POJOKBOGOR.id – Ancaman perubahan iklim dan kerusakan lingkungan mendorong pentingnya kolaborasi lintas sektor. Pemkot Bogor pun menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran ilmu pengetahuan dan inovasi dalam menghadirkan solusi berkelanjutan.
Wali Kota Bogor Dedie Rachim menyampaikan hal tersebut saat menghadiri The 5th International Conference on Tropical Biology yang digelar SEAMEO BIOTROP di IPB International Convention Center (IPB ICC), Senin (5/10/2026).
Konferensi tersebut mengangkat tema “Biodiversity Beyond Boundaries, Advancing Global Education, Bioscience and Sustainable Landscapes.”
Menurut Dedie, tema yang diangkat sangat relevan dengan berbagai persoalan lingkungan yang kini dihadapi masyarakat dunia. Perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, pertumbuhan populasi, degradasi lahan hingga tekanan terhadap sumber daya alam menjadi persoalan yang tidak mengenal batas wilayah.
“Perubahan iklim, hilangnya biodiversitas, pertumbuhan populasi, degradasi lahan, dan tekanan terhadap sumber daya alam tidak mengenal batas administratif. Karena itu, respons kita juga tidak dapat dibatasi oleh batas-batas tersebut,” kata Dedie.
Ia menilai persoalan tersebut harus dijawab melalui keterhubungan antara ilmu pengetahuan, pendidikan, inovasi, kebijakan publik dan masyarakat.
Bogor Didorong Jadi Kota Sains Berkelanjutan
Dedie menyebut konferensi internasional tersebut sejalan dengan program Pemkot Bogor dalam memperkuat posisi Bogor sebagai kota sains.
Ia ingin Bogor tidak hanya dikenal sebagai tempat berkembangnya lembaga pendidikan dan penelitian, tetapi juga menjadi ruang bertemunya gagasan, inovasi dan kebutuhan masyarakat.
“Bogor sebagai kota sains yang maju dan berkelanjutan, tempat pengetahuan bertemu dengan inovasi serta ilmu pengetahuan terhubung dengan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Dedie, ilmu pengetahuan membantu pemerintah memahami persoalan, pendidikan membangun kesadaran masyarakat, sementara inovasi melahirkan berbagai solusi.
Namun, seluruh pengetahuan tersebut membutuhkan kolaborasi agar dapat diterjemahkan menjadi tindakan yang memberikan manfaat nyata.
Pemkot Bogor juga memandang masyarakat lokal sebagai bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan.
Pengetahuan dan pengalaman masyarakat di lapangan dinilai dapat melengkapi hasil penelitian ilmiah sehingga berbagai program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Kami berharap Bogor menjadi ruang hidup bagi perubahan yang nyata, tempat penelitian bertemu, gagasan dibagikan, kemitraan dibangun, dan ilmu pengetahuan menciptakan dampak bagi masyarakat,” ungkap Dedie.
Asia Hadapi Tekanan terhadap Biodiversitas
Direktur SEAMEO BIOTROP Edi Santosa mengatakan Asia merupakan salah satu kawasan dengan kekayaan biodiversitas terbesar di dunia.
Meski mencakup sekitar 30 persen wilayah dunia, Asia memiliki hampir 20 persen biodiversitas dunia. Kawasan ini juga memiliki sejumlah hotspot biodiversitas global dan lebih dari 17 negara megabiodiversitas, termasuk Indonesia, Malaysia dan Filipina.
Namun, kekayaan tersebut menghadapi berbagai ancaman. Ekspansi pertanian dan pembangunan, perubahan iklim, perubahan penggunaan lahan, pemanfaatan sumber daya yang tidak berkelanjutan serta polusi menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
“Tantangannya bukan hanya bagaimana kita dapat mengembangkan biodiversitas, tetapi juga bagaimana memastikan biodiversitas tetap mendukung kehidupan masyarakat dan berkembang secara berkelanjutan untuk generasi mendatang,” kata Edi.
Ia menilai penyelesaian persoalan tersebut membutuhkan perpaduan ilmu pengetahuan, pendidikan, inovasi, intervensi kebijakan dan kolaborasi regional.
SEAMEO BIOTROP sendiri merupakan Regional Centre di bawah SEAMEO yang berdiri sejak 1968. Lembaga tersebut memiliki mandat dalam pengembangan dan pengelolaan biologi tropis secara berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.
Melalui penelitian, pelatihan, peningkatan kapasitas serta penyebarluasan pengetahuan, SEAMEO BIOTROP mendorong penguatan sumber daya manusia dan kerja sama regional dalam menjaga kekayaan hayati tropis.
Bagi Kota Bogor, forum tersebut menjadi momentum untuk mempertemukan kekuatan akademisi, pemerintah dan masyarakat dalam mencari solusi atas persoalan lingkungan sekaligus memperkuat identitas Bogor sebagai kota sains yang berkelanjutan.



