POJOKBOGOR.id - Rangkaian razia terhadap musisi jalanan di Kota Bogor akhir-akhir ini menyisakan keresahan di kalangan komunitas seni.

Salah satu suara yang paling lantang datang dari Rumah Kreatif Keboen Sastra, lembaga seni yang selama ini aktif membina para musisi jalanan di Kota Hujan.

Herie Matahari, pendiri Rumah Kreatif Keboen Sastra, menyayangkan tindakan razia yang menurutnya terjadi tanpa komunikasi yang jelas antara Pemerintah Kota Bogor dan komunitas seni lokal.

Ironisnya, beberapa musisi yang terjaring razia ternyata merupakan peserta Workshop Manajemen Musik Jalanan yang digelar pada Juni 2024 silam yang bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek RI.

“Musisi-musisi yang diamankan itu bukan preman. Mereka sudah dibina, ikut pelatihan resmi, dan berusaha tampil secara tertib di ruang publik. Sangat disayangkan kalau mereka malah dianggap sebagai pelanggar,” ujar Herie.

Menurut Herie, yang dibutuhkan saat ini bukan penertiban membabi buta, melainkan pemetaan yang jelas.

Ia mengusulkan agar Pemkot Bogor menggandeng komunitas seni untuk membantu membedakan antara musisi yang berkontribusi secara positif dan mereka yang justru mengganggu ketertiban umum.

Apalagi, kata Herie, Pemkot sendiri pernah menunjukkan itikad baik.

Dalam acara REKKAM ART 2024, Sekda Kota Bogor Syarifah Sopiah Dwikorawati secara terbuka mendorong dinas-dinas untuk bekerja sama dengan komunitas seni dan membuka akses ruang publik bagi musisi yang sudah terdata.

Bahkan, beberapa musisi yang kini terkena razia diketahui pernah tampil secara resmi di acara yang dihadiri bahkan diundang langsung oleh Wali Kota Dedie Rachim.

Mereka bukan orang baru, melainkan wajah-wajah yang sudah berkontribusi dalam geliat budaya Kota Bogor.

“Ini bukti mereka punya kapasitas. Mereka pernah tampil saat Pak Dedie mencalonkan diri sebagai Wali Kota. Jadi bukan tiba-tiba muncul di pinggir jalan,” ucap Herie.

Ke depan, Rumah Kreatif Keboen Sastra berencana mengajukan audiensi kepada Wali Kota dan dinas terkait.

Mereka membawa usulan konkret, salah satunya pemberian identitas resmi bagi musisi jalanan binaan agar dapat dibedakan dengan pihak-pihak yang menyalahgunakan ruang publik.

Sejak sebelum pandemi, Herie dan timnya sudah berupaya menghidupkan taman-taman kota lewat pertunjukan musik jalanan.

Baginya, musisi jalanan adalah wajah lain dari kota yang kreatif, hidup, dan dekat dengan masyarakat.

“Jika diberi ruang dan diarahkan, mereka bisa jadi magnet wisata budaya, memperkuat citra Kota Bogor sebagai kota kreatif dan ramah,” tuturnya.

Aspirasi mereka sederhana: ruang, dukungan, dan dialog.

Herie berharap Pemkot tidak hanya melihat sisi ketertiban, tetapi juga potensi besar yang dimiliki musisi jalanan dalam membangun atmosfer kota yang hidup dan berbudaya.

“Kalau musisi jalanan terus-menerus dipinggirkan tanpa ruang dialog, mimpi tentang kota kreatif hanya akan jadi slogan. Padahal, membangun kota yang cerdas dan berbudaya itu butuh semua pihak, termasuk kami yang berkarya dari jalanan,” pungkasnya.***