POJOKBOGOR.id – Belajar tiga atau empat tahun di SMK akan kehilangan banyak nilai jika kompetensi yang dikuasai siswa berbeda dengan kebutuhan perusahaan ketika mereka lulus.
Persoalan itulah yang coba dipersempit SMKN 1 Cibinong melalui kerja sama dengan 25 perusahaan pada Kamis, 24 September 2026.
Bukan hanya membuka tempat Praktik Kerja Lapangan atau PKL, perusahaan mitra juga diarahkan terlibat dalam penyelarasan kompetensi yang diajarkan sekolah dengan kebutuhan nyata dunia industri.
Mulai Oktober 2026, siswa SMKN 1 Cibinong akan memasuki perusahaan mitra untuk menjalani PKL dan merasakan langsung budaya kerja profesional.
Baca Juga: Gandeng 25 Perusahaan, SMKN 1 Cibinong Buka Jalur PKL hingga Rekrutmen Langsung Lulusan
Bukan Cuma Anak Mesin dan Otomotif
Kemitraan tersebut mencakup hampir seluruh rumpun keterampilan yang ada di sekolah.
DPIB mendapatkan sembilan mitra perusahaan, TOI enam perusahaan, TP dan TFLM empat perusahaan, DKV tiga perusahaan, TKJ tiga perusahaan, RPL tiga perusahaan, TKR tiga perusahaan dan TKP dua perusahaan.
Komposisi itu menunjukkan kebutuhan tenaga vokasi saat ini tidak hanya datang dari industri manufaktur konvensional.
Teknologi informasi, perangkat lunak hingga sektor kreatif juga menjadi bagian dari kebutuhan industri.
Baca Juga: Skandaversary ke-12, Menteri Kebudayaan Kagumi SMKN 2 Cibinong
Hal ini sejalan dengan perubahan kompetensi dunia kerja yang semakin cepat akibat digitalisasi.
Kemendikdasmen pada 2026 bahkan menempatkan adaptasi terhadap teknologi, standar industri dan pengalaman kerja sebagai bagian penting dalam strategi pengembangan SMK.
Yang Dipelajari di Kelas Harus Terpakai di Tempat Kerja
Salah satu target PKS adalah mempersempit jarak antara materi sekolah dan pekerjaan nyata.
Artinya, perusahaan tidak hanya menjadi lokasi siswa magang.
Masukan dari industri dapat digunakan untuk melihat apakah keterampilan yang diajarkan di sekolah masih sesuai, teknologi apa yang mulai digunakan perusahaan, serta kompetensi apa yang perlu diperkuat sebelum siswa lulus.
Pemerintah pusat juga mendorong pola yang sama.
Baca Juga: Masih Menggunakan Baju Seragam Pramuka, Pelajar SMKN 1 Ciomas Bogor Nekat Lompat Dari Jembatan Loji
Dalam pedoman penguatan kemitraan SMK dan industri tahun 2026, Direktorat SMK menyebut kolaborasi perlu masuk ke penyelarasan kurikulum, instruktur industri, PKL, Teaching Factory, sertifikasi hingga rekrutmen lulusan.
Direktur SMK Arie Wibowo Khurniawan menggambarkan hubungan sekolah dan industri harus sangat dekat.
“SMK lahir dari industri sehingga pengelolaannya harus dibuat mirip dengan industri,” ujarnya dalam kegiatan Kemendikdasmen pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Jawa Barat Juga Sedang Perbesar Link and Match
Langkah SMKN 1 Cibinong berlangsung ketika Pemerintah Provinsi Jawa Barat sedang memperbesar kerja sama pendidikan vokasi dan perusahaan.
Pada Selasa, 1 September 2026, sebanyak 32 SMK negeri di Jawa Barat menandatangani PKS dengan 64 perusahaan.
Dinas Pendidikan Jawa Barat menyebut kerja sama itu ditujukan untuk menghubungkan proses pembelajaran dengan kebutuhan nyata dunia usaha dan dunia industri.
