POJOKBOGOR.id - Polresta Bogor Kota berhasil mengungkap kasus pungan liar alias pungli yang dilakukan preman di Pasar Merdeka Kota Bogor eks Bioskop Presiden.

Banyak warga di lokasi eks Bioskop Presiden Jalan Merdeka, mengaku menjadi tempat suburnya aksi premanisme berkedok ormas (organisasi masyarakat) yang tak segan segan mengancam warga dan pedagang jika tidak memberikan uang keamanan.

Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, Ajun Komisaris Polisi Aji Riznaldi Nugroho menjelaskan kronologisnya.

AKP Aji Riznaldi Nugroho mengaku mendapatkan laporan pungli dari pedagang di Pasar Merdeka yang mengeluhkan pungli sebesar Rp 80.000 sampai dengan Rp 100.000 setiap harinya.

Baca Juga: Sukses Ajak Sheilagank di Medan Bernostalgia, bank bjb Tawarkan Kartu ATM Edisi Khusus!

Dari informasi yang didapatkan, preman yang melakukan pungli di Pasar Merdeka Kota Bogor dilakukan oleh Jufri dan Eeng yang merupakan gabungan anggota Ormas Pemuda Pancasila, Laskar Mera Putih Indonesia dan BBPKB.

"Yang bersangkutan dengan mengatasnamakan paguyuban Gebak. Ormas ormas tersebut diketahui berasal dari Kabupaten Bogor, salah satunya Desa Petir Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor," ungkap AKP Aji.

Adapun, sambung AKP Aji, pungli dilakukan dengan cara menjual minuman air mineral yang dijual dengan harga tidak normal kepada pedagang dan dilakukan lebih dari 3 kali dari pukul 03.00 WIB - jam 06.00 WIB.

Namun, dari hasil pengusutan, Polrets Bogor Kota masih belum bisa menguak siapa yang membekingi aksi premanisme tersebut.

Baca Juga: Relawan Dokter Rayendra-Eka Maulana Turun Tangan Atasi Kemacetan Parah di Kota Bogor

Diketahui, sebelumnya keluhan itu diungkapkan, Boy, warga RT 2 RW 5 Kampung Ciwaringin, Kecamatan Bogor Tengah, yang melaporkan kondisi ini ke pemerintahan Kota Bogor.

"Jadi kami sudah berusaha dengan membuat pengaduan ke Pemkot Bogor tetapi sudah hampir bertahun-tahun tidak ada tindakan tegas," ujarnya.

Lanjut Boy mengatakan, pasar tumpah yang hampir puluhan tahun itu tidak dapat tindakan tegas dari Pemkot maupun pihak kepolisian dalam hal ini, Polresta Bogor Kota.

Pada tahun 2020 sampai terakhir 2023 warga sudah berkirim surat kepada pemerintah daerah.

"Sempat ada relokasi beberapa kali terhadap pedagang di pasar tumpah presiden, tetapi mereka kembali lagi ke jalan karena Satpol PP sampai aparat kepolisian tidak berani menangkap pelaku yang mengancam," ujarnya.

Baca Juga: Nurunnisa Setiawan usulkan Berbagai Evaluasi usai Meninggalnya Wisatawan dan Kemacetan Parah di Jalur Puncak

Pasar tumpah sendiri mulai ada sejak jam sembilan malam sampai jam tujuh pagi.

Selain menimbulkan kemacetan di jam-jam itu karena memakan badan jalan, pasar ini juga menyisakan tumpukan sampah yang harus diangkut truk sampah setiap hari.

Dalam perkembangannya, para pedagang di pasar tersebut bersedia di relokasi. Namun, upaya itu selama ini terhalang karena para pedagang juga mendapat intimidasi dari ormas.

"Jadi memang ada warga kita yang jualan di pasar itu dan belakangan mereka mengeluhkan karena ada pungli dari ormas dari BPPKB Banten, pedagang itu harus setor Rp150 ribu sampai Rp 300 ribu," kata Boy.

Boy mengatakan tidak hanya aksi premanisme, ormas itu juga mengintimidasi warga dan pedagang. Bahkan mereka berani mengancam pedagang dan warga dengan senjata tajam dan senjata api.

"Info yang saya terima ada warga yang jadi pedagang di pasar itu jadi korban pembacokan hingga meninggal dunia oleh ormas itu, korbannya warga kita yang juga pedagang di pasar," kata Boy.

Boy mengharapkan Pemkot Bogor segera menindak tegas dengan relokasi pasar tumpah presiden di Jalan Merdeka, Bogor Tengah. Sehingga tidak ada lagi kemacetan dan aksi premanisme di lokasi itu.

"Harapannya kita minta Pemkot Bogor mau relokasi pedagang jadi tidak lagi ada kemacetan, dan pihak kepolisian juga menindak tegas ormas yang melakukan premanisme di Pasar Merdeka, karena kami sendiri sudah merasa resah," tandasnya.