POJOKBOGOR.ID - Setiap kali Lebaran tiba, satu pemandangan yang hampir selalu hadir di berbagai daerah Indonesia adalah kegiatan santunan anak yatim.

Mulai dari masjid, komunitas warga, perusahaan, hingga keluarga secara pribadi, banyak yang berbagi rezeki kepada anak-anak yatim menjelang atau saat Hari Raya Idulfitri.

Tapi, pernahkah muncul pertanyaan apakah santunan anak yatim saat Lebaran memang sebuah kewajiban, atau sekadar tradisi sosial yang sudah mengakar?

Nah, pertanyaan ini ternyata cukup sering muncul di tengah masyarakat.

Baca Juga: Bukan Libur Ditambah, Tapi WFA! Ini Strategi Pemerintah Pecah Kepadatan Mudik 2026

Hmm, menarik juga untuk dibahas.

Tradisi yang Sudah Mengakar di Masyarakat

Di Indonesia, santunan anak yatim saat Lebaran sudah menjadi kebiasaan turun-temurun.

Bahkan di beberapa daerah, kegiatan ini terasa seperti agenda wajib tahunan.

Biasanya santunan diberikan dalam bentuk uang tunai, paket sembako, pakaian baru, hingga perlengkapan sekolah.

Baca Juga: Siap-Siap! ASN Bakal Ditempatkan di Koperasi Desa Merah Putih, KemenPAN-RB Sediakan Skema Baru, Ini Aturannya

Momentum Lebaran dianggap waktu yang tepat untuk berbagi kebahagiaan, terutama kepada mereka yang kehilangan figur orang tua.

Suasana haru sering terasa dalam kegiatan ini. Anak-anak berkumpul, menerima bantuan dengan wajah ceria, sementara para pemberi santunan merasakan kepuasan batin tersendiri.

Ah, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan.

Apakah Santunan Anak Yatim Wajib?

Secara agama, memberikan santunan kepada anak yatim bukan kewajiban khusus yang hanya berlaku saat Lebaran, melainkan anjuran untuk dilakukan kapan saja.

Dalam ajaran Islam, menyantuni anak yatim termasuk amalan mulia yang sangat dianjurkan karena mengandung nilai kepedulian sosial dan kemanusiaan.

Namun, tidak ada ketentuan yang mewajibkan harus dilakukan tepat di hari Lebaran.

Artinya, tradisi ini lebih merupakan bentuk budaya kebaikan yang tumbuh dari nilai agama dan solidaritas masyarakat.

Jadi ya, boleh dilakukan kapan saja, bukan hanya saat Idulfitri.

Baca Juga: Resmi! ASN Boleh Pakai Kendaraan Dinas Untuk Mudik, Bupati Lombok Barat 'Tapi Ada Syaratnya'

Kenapa Lebaran Jadi Momentum Favorit?

Ada beberapa alasan mengapa santunan anak yatim identik dengan Lebaran:

  1. Lebaran dianggap momen berbagi kebahagiaan

  2. Banyak orang menerima rezeki tambahan seperti THR

  3. Suasana spiritual mendorong kepedulian sosial

  4. Kegiatan sosial mudah dikumpulkan secara kolektif

Singkatnya, Lebaran menciptakan suasana emosional yang membuat orang lebih terdorong untuk berbagi.

“Rasanya kurang lengkap Lebaran kalau belum berbagi,” ujar seorang warga yang rutin mengikuti santunan setiap tahun.

Nilai Sosial yang Lebih Besar

Santunan sebenarnya bukan sekadar soal materi. Ada nilai psikologis yang jauh lebih besar di baliknya.

Bagi anak yatim, perhatian sosial memberi rasa dihargai dan diingat oleh lingkungan sekitar.

Sedangkan bagi pemberi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang bisa dibagikan.

Eh, kadang justru yang memberi malah merasa lebih bahagia daripada yang menerima.

Meski tradisi ini positif, sejumlah pengamat sosial mengingatkan agar santunan tidak hanya menjadi kegiatan simbolis musiman.

Idealnya, kepedulian terhadap anak yatim dilakukan secara berkelanjutan, misalnya melalui dukungan pendidikan, pembinaan, atau bantuan jangka panjang.

Karena kebutuhan mereka tentu tidak berhenti setelah Lebaran selesai.

Baca Juga: Usai Insiden Skidtank di Balongan, Pertamina Regional JBB Pastikan Area Aman dan Distribusi Normal

Berbagi Tanpa Harus Menunggu Hari Raya

Pesan penting dari tradisi santunan ini sebenarnya sederhana, berbagi tidak perlu menunggu momen besar.

Lebaran memang waktu yang penuh berkah, tetapi kepedulian sosial bisa dilakukan kapan saja bahkan melalui hal kecil sekalipun.

Mulai dari membantu pendidikan, menjadi relawan, hingga sekadar memberi perhatian dan dukungan moral.

Pada akhirnya, santunan anak yatim saat Lebaran bukan soal kewajiban formal, melainkan refleksi nilai kemanusiaan yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Kabar Baik! THR ASN dan PPPK Kabupaten Dairi Mulai Cair! Total Rp26,2 Miliar Disalurkan, Anggota DPRD Juga Kebagian

Dan mungkin, di situlah makna Lebaran yang sebenarnya bukan hanya kembali ke kampung halaman, tapi juga kembali pada rasa empati dan kepedulian sesama.

Ah, sederhana, tapi dalam.***