BOGOR.POJOKSATU.id - Seorang bocah berusia enam tahun ditemukan tewas di rumahnya yang berlokasi di Perumahan Griya Citayam Permai, Desa Rawa Panjang, Kecamatan Bojong Gede.

Korban diduga menjadi korban penganiayaan berat yang dilakukan oleh ibu tirinya sendiri selama beberapa hari berturut-turut.

Peristiwa memilukan ini diperkirakan terjadi sejak Jumat, 17 Oktober 2025, dan baru terungkap pada Senin, 20 Oktober 2025, setelah keluarga melaporkan kasus tersebut ke pihak kepolisian.

Saat ditemukan, tubuh korban penuh luka dan memar di berbagai bagian, mulai dari punggung, dada, hingga wajah.

Sebelum meninggal dunia, sang ayah sempat merasa curiga karena melihat tanda-tanda kekerasan di tubuh anaknya.

Namun, kecurigaan itu sempat diredam oleh sang istri yang memberikan berbagai alasan. Hingga akhirnya, kondisi korban memburuk dan nyawanya tidak tertolong.

Beberapa jam setelah kejadian dilaporkan, polisi berhasil menangkap ibu tiri korban pada Selasa, 21 Oktober 2025. Dalam pemeriksaan, pelaku mengakui telah melakukan kekerasan menggunakan gagang sapu selama tiga hari berturut-turut.

Ia berdalih bahwa tindakannya dilakukan untuk mendisiplinkan sang anak, tanpa bermaksud menghilangkan nyawa. Namun, penyiksaan yang dilakukan secara terus-menerus akhirnya menyebabkan korban meninggal dunia.

Polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk sapu yang digunakan dalam aksi penganiayaan tersebut. Kasus ini terungkap setelah jenazah korban dibawa ke rumah kakeknya.

Saat proses pemulasaraan, keluarga menemukan banyak luka mencurigakan di tubuh korban, yang kemudian dilaporkan ke kepolisian.

Kedua orang tua korban kini telah diamankan untuk dimintai keterangan. Polres Metro Depok masih melakukan penyelidikan mendalam guna mengungkap motif di balik tindak kekerasan yang berujung maut ini.

Dugaan sementara, kekerasan dipicu oleh faktor emosi dan masalah internal dalam rumah tangga.

Tragedi ini menambah daftar panjang kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan keluarga, sekaligus menjadi pengingat bahwa perlindungan anak harus menjadi perhatian utama semua pihak agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi. ***