salah satu stasiun komuter terpadat di Jabodetabek.
Laporan BPTJ menyebut kondisi sebelum pembangunan diwarnai angkot yang menaikkan dan menurunkan penumpang sembarangan, PKL yang mengganggu ruang pejalan kaki, ojek daring yang melakukan penjemputan di badan jalan hingga parkir tidak teratur.
Karena itu konsepnya adalah memindahkan titik pertemuan berbagai moda ke Terminal Bojonggede.
Baca Juga: Cabai Rawit Naik sampai 67 Ribu per Kilo, Pedagang Pasar Bogor Mulai Rasakan Pembeli Kurangi Belanja
Penumpang turun dari KRL, berjalan melalui skybridge, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan angkot, ojek, kendaraan pribadi atau moda lainnya dari sisi terminal.
Saat meresmikannya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebut integrasi tersebut diharapkan membuat perjalanan lebih tertib.
“Kehadiran jembatan ini membuat perjalanan lebih tertib dan nyaman,” ujar Budi Karya, Selasa (10/12/2024).
Kajian 2026: 70 Persen Pengguna Puas
Hampir tiga tahun setelah beroperasi, evaluasi akademik memberikan gambaran mengenai respons pengguna.
Kajian yang diterbitkan pada Januari 2026 menyimpulkan Skybridge Bojonggede membantu menghubungkan stasiun dan terminal secara langsung, meningkatkan keselamatan serta kenyamanan pejalan kaki, dan mengurangi konflik pergerakan antara kendaraan dengan orang yang berjalan kaki.
Dalam evaluasi tersebut, 70 persen responden menyatakan puas dengan keberadaan skybridge.
Temuan tersebut menarik karena menunjukkan jarak berjalan yang lebih panjang tidak otomatis membuat fasilitas integrasi ditolak pengguna.
Baca Juga: BLT Dana Desa Masih Disalurkan September 2026, KPM Bisa Terima Rp300 Ribu per Bulan
Faktor lain seperti keamanan, kenyamanan, keteraturan dan terbebasnya pejalan kaki dari konflik kendaraan juga menentukan pengalaman perjalanan.
Pemkab Akui Akses Belum Sepenuhnya Optimal
Meski demikian, fasilitas ini belum dianggap sempurna.
Pada Oktober 2024, Skybridge Bojonggede resmi diserahkan BPTJ kepada Pemerintah Kabupaten Bogor. Sejak saat itu tanggung jawab pemeliharaan dan pengembangan menjadi bagian dari kewenangan Pemkab.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor Agus Ridhallah saat serah terima bahkan mengakui aksesnya masih dapat ditingkatkan.
“Skybridge sudah kita operasionalkan dan memang ini belum optimal, mudah-mudahan BPTJ bisa kembali mengembangkan tahap berikutnya,” ujar Agus Ridhallah, Jumat (4/10/2024).
Salah satu persoalan yang saat itu disebut adalah pengguna yang hendak menuju arah Jakarta masih harus memutar.
Baca Juga: Tahun 2027, Anggaran Program MBG Resmi Ditetapkan Sebesar Rp240 Triliun
Sebelumnya pemerintah pusat juga telah membahas rencana memperpanjang skybridge agar tersambung lebih optimal dengan peron arah Jakarta.
Namun sampai penelusuran September 2026, belum ditemukan keterangan resmi terbaru yang memastikan pembangunan perpanjangan tersebut telah selesai.
Pengguna Sejak Awal Minta Akses Lansia Diperhatikan
Jarak perjalanan juga memiliki konsekuensi berbeda untuk tiap pengguna.
Bagi pekerja muda, empat menit jalan kaki mungkin hanya tambahan langkah. Namun situasinya berbeda bagi lansia, penyandang disabilitas, orang dengan keterbatasan mobilitas, maupun pengguna yang membawa barang berat.
Sejak awal pengoperasian, Jehan, pengguna KRL asal Bojonggede, sudah mengingatkan persoalan tersebut.
“Di pintu masuk dan keluarnya harus ramah buat manula. Karena kalau tangga saja itu susah buat manula,” ujar Jehan dalam wawancara yang dipublikasikan Minggu (10/12/2023).
Baca Juga: Dua Pria Pemeran 'A Day in My Life' di Bogor Ngaku Dapat Puluhan Juta Setelah Menjual Videonya
Hal itu menunjukkan konsep “jalan kaki lebih banyak” hanya menjadi kelebihan jika fasilitas tetap memastikan aksesibilitas semua kelompok pengguna.
Karena itu, ramp, eskalator, jalur pemandu, area istirahat dan pemeliharaan fasilitas menjadi bagian yang sama pentingnya dengan panjang koridor itu sendiri.
Transportasi Massal Bukan Cuma Keretanya
Cerita Skybridge Bojonggede akhirnya menunjukkan bahwa perjalanan menggunakan transportasi publik sebenarnya dimulai jauh sebelum seseorang duduk di dalam kereta.
Ada proses berjalan kaki, berpindah moda, naik-turun fasilitas stasiun hingga mencapai kendaraan lanjutan.
Bagi sebagian komuter Bojonggede, itu berarti sekitar 243 meter jalan kaki sebelum atau sesudah naik KRL.
Lebih jauh daripada akses lama? Sejumlah pengguna mengaku iya.
Baca Juga: Masyarakat Jawa Barat Jadi Juara Pertama dengan Utang Pinjol Terbanyak di Indonesia
Tetapi mereka juga mencatat ada keuntungan: jalannya lebih terlindungi, lebih teratur, dan tidak lagi harus berdesakan langsung dengan kendaraan yang dahulu memenuhi pintu stasiun.
Jadi buat komuter Bojonggede, perjalanan kerja setiap hari bisa punya bonus yang tidak tertulis di tiket KRL:
naik transportasi massal, sekaligus nambah langkah kaki.



