BOGOR.POJOKSATU.id - Seperti yang kalian semua ketahui, di Indonesia sampah memang menjadi permasalahan serius yang harus segera mendapatkan solusi yang tepat. Sebab karena sampah bukan hanya menimbulkan berbagai penyakit saja, tapi permasalahan bagi dunia.
Dan kini Pemerintah Kota Bogor mengakselerasi realisasi proyek strategis nasional Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
Saat ini, berbagai persiapan teknis tengah dilakukan sebagai tindak lanjut dari arahan pemerintah pusat, termasuk pemenuhan sejumlah syarat administratif yang mendesak.
Proyek yang mengusung konsep konversi sampah menjadi energi ini menargetkan pengumpulan sedikitnya 1.500 ton sampah per hari.
Guna mencapai angka tersebut, Pemkot Bogor menggandeng Pemerintah Kabupaten Bogor untuk memastikan suplai sampah dapat terpenuhi secara konsisten.
“Kami ditugaskan untuk menyediakan minimal 1.500 ton sampah setiap harinya. Ini jumlah yang sangat besar sehingga butuh kolaborasi erat dengan Kabupaten Bogor,” ungkap Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim.
Untuk mendukung kebutuhan infrastruktur proyek, Pemkot telah menyiapkan lahan seluas 38 hektare di kawasan Galuga.
Di lokasi inilah nantinya fasilitas insinerator akan dibangun sebagai pusat pengolahan sampah menjadi energi listrik.
Dedie menambahkan, selain kesiapan lahan, pihaknya juga tengah mempercepat proses perizinan yang diperlukan agar pembangunan fisik bisa segera dimulai.
“Dari sisi teknis, semua perizinan sedang kami percepat. Lahannya sudah ada, sekarang kami fokus memastikan pasokan dan pengangkutan sampah berjalan lancar dan stabil,” jelasnya.
PSEL Bogor merupakan bagian dari proyek prioritas nasional yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35 Tahun 2018, yang saat ini sedang dalam proses revisi.
Dalam rapat koordinasi terbaru yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan dihadiri Menteri LHK serta Mendagri, Kota Bogor menjadi salah satu dari 33 daerah yang diprioritaskan untuk implementasi PSEL.
Ke depannya, energi listrik yang dihasilkan dari fasilitas ini akan dijual kepada PLN dengan estimasi harga sekitar 8 sen dolar Amerika Serikat per kilowatt hour (KWH).
Sementara itu, pemerintah pusat menargetkan pengelolaan sampah nasional bisa mencapai 100 persen pada tahun 2029, sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Program ini juga menjadi bagian dari arahan langsung Presiden Prabowo Subianto kepada pemerintah daerah agar bertransformasi dalam pengelolaan sampah secara menyeluruh dan modern.
“Kami tidak ingin terus bergantung pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Proyek ini adalah bentuk nyata dari transformasi besar sistem pengelolaan sampah di Kota Bogor,” tegas Dedie.
Dengan langkah cepat dan terstruktur ini, Pemkot Bogor berharap proyek PSEL dapat segera berjalan dan menjadi solusi jangka panjang untuk permasalahan sampah, sekaligus memperkuat ketahanan energi daerah. ***