“Keterbatasan sekolah itu hanya bisa diatasi dengan kolaborasi,” kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Purwanto, Selasa, 1 September 2026.
Baca Juga: Pemkab Bogor Tanggung Biaya Pengobatan Siswa Korban Ambruknya SMKN 1 Gunungputri
Pemerintah Jawa Barat sendiri mempunyai program SMK Link & Match atau LIMA, selain Teaching Factory, LSP P1, SMK Pusat Keunggulan serta program Sekolah Pencetak Wirausaha.
Artinya, kerja sama SMKN 1 Cibinong dengan 25 perusahaan berada dalam arah besar transformasi pendidikan vokasi Jawa Barat.
PKL Harus Lebih dari Sekadar Datang dan Absen
Tantangan berikutnya ada pada pelaksanaan.
PKL berkualitas seharusnya membuat siswa mengerjakan aktivitas yang berhubungan langsung dengan bidang kompetensinya, bukan sekadar menjadi pengamat di tempat kerja.
Hal ini juga menjadi perhatian pemerintah.
Kerja sama SMK dan industri yang didorong Kemendikdasmen pada Agustus 2026 diarahkan agar PKL lebih terstruktur, perusahaan dapat memberikan proyek nyata kepada siswa, dan praktisi ikut masuk dalam proses pembelajaran.
Karena itu, pembukaan PKL SMKN 1 Cibinong pada Oktober akan menjadi salah satu indikator awal untuk melihat dampak PKS.
Siswa DPIB idealnya mendapatkan pengalaman pada pekerjaan yang berhubungan dengan konstruksi dan gambar bangunan.
Siswa RPL dan TKJ perlu bersentuhan langsung dengan sistem dan kebutuhan teknologi perusahaan.
Begitu pula DKV, otomotif hingga rumpun teknik mesin harus mendapat pekerjaan yang relevan dengan kompetensi yang mereka pelajari.
SMKN 1 Cibinong Punya Modal Sertifikasi
Sekolah juga mempunyai modal lain untuk menghubungkan kurikulum dengan standar pekerjaan.
LSP SMKN 1 Cibinong memiliki 13 skema sertifikasi aktif, mulai dari Junior Coder, Teknik Komputer dan Jaringan, Content Creator Junior, Fotografer Junior hingga teknisi otomasi dan operator mesin.
Kombinasi antara pembelajaran sekolah, masukan perusahaan, PKL dan sertifikasi kompetensi berpotensi membuat kesiapan siswa lebih mudah diukur.
Bukan hanya berdasarkan nilai rapor.
Baca Juga: Sebelum Ambruk, Lima Kelas SMKN 1 Gunungputri Tertimpa Batang Pohon
Tetapi berdasarkan keterampilan yang memang dapat digunakan ketika mereka masuk ke perusahaan.
Ujungnya Tetap Keterserapan Lulusan
PKS akan dianggap berhasil bukan karena banyaknya logo perusahaan yang hadir pada acara penandatanganan.
Hasil akhirnya tetap berada pada siswa.
Apakah mereka mendapatkan pengalaman industri yang relevan?
Apakah kemampuan yang diajarkan sekolah mengikuti perubahan teknologi?
Dan setelah lulus, apakah kompetensinya benar-benar dibutuhkan pasar kerja?
SMKN 1 Cibinong sendiri sudah memiliki rekam kerja hubungan industri dan rekrutmen perusahaan sebelum PKS terbaru ini. Situs sekolah mencatat sejumlah kegiatan rekrutmen dan pada Mei 2026 mempublikasikan siswa yang telah diterima bekerja di berbagai perusahaan.
Baca Juga: SMKN 1 Gunungputri Ambruk, Belasan Siswa Patah Tulang
Kini, 25 perusahaan baru memperlebar jembatan tersebut.
Mulai Oktober 2026, pembuktiannya bukan lagi berada di meja penandatanganan.
Tetapi di ruang kerja, bengkel, proyek, studio hingga lingkungan perusahaan tempat siswa SMKN 1 Cibinong mulai belajar seperti pekerja profesional.



