BOGOR.POJOKSATU.id – Dampak musim kemarau mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Bogor, terutama pada sektor pertanian.
Salah satu kawasan yang mulai terdampak berada di Desa Wening Galih, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor.
Lahan persawahan di wilayah tersebut mulai mengalami kekurangan pasokan air. Kondisi tanah yang sebelumnya lembap perlahan mengering bahkan mulai mengeras.
Minimnya ketersediaan air membuat aktivitas pertanian warga ikut terdampak.
Petani harus menyesuaikan pola penggunaan air karena pasokan yang tersedia semakin terbatas.
Tidak hanya untuk kebutuhan pertanian, masyarakat juga mulai lebih berhati-hati menggunakan air untuk keperluan sehari-hari.
Warga memilih menghemat pemakaian air agar persediaan yang ada tetap mencukupi selama musim kemarau berlangsung.
Kondisi lahan yang mengering dikhawatirkan dapat mempengaruhi produktivitas pertanian apabila berlangsung dalam waktu cukup lama.
Terlebih, tanaman membutuhkan pasokan air yang stabil agar dapat tumbuh dengan optimal.
Musim kemarau tahun ini diperkirakan masih akan terasa dalam beberapa waktu ke depan.
Berdasarkan prediksi BMKG, puncak musim kemarau di wilayah Jawa Barat, termasuk Kabupaten Bogor, berpotensi berlangsung pada September hingga Oktober 2026.
Kondisi tersebut disebut turut dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang dapat memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah.
Sementara itu, hujan diperkirakan baru mulai kembali secara bertahap memasuki November 2026.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat di wilayah yang mulai mengalami kekeringan diimbau menggunakan air secara bijak.
Petani juga perlu mengantisipasi kemungkinan semakin berkurangnya pasokan air untuk lahan pertanian apabila kemarau berlangsung lebih panjang.
Kondisi persawahan di Jonggol menjadi salah satu gambaran bahwa dampak musim kemarau di Kabupaten Bogor mulai terasa nyata.
Jika kekeringan terus meluas, persoalan pasokan air berpotensi menjadi perhatian serius bagi sektor pertanian maupun kebutuhan masyarakat sehari-hari.***



