POJOKBOGOR.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini semakin diperluas.
Tidak hanya menyasar peserta didik dan kelompok rentan lainnya, pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) bersama Badan Gizi Nasional (BGN) memperkuat intervensi MBG untuk lansia dan penyandang disabilitas.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan kualitas gizi kelompok rentan sekaligus menekan angka malnutrisi di Indonesia.
Lansia dan penyandang disabilitas dinilai sebagai kelompok yang memiliki risiko tinggi terhadap masalah kesehatan akibat asupan gizi yang kurang optimal.
Baca Juga: Resmi Diperpanjang! Batas Lapor SPT Masa PPh 21 Desember 2025 Mundur Hingga 28 Februari 2026
Kolaborasi Kemensos dan BGN
Penguatan MBG untuk lansia dan disabilitas dilakukan melalui sinergi lintas sektor.
Kemensos berperan dalam pendataan dan validasi penerima manfaat berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), sementara BGN fokus pada penyediaan standar gizi, pengawasan kualitas makanan, serta distribusi.
Skema ini memastikan bantuan tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga memenuhi standar kebutuhan kalori, protein, vitamin, dan mineral yang sesuai dengan kondisi kesehatan penerima.
Bagi lansia, kebutuhan gizi berbeda dibandingkan usia produktif.
Demikian pula penyandang disabilitas yang dalam beberapa kondisi memerlukan asupan khusus sesuai rekomendasi medis.
Berapa Target Penerimanya?
Dalam penguatan tahap awal, pemerintah menargetkan jutaan penerima manfaat dari kalangan lansia dan penyandang disabilitas secara bertahap di berbagai daerah.
Secara nasional, target MBG untuk kelompok rentan ini diproyeksikan menjangkau lebih dari 2 juta lansia dan ratusan ribu penyandang disabilitas pada tahap pengembangan program.
Target tersebut akan terus disesuaikan dengan kapasitas anggaran dan kesiapan infrastruktur distribusi di daerah.
Pemerintah daerah juga dilibatkan untuk memastikan implementasi berjalan efektif.
Pendekatan berbasis data menjadi kunci agar program benar-benar menyasar mereka yang paling membutuhkan, terutama lansia tunggal, lansia miskin, serta penyandang disabilitas dari keluarga prasejahtera.
Fokus pada Pencegahan Masalah Gizi
Penguatan MBG untuk lansia dan disabilitas bukan sekadar program bantuan pangan.
Baca Juga: Bogor Masuk 12 Besar Nasional, Sabet Predikat Kota Menuju Bersih dari KLH
Pemerintah menekankan bahwa intervensi ini merupakan upaya preventif terhadap berbagai risiko kesehatan, seperti:
-
Malnutrisi kronis
-
Penurunan daya tahan tubuh
-
Komplikasi penyakit akibat kekurangan nutrisi
-
Risiko stunting dalam keluarga multigenerasi
Dengan asupan gizi yang terjamin, kualitas hidup lansia diharapkan meningkat, termasuk dalam menjaga aktivitas sehari-hari dan mencegah ketergantungan total.
Sementara itu, bagi penyandang disabilitas, asupan gizi yang cukup dapat membantu menjaga kondisi kesehatan serta menunjang rehabilitasi sosial dan produktivitas.
Mekanisme Penyaluran
Penyaluran MBG untuk lansia dan disabilitas dilakukan melalui beberapa mekanisme, antara lain:
-
Distribusi langsung ke rumah penerima yang tidak mandiri.
-
Penyaluran melalui sentra layanan sosial.
-
Kolaborasi dengan lembaga kesejahteraan sosial.
Model distribusi akan disesuaikan dengan kondisi wilayah, terutama daerah terpencil atau dengan akses terbatas.
Pengawasan juga dilakukan secara berlapis untuk memastikan makanan yang diterima layak konsumsi, higienis, serta sesuai standar gizi yang ditetapkan.
Dukungan Anggaran dan Evaluasi Berkala
Program ini didukung oleh alokasi anggaran khusus dalam kerangka penguatan ketahanan gizi nasional.
Evaluasi berkala dilakukan untuk mengukur efektivitas, cakupan penerima, serta dampak terhadap kondisi kesehatan lansia dan penyandang disabilitas.
Indikator keberhasilan tidak hanya dilihat dari jumlah penerima, tetapi juga perubahan status gizi dan kualitas hidup.
Pemerintah menegaskan bahwa MBG bukan program jangka pendek, melainkan bagian dari kebijakan jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia yang sehat dan inklusif.
Harapan bagi Kelompok Rentan
Penguatan MBG untuk lansia dan disabilitas menjadi sinyal bahwa kebijakan sosial semakin inklusif. Kelompok yang selama ini kerap terpinggirkan kini mendapat perhatian lebih dalam kebijakan nasional.
Baca Juga: Fakta di Balik Artefak Rasulullah yang Dipamerkan di Pakansari, Asli atau Replika?
Dengan target jutaan penerima manfaat, program ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata, terutama dalam mengurangi beban ekonomi keluarga miskin yang merawat lansia atau anggota keluarga dengan disabilitas.
Ke depan, pemerintah berencana memperluas cakupan wilayah serta meningkatkan kualitas layanan agar MBG benar-benar menjadi fondasi penguatan perlindungan sosial berbasis gizi.***




