POJOKBOGOR.id - Dua orang tua bayi tertukar di Bogor, tolak mentah mentah tawaran perdamaian dari pihak Rumah Sakit Sentosa.

Kedua ibu bayi tertukar di Bogor yang menolak mentah mentah tawaran ini, yakni Siti dan Dian.

Mereka berdua menjadi korban atas kelalaian dan tidak profesionalnya pihak Rumah Sakit Sentosa Bogor dalam melayani pasien, sehingga terjadilah peristiwa bayi tertukar di Bogor.

Rumah Sakit Sentosa merupakan tempat Siti Mauliah dan Dian melakukan persalinan satu tahun lalu dan bayinya tertukar.

Baca Juga: Selama Dua Bulan Polresta Bogor Kota Sita Ribuan Knalpot di Kota Bogor yang Suka Ganggu Ketertiban Umum

Kini pihak Rumah Sakit Sentosa memberikan tawaran menggiurkan pada Siti dan Dian agar permasalahan tak berlarut.

Kendati demikian, keduanya tak tergoda dengan iming-iming pihak Rumah Sakit Sentosa yang menjanjikan jaminan kesehatan dan beasiswa kepada dua bayi tertukar di Bogor tersebut.

Penolakan itu terungkap dari hasil mediasi antara keluarga dua bayi dan pihak Rumah Sakit Sentosa Bogor yang digelar di Mako Polres Bogor pada Rabu (30/8/2023).

Mediasi yang memakan waktu 1 jam 30 menit ini berujung jalan buntu atau belum sampai pada kesepakatan.

Baca Juga: Kena Prank Satpol PP Kota Bogor PKL Warung Jambu Inisiatif Bongkar Lapaknya Sendiri

"Hasil mediasinya terakhir tadi masih belum menemui kesepakatan," kata Binsar Aritonang, kuasa hukum Ibu Dian.

Melalui kuasa hukumnya, disebutkan bahwa awalnya kedua ibu bayi tertukar di Bogor itu sangat beritikad baik jika terjadi perdamaian antara pihaknya dan pihak rumah sakit.

Bukan tanpa sebab, hal tersebut karena Siti Mauliah dan Ibu Dian merasa jika tawaran yang diberikan oleh pihak Rumah Sakit Sentosa Bogor tak dapat menggantikan kerugian yang mereka alami selama setahun terakhir.

"Penawaran-penawaran tersebut saya rasa belum bisa menggantikan kerugian yang korban alami," kata Binsar Aritonang.

Baca Juga: Siapkan Sumur Bor, Pemkab Bogor Kirimkan 90 Ribu Air Bersih untuk Masyarakat Terdampak Kekeringan

Mereka tak menerima tawaran pihak Rumah Sakit Sentosa Bogor ini diketahui antara lain berupa beasiswa sampai SMA, akses kesehatan hingga kompensasi.

Menanggapi tawaran tersebut, Binsar mengurai alasan keluarga korban menolak janji manis Rumah Sakit Sentosa.

"Karena kan terkait beasiswa dan kesehatan sudah ditangani negara, dalam artian kesehatan ada BPJS dan di Bogor pun menjamin untuk pendidikan. Jadi bukannya kami menolak terkait itu, tapi saya rasa ada hal-hal lain yang perlu diselesaikan di mana kami sebagai korban," kata Binsar Aritonang.

Maka dari itu, upaya hukum tetap akan dilakukan sesegera mungkin

"Kami akan menempuh sesegera mungkin, akan menempuh upaya-upaya hukum terkait kejadian yang terjadi yang mana kami Ibu Siti Mauliah dan Ibu D sebagai korban," kata Binsar Aritonang.

Sementara kini pihak korban akan segera membuat laporan polisi terkait rumah sakit tempat bersalin bayi tertukar di Bogor tersebut.

"Pasti (laporan polisi), kami juga gak berlarut-larut gitu. Untuk terjadinya perdamaian atau mediasi kan tidak perlu menunggu itu juga terlalu lama gitu kan, karena kami di sini juga harus bertanggung jawab terhadap klien kami juga, upaya apa yang akan kami lakukan. Di mana klien kami juga sepakat kita akan melakukan upaya hukum," ungkap Binsar Aritonang.

Di sisi lain, Siti Mauliah dengan tegas menolak tawaran pihak Rumah Sakit Sentosa.

Disampaikan kuasa hukum Siti Mauliah, Rusdy Ridho bahwa pihak ibu bayi tertukar di Bogor menolak tawaran beasiswa tersebut dan akan tetap menempuh jakul hukum.

Menurutnya, sampai SMA memang gratis jika di negeri, sementara terkait kesehatan sudah memiliki BPJS.

"Kita tolak lah, sampe SMA kan gratis kalo negeri, untuk kesehatannya kan ada BPJS," ucap kuasa hukum Siti.

Rusdy mengatakan tawaran yang diberikan pihak Rumah Sakit Sentosa ini dinilai tidak sebanding dengan kerugian yang dialami kedua pihak keluarga bayi tertukar di Bogor.

Pasalnya, di dalam persoalan ini terdapat kerugian materil maupun imateril yang dialami oleh kedua pihak korban yang harus dipertimbangkan.

Bahkan menurutnya, tawaran itu dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Sentosa hanya sekdar pemanis saja.

"Ngapain lah, itu pemanis aja, kita engga kesana arah kompensasinya. Engga seimbang, semua udah di cover sama negara," tegasnya.

Kendati demikian, kedua korban bayi tertukar ini telah sepakat tetap menempuh jalur hukum.

"Kita udah sepakat sama keluarga bu D, satu perahu lah untuk menggugat rumah sakit dan melaporkan ke polisi," pungkasnya.

Sementara itu, pihak Rumah Sakit Sentosa sebut bayi tertukar di Bogor murni kesalahan dari perawat yang lalai.

Bahkan rumah Sakit Sentosa Bogor mengklaim ikut jadi korban atas kelalaian yang dilakukan perawat.

Hal tersebut disampaikan juru bicara Rumah Sakit Sentosa Bogor, Gregorius B Djako.

Dikatakan Gregg, selama ini perawatnya itu tidak pernah menginformasikan peristiwa itu ke rumah sakit.

"Dan (perawat) menutupi kasus begitu lama," tandasnya.

Ia mengatakan, pihak Rumah sakit Sentosa sendiri baru mengetahui kasus bayi tertukar di Bogor itu pada Mei 2023.

Sehingga menurutnya Rumah sakit Sentosa dalam kasus ini juga sebagai korban.

"Rumah sakit juga adalah korban karena tidak mendapat informasi itu," pungkasnya.

Lebih jauh, Greg mengatakan, pihaknya diketahui akan memberikan dua poin tanggung jawab kepada bayi tertukar.

Pertama, yakni berupa cover kesehatan kepada dua bayi selama usia anak.

"Sakit kah, rawat kah," katanya

Selain itu, pihak Rumah sakit Sentosa juga akan memberikan beasiswa kepada kedua anak.

"Akan diberikan beasiswa pendidikan sampai SMA," ungkapnya.

Namun rupanya tawaran itu tak membuat kedua ibu bayi tertukar mengurungkan niatnya.

Siti Mauliah dan Dian tetap akan melaporkan Rumah Sakit Sentosa ke polisi.

Gregg Djako mengklaim, selama ini pihak rumah sakit tidak pernah lepas tangan.

Untuk itu, ia akan terus berupaya agar kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan.

Hal itu akan ia lakukan dengan meminta kepada kepolisian agar mendorong kasus bayi tertukar di Bogor ini diselesaikan secara Restorative Justice.