BOGOR.POJOKSATU.id - Gelar sarjana yang dulu dianggap sebagai “tiket emas” menuju pekerjaan mapan kini mulai dipertanyakan oleh generasi muda.

Di tengah biaya pendidikan yang terus naik dan dunia kerja yang berubah cepat, banyak anak muda mulai merasa ijazah kuliah tidak lagi memberi keuntungan sebesar generasi sebelumnya.

Fenomena ini terlihat dalam riset terbaru Indeed Hiring Lab yang menunjukkan sekitar 51 persen Gen Z merasa gelar sarjana mereka tidak sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibanding generasi lain.

“Sekitar 51 persen Gen Z merasa gelar mereka tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan,” demikian hasil riset Indeed Hiring Lab.

Banyak lulusan muda mengaku tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai harapan meski sudah menempuh pendidikan tinggi.

Di sisi lain, biaya kuliah yang semakin mahal membuat sebagian lulusan merasa terbebani, terutama jika harus menghadapi utang pendidikan atau tekanan ekonomi setelah lulus.

Situasi ini membuat pandangan terhadap pendidikan tinggi mulai berubah, khususnya di kalangan Gen Z.

Bahkan, dalam riset tersebut, sebanyak 68 persen responden Gen Z mengaku merasa tetap bisa menjalankan pekerjaan mereka saat ini tanpa gelar sarjana.

“Sebanyak 68 persen responden Gen Z merasa tetap bisa menjalankan pekerjaan mereka tanpa gelar sarjana,” lanjut hasil survei tersebut.

Perubahan juga mulai terlihat dari sisi perusahaan.

Banyak perusahaan kini mulai mengurangi syarat pendidikan formal dalam proses rekrutmen dan lebih fokus melihat keterampilan kandidat.

Per Januari 2024, sebanyak 52 persen lowongan kerja di Indeed disebut sudah tidak lagi mencantumkan syarat pendidikan formal.

Angka tersebut meningkat dibanding 49 persen pada 2019.

“Tren ini menunjukkan dunia kerja mulai lebih menekankan keterampilan dibanding sekadar ijazah,” tulis laporan tersebut.

Perubahan pola rekrutmen ini dinilai dipengaruhi perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI yang membuat kebutuhan dunia kerja semakin cepat berubah.

Banyak perusahaan kini lebih mencari kandidat yang adaptif, memiliki skill spesifik, mampu belajar cepat, dan punya pengalaman nyata.

Karena itu, sertifikat keterampilan, portofolio, pengalaman kerja, hingga kemampuan praktis mulai dianggap lebih penting di sejumlah bidang dibanding gelar formal semata.

Meski begitu, tidak semua Gen Z menganggap kuliah sepenuhnya tidak berguna.

Sebagian responden tetap menilai pengalaman kuliah memiliki manfaat penting, terutama dalam membentuk pola pikir, kemampuan sosial, cara beradaptasi, hingga soft skill.***