POJOKBOGOR.id - Media Radar Bogor bekerja sama dengan Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor melaksanakan survei Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 di Kota Bogor.
Survei ini mencakup Pemilihan Gubernur Jawa Barat (Pilgub Jabar) dan Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Bogor.
Survei dilakukan pada 4–7 November 2024 dengan metode lapangan langsung di enam kecamatan di Kota Bogor.
Hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 3,97 persen masyarakat Kota Bogor belum menentukan pilihan atau yang biasa disebut swing voters.
Pengamat politik, Sofyan Sjaf, mengungkapkan beberapa penyebab tingginya jumlah masyarakat yang belum menentukan pilihan di Kota Bogor.
Menurut Sofyan, sosialisasi yang dilakukan para pasangan calon (Paslon) belum sepenuhnya menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
“Sehingga masyarakat belum memahami dengan jelas siapa sosok yang tepat untuk dipilih. Ketidaktahuan ini membuat mereka masih menebak-nebak,” ujar Sofyan.
Ia menambahkan bahwa meskipun para Paslon gencar menggunakan media sosial untuk berkampanye, pendekatan ini dinilai belum cukup untuk memperkenalkan gagasan yang akan mereka bawa dalam lima tahun ke depan.
Sofyan, yang juga dosen IPB University dan Dekan FEMA, menilai bahwa banyak dari Paslon belum cukup dikenal oleh masyarakat luas.
Bahkan, calon-calon yang lebih familiar umumnya adalah mereka yang sudah berurusan dengan kekuasaan.
“Kalau angka swing voters masih tinggi, itu juga bisa berarti masyarakat mempertanyakan kinerja para calon yang sebelumnya terlibat dalam pemerintahan,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa kejenuhan masyarakat terhadap Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) sebelumnya mungkin masih terasa.
“Kejenuhan ini perlu diantisipasi oleh para Paslon. Ini adalah saatnya bagi mereka yang serius maju untuk memperbaiki pendekatan mereka,” imbuhnya.
Sofyan menambahkan bahwa alat peraga kampanye (APK) yang digunakan Paslon untuk menarik perhatian masyarakat tidak sepenuhnya efektif.
“APK memiliki keterbatasan karena tidak semua warga memiliki akses atau perhatian terhadapnya,” tutupnya.
Penanggung jawab survei, Benny Irawan, menyampaikan bahwa Paslon Nomor Urut 3, Dedie Rachim-Jenal Mutaqin, masih memimpin dengan perolehan suara tertinggi, yaitu 33,38 persen.
Namun, posisi ini semakin terancam karena perbedaan suara dengan pesaing terdekatnya semakin kecil.
Paslon Nomor Urut 2, Atang Trisnanto dan Annida Allivia, berada di posisi kedua dengan 24,66 persen suara.
Diikuti oleh Paslon Nomor Urut 1, Sendi Fardiansyah dan Melli Darsa, dengan 14,05 persen suara.
Paslon Nomor Urut 5, Dokter Rayendra dan Eka Maulana, mendapatkan 13,66 persen suara, sementara Paslon Nomor Urut 4, Rena Da Frina dan Teddy Risandi, berada di posisi terakhir dengan 10,27 persen.
Penurunan elektabilitas Dedie Rachim-Jenal diduga terjadi karena berbagai faktor, seperti kritik terhadap kinerja kampanye mereka dan kehadiran pesaing baru yang menawarkan solusi inovatif.
Fokus kampanye pesaing pada isu ekonomi, kesehatan, dan pendidikan berhasil menarik perhatian pemilih muda.
Sofyan Sjaf menyatakan bahwa dinamika ini menunjukkan pemilih Kota Bogor semakin matang dalam menentukan pilihan.
Harapan besar masyarakat terhadap perubahan positif, terutama dalam menyelesaikan permasalahan perkotaan, menjadi faktor utama yang memengaruhi hasil survei.
Dengan semakin dekatnya Pilkada 2024, kondisi ini menjadi tantangan besar bagi para Paslon, terutama Dedie Rachim-Jenal, untuk mempertahankan dukungan.
Dinamika politik yang terus berubah diprediksi akan memengaruhi strategi para calon dalam beberapa bulan ke depan.***


.webp)

