POJOKBOGOR.ID - Lebaran baru saja lewat, suasana silaturahmi masih hangat, ketupat pun mungkin masih tersisa di meja makan.

Eh, tapi sebagian umat Muslim mulai bertanya-tanya kapan sebenarnya puasa qadha Ramadan boleh dimulai?

Dan bagaimana dengan puasa sunnah di bulan Syawal yang katanya pahalanya luar biasa itu?

Pertanyaan ini memang selalu muncul setiap tahun.

Baca Juga: Waduh! Harga Minyak Sawit Indonesia Berbalik Arah, Peluang Cuan Baru dari Pasar Global

Wajar saja, setelah sebulan penuh berpuasa, ritme ibadah berubah lagi.

Ada yang ingin langsung mengganti utang puasa, ada juga yang mengejar puasa enam hari di bulan Syawal.

Nah, biar nggak bingung, yuk kita bahas pelan-pelan.

Kapan Puasa Qadha Bisa Dimulai?

Secara umum, puasa qadha Ramadan sudah boleh dilakukan sejak tanggal 2 Syawal, yaitu sehari setelah Hari Raya Idulfitri.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Meledak! Negara Asia Ini Paling Tersiksa, Indonesia Nomor Berapa?

Kenapa bukan langsung tanggal 1 Syawal? Karena pada hari Idulfitri umat Islam diharamkan berpuasa.

Hari tersebut adalah hari makan, minum, dan bersyukur atas kemenangan setelah Ramadan.

Jadi, begitu masuk 2 Syawal, umat Muslim yang memiliki utang puasa sudah diperbolehkan mulai menggantinya.

Nah, di sinilah banyak yang bilang, “Oh, jadi habis Lebaran langsung boleh puasa lagi?” Yup, betul sekali.

Namun, Islam juga memberi kelonggaran.

Puasa qadha tidak harus langsung dilakukan di bulan Syawal.

Waktunya masih panjang hingga sebelum Ramadan berikutnya tiba.

Lalu Bagaimana dengan Puasa Syawal?

Puasa sunnah Syawal dikenal memiliki keutamaan besar.

Baca Juga: 247 PPPK Sampang Kecewa Perpanjangan Kontrak Cuma Sampai 2 Tahun, Padahal di Aturan Bisa Mencapai 5 Tahun! Masalah Keuangan Jadi Alasan BKPSDM

Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang berpuasa Ramadan lalu diikuti enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti berpuasa sepanjang tahun.

Makanya, banyak umat Muslim langsung berburu puasa Syawal setelah Lebaran.

Tapi, muncul pertanyaan klasik: mana yang didahulukan, qadha atau puasa Syawal?

Qadha Dulu atau Syawal Dulu?

Mayoritas ulama berpendapat bahwa puasa qadha lebih utama didahulukan karena sifatnya wajib, sedangkan puasa Syawal adalah sunnah.

Baca Juga: Perpanjangan SK Jadi Celah! 78 Guru PPPK Dipungli Rp1 Juta, Inspektorat Bongkar Faktanya

Logikanya sederhana utang harus dilunasi lebih dulu.

Namun, sebagian ulama juga membolehkan mendahulukan puasa Syawal terlebih dahulu, terutama jika khawatir tidak sempat mendapatkan keutamaannya sebelum bulan Syawal berakhir.

Nah, di sinilah fleksibilitas Islam terasa.

Tidak kaku, tapi tetap terarah.

Bolehkah Niat Digabung?

Ini dia yang sering bikin diskusi panjang di media sosial.

Bolehkah puasa qadha sekaligus diniatkan sebagai puasa Syawal?

Pendapat ulama berbeda:

  1. Sebagian ulama membolehkan penggabungan niat dan berharap mendapat dua pahala.

  2. Sebagian lainnya menyarankan dipisah agar keutamaan masing-masing ibadah lebih sempurna.

Artinya, umat Muslim bisa memilih pendapat yang diyakini paling menenangkan hati dan sesuai dengan tuntunan ulama yang diikuti.

Puasa 10 Hari di Bulan Syawal, Apa Maksudnya?

Istilah “puasa 10 hari Syawal” biasanya merujuk pada kombinasi:

  1. Puasa qadha (misalnya 4 hari utang Ramadan)

  2. Ditambah puasa sunnah Syawal 6 hari

Baca Juga: Heboh Isu PHK Massal PPPK 2026! Rini Widyantini Pastikan Tidak Ada Penghapusan dan Gaji ASN Tetap Aman

Totalnya jadi sekitar 10 hari puasa di bulan Syawal.

Wah, kedengarannya berat? Eits, justru banyak yang merasa lebih ringan karena momentum Ramadan masih terasa.

Tubuh masih terbiasa, ritme ibadah juga belum hilang sepenuhnya.

Tips Menjalani Puasa Setelah Lebaran

Supaya tidak terasa berat, beberapa tips ini sering disarankan:

  1. Mulai secara bertahap, tidak harus langsung berturut-turut

  2. Pilih hari Senin dan Kamis agar lebih ringan

  3. Jaga pola makan setelah Lebaran (ini yang susah, ya!)

  4. Perbanyak niat ibadah, bukan sekadar menggugurkan kewajiban

Baca Juga: Panduan Lengkap Cek Info GTK 2026, Dari Login hingga Solusi Jika Tidak Valid Agar Tunjangan Tidak Terhambat

Karena pada akhirnya, puasa bukan hanya soal menahan lapar, tapi juga menjaga konsistensi spiritual setelah Ramadan berlalu.

Banyak ulama menyebut bulan Syawal sebagai ujian sebenarnya setelah Ramadan.

Kalau Ramadan ibarat “training camp”, maka Syawal adalah fase menjaga kebiasaan baik.

Jadi, memulai puasa qadha maupun puasa Syawal bukan sekadar rutinitas ibadah, tapi tanda bahwa semangat Ramadan masih hidup dalam diri.

Ya, mungkin godaan opor dan kue kering masih ada.

Tapi di situlah seninya menjaga keseimbangan antara nikmat Lebaran dan konsistensi ibadah.***