POJOKBOGOR - Setelah 7 tahun direvitaslisasi, akhirnya Masjid Agung Kota Bogor diresmikan hari ini, Kamis 28 Maret 2024.
Peresmian Masjid Agung Kota Bogor menjadi kado terakhir Bima Arya Sugiarto yang menjadi wali Kota Bogor selama dua periode, 2014 - 2024.
Masa jabatan Bima Arya akan berakhir pada pertengahan April 2024. Sisa jabatan Bima kurang dari sebulan lagi.
Baca Juga: Perumda Kahuripan Pastikan Pasokan Air Bersih Selama Libur Lebaran
Bima Arya meresmikan masjid kebanggaan masyarakat Kota Bogor tersebut pada Kamis pagi. Peresmian dihadiri Menteri Perdagangan yang juga Ketua Umum DPP PAN, Zulkifli Hasan (Zulhas).
Bima mengatakan, revitalisasi Masjid Agung dimulai sejak tahun 2016 silam. Proyek ini dilakukan didasari semakin bertambah dan membesarnya kebutuhan penampungan jemaah setiap tahun.
Selama 7 tahun berjalan, Bima menyebut, anggaran yang digelontorkan dalam revitalisasi Masjid Agung mencapai Rp113,3 Miliar.
Baca Juga: Pj Bupati Bogor Serahkan SK Pengangkatan 4.044 PPPK
“Ini bukan soal keinginan kami mempunyai masjid yang megah dan bagus melainkan masjid yang makmur dan penuh makna. Karena masjid ini bersebelahan dengan Alun-alun yang menjadi pusat kegiatan sosial. Bersebelahan dengan pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi. Dan di belakangnya ada stasiun yang mengantarkan ratusan ribu warga masuk ke Kota Bogor,” ujarnya.
Bima berharap, Masjid Agung ke depan bukan saja jadi pusat ibadah melainkan juga pusat pemberdayaan umat secara ekonomi, pusat kegiatan sosial, dan pusat peradaban.
“Masjid ini akan jadi rempat berkumpul yang nyaman bukan saja untuk antar ulama. Tapi antara ulama dan umara, pemimpin kota, dan menjadi kawah chandra dimuka bagi pemimpin masa depan. Di masjid ini akan terjadi dialektika, diskusi, pengajian dan hal-hal yangg memberikan pencerahan bagi anak muda,” harapnya.
Oleh karena itu, Bima menitipkan Masjid Agung agar dikelola dengan baik dan amanah. Didorong menjadi masjid milik semua umat sehingga tidak ada umat Islam yang dipinggirkan di Kota Bogor
Bima menegaskan, Masjid Agung mesti menjadi masjid pemersatu dan jembatan nomor satu bagi umat di Kota Bogor yang menyambungkan kaum mampu dengan dhuafa, umat dari berbagai mahzab, serta memberikan rahmatan lil alamin bagi Kota Bogor dan Indonesia.
“Pengelolanya harus profesional, melibatkan semua unsur, bisa mengayomi, dan mempersatukan. Jadi sebelum mengakhiri masa jabatan ini, saya akan fokus untuk merumuskan DKM masjid ini. Siapa saja yang ada di dalamnya, kewenangannya, penganggarannya dari mana saja. Karena ini masjid yang sangat strategis. Harus bisa memberdayakan semua,” tekannya.
Ia pun mendorong Masjid Agung menjadi katalisator tertibnya kawasan Dewi Sartika. Sehingga turut mengerek kondisi pasar dan Alun-alun supaya tidak lagi semrawut.
Revitalisasi membawa banyak perubahan pada wajah Masjid Agung. Kini masjid yang memiliki luas sekira 4 ribu meter persegi itu, terkesan lebih modern dan estetik dengan cat yang dominan berwarna putih.
Dari segi ukuran, Masjid Agung saat ini juga tampak lebih megah. Masjid ini bahkan bisa menampung hingga 5 ribu jemaah di bagian ruang utama dan lantai atasnya. Lahan parkirnya bisa menampung ratusan unit kendaraan.
Masjid ini juga memiliki menara pandang yang amat tinggi hingga mencapai 51 meter. Menara pandang Masjid Agung dibuka secara umum sehingga masyarakat atau jemaah bisa naik ke atas dan melihat panorama Kota Bogor.
Masyarakat tak perlu khawatir kelelahan karena menara ini akan dilengkapi dengan lift, sehingga dapat lebih mudah naik dan turun puncak menara. Menara ini diklaim sebagai satu-satunya menara pandang yang bisa dinaiki secara umum oleh masyarakat.
Masjid Agung juga dilengkapi dengan taman bernama Taman Asmaul Husna di sisi kirinya. Taman yang dihiasi pilar-pilar bertuliskan Asma Allah ini menjadi penghubung antara lingkungan Masjid Agung dengan Alun-alun.
Sebelum berdiri megah seperti sekarang, proses revitalisasi Masjid Agung melalui perjalanan yang begitu panjang dan penuh dinamika.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bogor, Rena Da Frina menuturkan proses revitalisasi Masjid Agung dimulai pada tahun 2016. Saat itu Dinas Pengawasan Bangunan dan Permukiman (Wasbangkim) lah yang menjadi penanggung jawab proyek ini.
Pada tahap awal revitalisasi lingkup pekerjaannya yakni pembongkaran dan pembangunan struktur. Dana yang digunakan ialah anggaran yang berasal dari Bantuan Keuangan Provinsi Jawa Barat senilai Rp12,6 miliar dengan realisasinya hanya Rp9 miliar.
Di tahun 2017 Rena menyebut tidak ada kegiatan fisik yang dilakukan pada proyek ini. Kegiatan fisik baru dilakukan setahun setelahnya pada tahun 2018.
Di tahun itu Dinas Wasbangkim masih jadi pihak pengampu. Lingkup pekerjaan yang digarap ialah pembangunan struktur lanjutan dengan total nilai Rp8,6 miliar.
“Di 2019 tidak ada pembangunan fisik. Tapi dilakukan kajian struktur oleh Kementerian PUPR. Lalu di tahun 2020 pengampu proyek ini dipindahkan ke Dinas PUPR Kota Bogor. Lingkup pekerjaan di tahun itu yakni review DED, perbaikan struktur, finishing lantai, dan sistem drainase anggaran yang dikeluarkan senilai Rp5,5 miliar,” terang Rena.
Pada tahun 2021, Dinas PUPR kembali melanjutkan pembangunan meliputi pekerjaan struktur, arsitektur, dan enamel. Total anggaran yang digelontorkan pada tahun ini senilai Rp30,9 miliar.
“Di 2022 ada kegiatan fisik meliputi pekerjaan struktur dan fasad dengan nilai anggaran Rp25,8 miliar. Selanjutnya di tahun 2023 kami melakukan finishing, lanjutan fasad, dan interior dengan anggaran Rp33,1 miliar,” imbuh Rena.
Sehingga jika ditotal revitalisasi yang berjalan selama 7 tahun itu memakan total anggaran mencapai Rp113,3 miliar. Dengan catatan selama 2 tahun tidak ada pekerjaan fisik. (fat/radarbogor)


.webp)
