POJOKSATU.id – Dalam beberapa waktu terakhir, istilah desil ekonomi semakin sering dibicarakan masyarakat, terutama ketika berkaitan dengan program bantuan sosial atau berbagai kebijakan pemerintah yang menargetkan kelompok ekonomi tertentu.

Banyak orang bertanya-tanya mengapa mereka tidak masuk kategori penerima bantuan, padahal merasa kondisi ekonominya tidak jauh berbeda dengan orang lain di sekitarnya.

Hal ini tidak lepas dari sistem penentuan desil, yaitu metode yang digunakan untuk mengelompokkan tingkat kesejahteraan masyarakat berdasarkan berbagai indikator ekonomi dan sosial.

Dalam sistem ini, masyarakat dibagi menjadi beberapa kelompok atau desil, mulai dari desil 1 yang menggambarkan kelompok ekonomi paling rendah hingga desil 10 yang menunjukkan kelompok ekonomi paling tinggi.

Baca Juga: Pemkab Sidrap Siapkan Rp30 Miliar untuk THR ASN 2026, Dijadwalkan Cair 15 Hari Sebelum Lebaran

Penentuan posisi dalam kelompok tersebut tidak hanya dilihat dari penghasilan semata, tetapi juga dari berbagai indikator yang menggambarkan kondisi ekonomi keluarga secara keseluruhan.

Banyak Faktor yang Dinilai

Penentuan desil biasanya didasarkan pada data yang dihimpun dari berbagai sumber, termasuk data kependudukan, kondisi tempat tinggal, aset yang dimiliki, hingga aktivitas ekonomi keluarga.

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi penilaian desil antara lain kepemilikan kredit atau utang di lembaga keuangan seperti bank.

Memiliki kredit bank atau cicilan tertentu dapat menjadi indikator bahwa seseorang memiliki akses terhadap layanan keuangan formal.

Baca Juga: Buruan Daftar! Beasiswa Glow dan Lovely 2026 Buka Pendaftaran, Dapat Dana Kuliah hingga Rp17,5 Juta dan Laptop

Selain itu, kepemilikan cicilan kendaraan seperti motor juga dapat menjadi salah satu variabel yang dilihat dalam penilaian kondisi ekonomi keluarga.

Meski cicilan menunjukkan adanya kewajiban pembayaran, kepemilikan kendaraan tetap dianggap sebagai aset yang menunjukkan tingkat kesejahteraan tertentu.

Kepemilikan Aset Juga Menjadi Pertimbangan

Selain utang atau kredit, sistem penilaian desil juga dapat melihat aset yang dimiliki oleh sebuah keluarga.

Contohnya adalah kepemilikan emas yang digadaikan di Pegadaian, yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki aset bernilai ekonomi.

Hal serupa juga berlaku jika seseorang memiliki sertifikat tanah atau properti, karena hal tersebut menunjukkan adanya kepemilikan aset jangka panjang.

Selain itu, jumlah kendaraan yang dimiliki juga bisa menjadi indikator.

Keluarga yang memiliki lebih dari satu kendaraan biasanya dianggap memiliki kemampuan ekonomi yang relatif lebih baik dibandingkan dengan keluarga yang tidak memiliki kendaraan sama sekali.

Baca Juga: Kenapa Sebagian Guru Tidak Dapat Tambahan TPG di THR 2026? Ini Penjelasan Hubungan Tukin dan TPP Daerah yang Sering Bikin Bingung

Data Keuangan Digital Juga Bisa Terbaca

Di era digital saat ini, aktivitas keuangan masyarakat juga semakin mudah terdeteksi melalui berbagai layanan digital.

Misalnya penggunaan layanan paylater atau pinjaman online, termasuk layanan seperti Mekar Paylater atau layanan kredit digital lainnya.

Data tersebut dapat menjadi bagian dari informasi yang menggambarkan aktivitas ekonomi seseorang.

Namun demikian, penggunaan layanan paylater tidak serta-merta menentukan posisi seseorang dalam kelompok ekonomi tertentu.

Baca Juga: Kisah Inspiratif! Nilai Tertinggi Tapi Gagal CPNS Dua Kali, Kisah Pria Ini Berakhir Tak Terduga, Kini Sukses Tanpa Gelar Tinggi

Penilaian tetap dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor lainnya.

Tabungan dan Pendapatan Keluarga

Faktor lain yang juga dapat menjadi indikator dalam penentuan desil adalah jumlah tabungan yang dimiliki.

Misalnya jika seseorang memiliki tabungan di atas jumlah tertentu, seperti lebih dari Rp15 juta, hal tersebut dapat menjadi gambaran bahwa kondisi finansialnya relatif stabil.

Selain itu, pendapatan keluarga juga menjadi faktor penting.

Jika pendapatan berada di atas Upah Minimum Kabupaten atau Kota (UMK), maka kemungkinan besar keluarga tersebut tidak termasuk dalam kelompok ekonomi paling bawah.

Karena itu, data pekerjaan yang tercatat dalam Kartu Keluarga (KK), seperti pekerja swasta atau wirausaha, juga dapat menjadi salah satu referensi dalam penilaian kondisi ekonomi.

Kondisi Rumah dan Fasilitas Listrik

Selain faktor ekonomi, kondisi tempat tinggal juga sering menjadi indikator penting dalam penilaian desil.

Misalnya apakah rumah yang ditempati merupakan rumah permanen, semi permanen, atau rumah sederhana.

Kondisi rumah permanen biasanya menunjukkan tingkat kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan rumah dengan bahan bangunan sederhana.

Baca Juga: Diliburkan Jelang Lebaran, Sopir Angkot Puncak Bogor Bakal Dapat Kompensasi Rp200 Ribu per Hari

Faktor lain yang juga sering diperhatikan adalah daya listrik rumah tangga.

Rumah dengan daya listrik tinggi biasanya diasumsikan memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik karena biaya listrik yang lebih besar.

Status Pekerjaan Anggota Keluarga

Dalam beberapa kasus, status pekerjaan anggota keluarga juga dapat memengaruhi penilaian desil.

Misalnya jika dalam satu keluarga terdapat anggota yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

Baca Juga: Update TPG Maret 2026! Gaji Pokok Guru di Info GTK Berubah, Admin GTK Minta Cek Simtunjangan Agar Data Tunjangan Sertifikasi Tetap Aman

Selain itu, kepemilikan BPJS Ketenagakerjaan juga dapat menunjukkan bahwa seseorang bekerja di sektor formal yang memiliki jaminan sosial tenaga kerja.

Hal ini sering kali menjadi salah satu indikator bahwa kondisi ekonomi keluarga berada pada level tertentu.

Sistem Penilaian yang Kompleks

Perlu dipahami bahwa penentuan desil tidak hanya berdasarkan satu faktor saja.

Sebaliknya, sistem ini biasanya menggunakan berbagai indikator yang digabungkan untuk memberikan gambaran lebih akurat mengenai kondisi ekonomi masyarakat.

Karena itu, seseorang bisa saja merasa kondisi ekonominya sederhana, namun dalam sistem data masih dianggap memiliki beberapa indikator kesejahteraan tertentu.

Itulah sebabnya posisi desil seseorang bisa berbeda dengan persepsi pribadi tentang kondisi ekonomi mereka.

Dengan memahami berbagai faktor yang digunakan dalam penentuan desil, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami bagaimana sistem pendataan sosial dan ekonomi bekerja.***