BOGOR.POJOKSATU.id - Program Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih atau KDKMP menjadi sorotan setelah ribuan calon manajer memilih tidak melanjutkan penugasan meski sebelumnya telah mengikuti rangkaian pelatihan dengan biaya mencapai puluhan juta rupiah per peserta.

Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, mengungkapkan biaya yang dikeluarkan untuk pelatihan setiap calon manajer mencapai sekitar Rp45 juta.

Anggaran tersebut terdiri atas Rp30 juta untuk Latihan Dasar Militer dan sekitar Rp15 juta untuk pembekalan materi perkoperasian.

Persoalan muncul setelah sebanyak 1.501 calon manajer tercatat tidak melanjutkan proses penempatan.

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo de Sousa Mota, menyebut 969 orang memilih tidak menerima offering letter atau surat penawaran kerja.

Sementara itu, 532 peserta lainnya tidak memberikan respons hingga masa berlaku surat penawaran tersebut berakhir.

Jika angka 1.501 peserta tersebut dikalikan dengan biaya pelatihan Rp45 juta per orang, nilai anggaran yang sudah dikeluarkan mencapai sekitar Rp67,5 miliar.

Namun, angka tersebut merupakan kalkulasi berdasarkan jumlah peserta yang tidak melanjutkan penugasan dan besaran biaya pelatihan per orang, bukan keterangan bahwa seluruh dana tersebut secara resmi telah dinyatakan sebagai kerugian negara.

Salah satu persoalan yang mencuat berkaitan dengan lokasi penempatan peserta yang jauh dari daerah asal.

Dalam pembahasan program tersebut, muncul contoh peserta berdomisili di Depok yang mendapat penempatan hingga Gorontalo.

Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan tidak ada sanksi yang diberikan kepada calon manajer yang memilih mundur.

Meski demikian, Zulhas mendorong para calon manajer untuk lebih dahulu menerima Surat Keputusan (SK) penempatan awal.

Langkah tersebut diperlukan agar status mereka sebagai pekerja dengan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) tetap tercatat sebelum dilakukan penyesuaian lokasi penugasan.

Pemerintah selanjutnya menghadapi pekerjaan rumah untuk memastikan mekanisme penempatan tenaga manajerial Koperasi Merah Putih lebih sesuai dengan kondisi peserta.

Sebab, ketika pelatihan telah menggunakan anggaran cukup besar, mundurnya ribuan peserta berpotensi membuat investasi pelatihan tidak menghasilkan tenaga yang akhirnya bertugas di koperasi desa dan kelurahan sebagaimana direncanakan.***