BOGOR.POJOKSATU.id - Penutupan aktivitas tambang di wilayah Bogor Barat sejak September 2025 tidak hanya mengguncang sektor ekonomi, tetapi juga memicu persoalan sosial yang semakin dirasakan oleh masyarakat setempat.

Banyak warga yang sebelumnya menggantungkan hidup dari sektor tambang kini kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan utama. Kondisi tersebut berdampak langsung pada stabilitas ekonomi rumah tangga.

Tekanan ekonomi yang berkepanjangan membuat sebagian warga terjerat utang, sementara kebutuhan hidup sehari-hari tetap harus dipenuhi. Situasi ini kemudian memicu konflik dalam keluarga yang berujung pada meningkatnya angka perceraian.

“Dampaknya sekarang bukan hanya ekonomi, tapi sudah masuk ke sosial. Banyak perceraian terjadi, keluarga tidak lagi utuh, dan anak-anak ikut terdampak,” ujar Koordinator aksi, Asep Fadlan.

Fenomena ini menunjukkan efek berantai dari penutupan tambang. Kehilangan pekerjaan memicu tekanan ekonomi, sekarang sudah merambah ke sosial, banyak perceraian terjadi, laki-laki menjadi duda, perempuan jadi janda, dan anak-anak ikut terdampak.

Data sementara yang dihimpun menyebutkan sekitar 19 ribu kepala keluarga terdampak langsung. Namun, jumlah tersebut diperkirakan bisa lebih besar, dengan estimasi mencapai 40 hingga 50 ribu warga di tiga kecamatan di Bogor Barat.

“Angka itu masih sementara. Realitanya di lapangan bisa jauh lebih besar karena dampaknya meluas ke berbagai sektor kehidupan,” tambah Asep.

Di sisi lain, warga juga menyoroti janji bantuan sosial dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Mereka berharap adanya langkah konkret untuk membantu masyarakat yang terdampak, mengingat hingga kini bantuan tersebut dinilai belum merata.

“Warga berharap janji bantuan bisa segera direalisasikan secara menyeluruh, karena kondisi ekonomi masyarakat saat ini benar-benar sulit,” tutupnya.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa kebijakan penutupan sektor tertentu perlu diiringi dengan solusi yang komprehensif, agar dampak sosial yang ditimbulkan tidak semakin meluas di tengah masyarakat. ***