BOGOR, POJOKBOGOR.id - Penantian panjang warga Kelurahan Pasir Jaya, Kecamatan Bogor Barat, dan Kelurahan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah, akhirnya berbuah manis.

Jembatan penghubung kedua wilayah tersebut resmi dibuka oleh Wali Kota Bogor Dedie Rachim bersama Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin, Jumat (23/10/2026).

Jembatan yang dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bogor senilai Rp2,7 miliar ini bukan sekadar infrastruktur fisik.

Kehadirannya menjadi jawaban atas aspirasi masyarakat yang selama bertahun-tahun menginginkan akses penghubung lebih mudah sekaligus simbol upaya meruntuhkan sekat sosial antarwarga.

Di balik rampungnya pembangunan tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang diwarnai dinamika sosial, kekhawatiran soal keamanan, hingga gerakan warga mengumpulkan “1.000 Koin” sebagai bentuk desakan agar jembatan segera diwujudkan.

Wali Kota Bogor Dedie Rachim mengatakan, pembangunan jembatan ini merupakan hasil perjuangan masyarakat yang menginginkan konektivitas lebih baik antara Bogor Barat dan Bogor Tengah.

“Alhamdulillah, ikhtiar masyarakat yang menginginkan konektivitas antara Bogor Barat dengan Bogor Tengah hari ini terlaksana. Jembatan Penghubung Pasir Jaya dengan Paledang mulai sekarang bisa dimanfaatkan. Anggaran jembatan ini dari uang rakyat, kita kembalikan ke rakyat, dan kita minta masyarakat menjaga serta memeliharanya,” ujar Dedie seusai peresmian.

Sempat Diwarnai Kekhawatiran Keamanan

Dedie mengungkapkan, proses pembangunan jembatan tidak berlangsung instan. Gagasan pembangunan sudah muncul sejak 2020, tetapi realisasinya membutuhkan komunikasi intensif karena sempat muncul kekhawatiran mengenai keamanan setelah akses kedua kelurahan terbuka.

Bahkan, gerakan 1.000 Koin sempat digalang warga sebagai simbol kuatnya harapan agar jembatan tersebut segera dibangun.

Untuk mengatasi perbedaan pandangan, Dedie menugaskan Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin turun langsung menjembatani komunikasi antarmasyarakat.

“Butuh langkah komunikasi yang intens dan silaturahmi yang betul-betul menguatkan. Saya tugaskan Pak Wakil Wali Kota, dan Alhamdulillah beliau sampai turun sembilan kali ke lokasi untuk memastikan semua pihak sepakat,” jelasnya.

Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin mengatakan, proses penyamaan persepsi melibatkan sembilan kali rapat lintas kelurahan serta tiga kali pembahasan intensif di Balai Kota Bogor.

Tokoh masyarakat, alim ulama, hingga kader Posyandu turut dilibatkan untuk membangun kesepahaman dan mencari solusi yang dapat diterima semua pihak.

Pemkot Bogor juga menyiapkan langkah antisipasi terhadap kekhawatiran warga mengenai potensi gangguan keamanan. Petugas keamanan atau security dari masing-masing kelurahan akan disiagakan di area jembatan, sementara portal dipasang di kedua ujungnya.

“Penjagaan ini sifatnya sementara untuk mengontrol dan membangun rasa saling percaya (ukhuwah). Kalau situasi sudah kondusif dan warga sudah saling percaya, tentu peran menjaga akan berjalan secara alami oleh masyarakat sendiri,” kata Jenal.

Pemerintah berharap, langkah tersebut dapat menciptakan rasa aman sekaligus memperkuat hubungan sosial warga Pasir Jaya dan Paledang.

Pembangunan Jembatan Jadi Jawaban Aspirasi Warga

Rampungnya jembatan penghubung Pasir Jaya-Paledang merupakan bagian dari upaya Pemkot Bogor meningkatkan aksesibilitas dan keselamatan masyarakat, terutama di kawasan permukiman yang memiliki tantangan geografis.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Bogor juga merealisasikan pembangunan infrastruktur strategis di Kelurahan Paledang pada tahun anggaran 2026, termasuk Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di kawasan Lebak Sari.

Lurah Paledang, Ali Firdaus Abdul Kadir, sebelumnya menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur tersebut merupakan hasil aspirasi warga yang diperjuangkan bersama berbagai pihak.

Ali menyebut pembangunan JPO Lebak Sari memiliki nilai anggaran sekitar Rp2,7 miliar, dengan panjang 45,6 meter dan lebar 1,8 meter.

Pembangunan di kawasan tersebut menghadapi tantangan berupa kontur tanah berbukit dan permukiman padat. Kondisi ini membuat distribusi material menuju lokasi pekerjaan tidak mudah.

Meski demikian, proyek tersebut turut melibatkan tenaga kerja lokal. Sekitar 14 warga setempat dilibatkan dalam proses pengerjaan sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat.

Akses Jalan Lingkungan Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Meski pembangunan jembatan menjadi kabar baik, persoalan infrastruktur di Paledang belum sepenuhnya selesai.

Ali mengakui, akses jalan lingkungan yang sempit masih menjadi persoalan utama masyarakat. Kondisi tersebut dapat menyulitkan mobilisasi ambulans maupun proses evakuasi ketika warga mengalami kondisi darurat.

“Akses jalan lingkungan yang sempit memang menjadi PR besar bagi kami. Ketika ada warga yang sakit atau meninggal dunia, proses evakuasi atau mobilisasi ambulans menjadi sangat sulit. Ini aspirasi yang sudah tertahan bahkan lebih dari 20 tahun,” ungkap Ali.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Kelurahan Paledang merencanakan perbaikan akses jalan gedoran serta pembenahan sistem drainase lingkungan pada tahun anggaran 2027.

Ali menegaskan, pembangunan wilayah membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, legislatif, kelurahan, lembaga pemberdayaan masyarakat (LPM), warga, dan media agar program yang dijalankan sesuai kebutuhan masyarakat.