POJOKBOGOR.id - Lembaga Rekam Nusantara Foundation melalui implementasi program Plastic Smart Cities mengunjungi tiga wilayah di Kota Bogor dengan tujuan memilah dan mengolah sampah menjadi produk bernilai jual.
Kedua wilayah tersebut berada di RT 05 RW 05, Bantar Kemang dan Cibuluh serta Kedung Badak.
Manager Komunikasi Rekam Nusantara Foundation mengatakan, Plastic Smart Cities diharapkan mengubah permasalahan sampah menjadi sentra ekonomi sirkuler bagi masyarakat.
Baca Juga: Lagi, Polisi Tangkap Pelaku Tawuran di Jalan Sholeh Iskandar
"Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Rekam Nusantara Foundation dengan Satgas Naturalisasi Sungai Ciliwung dan WWF Indonesia. Gerakan ini dimulai dari membangun kebiasaan dan inisiatif warga dengan mendampingi mereka dalam proses edukasi pemilahan sampah,", ujarnya.
Edukasi itu diberikan kepada 60 RT prioritas yang dilintasi oleh aliran Sungai Ciliwung. Selain pemahaman dan pengetahuan mengenai pemilahan sampah, masing-masing warga juga mendapat sarana prasarana untuk menunjang program ini seperti tempat pemilahan sampah organik dan anorganik.
Sampah-sampah ini kemudian dikumpulkan di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Kemang di Kecamatan Bogor Timur dan TPS Reduce Reuse Recycle (3R) di Kecamatan Tanah Sareal hasil kerja sama Rekam Nusantara Foundation dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor.
Baca Juga: Kasat Reskrim di Polresta Bogor Kota kini Dijabat AKP Luthfi Olot Gigantara
"Sampah yang masih bernilai akan dijual kembali pada industri pengolahan sampah plastik, sementara sampah organik dikelola dengan lubang biopori dan budidaya maggot. Untuk sampah yang bernilai rendah (low value) diolah menjadi produk yang kami lakukan di TPS3R Mekarwangi menggunakan 2 alat pemberian WWF Indonesia," tutur Irwan.
Produk yang dihasilkan melalui pengolahan ini antara lain kaso yang dapat digunakan sebagai bahan baku sumur resapan serta balok. Hal itu pun membuat sampah-sampah tak bernilai dan berakhir di TPA Galuga jauh lebih berkurang.
Pegiat Satgas Naturalisasi Sungai Ciliwung, Adi Saiman menuturkan pendampingan di basis RT penting dilakukan karena menjadi kelompok paling kecil dalam tatanan masyarakat. Ini juga dilajukan untuk menentukan konsep pemilahan sampah sehingga trapt sasaran secara personal dan kelompok.
Baca Juga: Disbudpar Kabupaten Bogor Luncurkan Aplikasi Ekabo, Sajikan Piliham Destinasi Wisata Terbaik
Dalam pendampingan yang dilakukan, Adi menyebut setiap RT akan didampingi oleh seorang Satgas. Tugas mereka ialah memberikan edukasi dan pembiasaan pemilahan sampah dari rumah dan memonitor terus kegiatan tersebut.
"Untuk merubah kebiasaan memilah sampah itu memang tidak mudah. Terlebih di permukiman perumahan. Terkadang kami kesulitan karena penghuni rumah sedang tidak ada. Walaupun belum 100 persen, saat ini sudah sekura 50 persen warga memilah sampahnya sejak dari rumah," terangnya.
Kondisi ini pun mulai dirasakan manfaatnya oleh warga. Seperti di RT 5 RW 5, Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur. Salah satu warga, Neni Nuraeni menyebut edukasi pemilahan sampah membawa perubahan besar pada rumahnya.
"Sampah rumah yang tadinya berantakan dan bercampur sekarang lebih teratur karena terpilah. Cara ini memberikan manfaat karena bisa didaur ulang dan menghasilkan keuntungan materil untuk kami," ujarnya.
Warga lain, Siti Salmah mengatakan saat ini dirinya tidak lagi membuang sampah organik ke TPST. Hal itu lantaran edukasi yang diberikan sudah ia implementasikan yakni membuat lubang biopori di pekarangan rumahnya. Sampah-sampah bekas rumah tangga itu kini habis karena ia buang ke lubang biopori.
"Biasanya bekas nasi, buah, sayur saya buang ke sini (lubang biopori). Sehari bisa sampai setengah kilogram," ucapnya.
Baca Juga: Pelaku Pembunuhan Wanita Muda Bernama Nindy di Apartemen Bogor Icon Terancam Hukuman Mati
Supervisor TPST Bantar kemang, Syawal menyebut dalam sehari pihaknya bisa mengelola sampah plastik bernilai ekonomi hingga 150 Kilogram, sampah plastik kurang bernilai sebanyak 80 kilogram, dan sampah organik sebanyak 200 kilogram.
"Proses yang kami lakukan di sini pemilahan sampah kembali yang lebih mendetil, kemudian pencucian dan penjemuran. Sampah yang masih bernilai akan kami jual, dan sampah yang tidak bernilai akan kami serahkan ke TPS3R Mekarwangi untuk diolah," jelasnya. ***


.webp)
