POJOKBOGOR.id - Ahmad Saugi terpaksa meminta maaf usai mengunggah video Gibran bocah Bojojnggede, Kabupaten Bogor, saat kelaparan.
Ahmad Saugi seorang memviralkan kisah Gibran, bocah kelaparan asal Desa Rawapanjang, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor.
Niat baiknya untuk memviralkan kisah Gibran, Ahmad Saugi malah disebut melanggar hukum.
Padahal imbas dari viralnya video soal Gibran yang diunggah Ahmad Saugi, Gibran sekeluarga jadi banyak dapat atensi.
Saugi mengunggah kosah Gibran di akun TikTok. Dalam video terlihat Gibran menangis histeris di depan rumahnya karena lapar.
Mengetahui anaknya lapar, ibunda Gibran malah memarahinya.
"Aku udah lapar mah," teriak Gibran.
"Cari sendiri, gue enggak punya duit, cari sendiri," kata seorang wanita di dalam rumah diduga ibunda Gibran.
Pasca-kejadian tersebut, Saugi pun berinisiatif mengajak Gibran dan dua adiknya untuk makan di restoran cepat saji.
Baca Juga: Pusing dengan Masalah Konsinyasi dan Pengamanan Aset Pemkot Kini Libatkan PN kelas 1 A Bogor
Saugi juga memberikan beberapa makanan dan kebutuhan sehari-hari untuk Gibran.
Selang dua hari viral, pihak Kecamatan Bojonggede pun ikut bertindak.
Termasuk dari pihak Kecamatan Bojonggede hingga netizen di media sosial.
Namun beberapa hari setelah viral, Ahmad Saugi justru membuat pernyataan mengejutkan.
Dalam video terbarunya di TikTok, Ahmad Saugi menyebut dirinya telah salah karena memviralkan kisah Gibran.
Terlihat tertekan, Ahmad Saugi lesu mengungkap kesalahannya karena memviralkan sosok Gibran dan keluarga.
"Dalam hal ini, sebagai pelaku yang menyebarkan video tentang 'abang cuma minta makan' di akun TikTok saya. Dengan ini mengatakan bahwa penyebaran video tersebut telah melanggar hukum ketentuan dan peraturan yang berlaku," kata Ahmad Saugi, Selasa 7 Mei 2024.
Ada empat poin kenapa konten Ahmad Saugi tentang kisah Gibran kelaparan dianggap melanggar hukum.
Di antaranya adalah:
- Tidak berizin dari pihak keluarga yang ada di video ini.
- Tidak konfirmasi dan koordinasi dengan lingkungan, tetangga, RT, RW, Pemda dan Kecamatan
- Tidak melindungi hak keluarga
- Tidak sesuai dengan data dan fakta yang sebenarnya
Atas keviralan kisah Gibran hingga menyedot perhatian satu Indonesia, Ahmad Saugi minta maaf.
"Saya menyadari bahwa perbuatan saya adalah salah dan melanggar hukum. Maka dengan ini saya akan menghapus akun TikTok saya, menghapus akun medsos lainnya yang ada di video tersebut," pungkas Ahmad Saugi.
"Permohonan maaf sebesar-besarnya kepada bapak Hamzah dan tokoh masyarakat dan agama Desa Rawa Panjang, warga setempat, pengurus RT RW setempat, instansi dan pemerintah Rawa Panjang Desa Bojonggede," sambungnya.
Sosok pria bernama Ahmad Saugi yang viralkan kisah Gibran bocah kelaparan di Bojonggede Kabupaten Bogor. Niat baik Saugi untuk membantu Gibran malah dijegal.
Selain minta maaf, Ahmad Saugi juga menghapus semua kontennya tentang kisah Gibran di TikTok.
Sebelumnya diberitakan, Camat Bojonggede Tenny Ramdhani dan perangkat desa pun mendatangi rumah Gibran usai mengetahui respon video Gibran sangat besar di media sosial.
"Hari ini Minggu 5 Mei 2024 pukul 11.00 WIB Camat Bojonggede Tenny Ramdhani didampingi Sekcam Elfi Nila Hartani serta Kepala Desa Rawapanjang Mohammad Agus bersama Ketua RT dan RW serta Ketua TP PKK Desa Rawapanjang, meninjau langsung ke lokasi video viral," kata Tenny.
Pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Bogor untuk Pemantauan lebih lanjut agar dilakukan asessment oleh pendamping social.
Pasca-viral, Gibran dan keluarga pun jadi pantauan Dinsos Kabupaten Bogor hingga mendapatkan sejumlah bantuan berupa sembako.
Tenny menyebut bocah bernama Gibran (6) dan dua adiknya tidak masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Tenny menerangkan, kedua orang tua Gibran belum memiliki Kartu Keluarga (KK) yang tergabung, sehingga baik Gibran maupun kedua adiknya tidak terdaftar dalam DTKS.
"Karena KK-nya masih menginduk ke satu orang saja, ke bapak Hamzah, sementara anaknya yang 3 tidak terdaftar dalam KK tersebut, itu yang kami sayangkan dan tidak pernah melapor juga ke RT, RW," kata Tenny pada Selasa, 7 Mei 2024.
Tenny menyebut, Gibran dan keluarganya sudah mendapat perhatian dari tetangga, Ketua RT, dan Ketua RW.
"Karena mereka tau Pak Hamzah sebagai buruh lepas yang bekerja di luar kota anaknya ditinggal kemudian ibunya si anak-anak ini tidak selalu berada di tempat, sering ditinggal maka para tetangga Rt RW sering memberikan makanan," paparnya.
Ia menambahkan, sudah berkoordinasi dengan pihak Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bogor untuk memudahkan pendamping sosial melakukan assessment kepada keluarga Gibran.


.webp)
