BOGOR, POJOKSATU.id - Ratusan pelajar SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sejumlah siswa harus mendapatkan penanganan medis setelah mengalami mual, muntah, sakit perut, pusing, hingga sesak napas pada Selasa (27/10/2026).

Para siswa mulai merasakan gangguan kesehatan sejak tengah malam, beberapa jam setelah mengonsumsi makanan MBG yang dibagikan pada Senin (26/10/2026).

Keluhan tersebut berlanjut hingga Selasa pagi. Sebagian pelajar kemudian mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis di Puskesmas Cangkurawok, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.

Meski telah memperoleh pelayanan kesehatan, beberapa siswa dilaporkan masih mengalami keluhan berupa mual dan sesak napas.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena jumlah pelajar yang terdampak mencapai ratusan orang dari dua sekolah berbeda.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejumlah pelajar mulai mengeluhkan kondisi tubuh mereka sejak sekitar pukul 00.00 WIB.

Gejala yang dirasakan beragam, mulai dari pusing, sakit perut, mual, hingga muntah.

Beberapa siswa juga dilaporkan mengalami sesak napas sehingga membutuhkan pemeriksaan dan penanganan tenaga medis.

Keluhan tersebut tidak langsung muncul setelah makanan dikonsumsi, melainkan beberapa jam kemudian.

Sebelumnya, para pelajar diketahui menerima makanan dari program MBG pada Senin (26/10/2026).

Karena itu, makanan yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut merupakan menu yang dibagikan sehari sebelum para siswa mendapatkan penanganan medis.

Namun, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Sejumlah siswa yang mengalami keluhan kesehatan mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Cangkurawok, Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor.

Fasilitas kesehatan tersebut menjadi salah satu lokasi penanganan pelajar yang mengalami keracunan. Para siswa datang dengan keluhan yang berbeda-beda, termasuk gangguan pencernaan dan pernapasan.

Sebagian siswa masih merasakan mual dan sesak napas meskipun telah mendapatkan pelayanan kesehatan.

Kondisi tersebut membutuhkan pemantauan tenaga medis untuk memastikan perkembangan kesehatan para pelajar.

Hingga informasi ini disusun, belum diketahui secara pasti jumlah siswa yang telah diperbolehkan pulang maupun yang masih membutuhkan penanganan lanjutan.

Belum tersedia pula informasi terkonfirmasi mengenai adanya siswa yang harus dirujuk ke rumah sakit.