BOGOR.POJOKSATU.id - Misteri hilangnya kapal Arupadatu 1 yang membawa lima jurnalis untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau mulai menemukan titik terang.

Seorang pria yang sebelumnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia tanpa identitas di perairan Pulau Enggano, Bengkulu, dipastikan merupakan salah satu dari delapan orang yang berada di kapal Arupadatu 1.

Kepastian identitas korban diperoleh setelah petugas melakukan proses pencocokan DNA.

Korban diketahui bernama Surakman atau Sukarman (60), yang merupakan salah satu anak buah kapal (ABK) Arupadatu 1. Ia tercatat sebagai warga Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Salah satu sumber kepolisian membenarkan bahwa hasil pemeriksaan DNA menunjukkan adanya kecocokan dengan ABK bernama Sukarman.

“Dari DNA, Bang. Persamaan dengan korban ABK Sukarman,” ujar salah satu sumber polisi yang dikutip Pojok Bogor dari laman Kumparan.

Saat ini, jenazah Sukarman masih berada di Bengkulu. Aparat kepolisian melalui jajaran Polairud disebut tengah mempersiapkan proses pengambilan jenazah.

“Jenazah di Bengkulu, rencana diambil Polair,” ujarnya.

Sukarman merupakan salah satu kru kapal Arupadatu 1 yang bertugas mengantar lima wartawan untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda.

Kapal tersebut diketahui membawa total delapan orang saat melakukan perjalanan pada Senin, 7 September 2026.

Keberadaan kapal beserta para penumpangnya kemudian menjadi perhatian setelah dilaporkan hilang saat menjalankan perjalanan peliputan di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.

Ditemukannya Sukarman menjadi perkembangan terbaru dalam proses pencarian para korban.

Sementara itu, proses pencarian dan identifikasi terhadap orang-orang lainnya yang berada di kapal Arupadatu 1 masih menjadi bagian penting dalam upaya mengungkap keberadaan seluruh penumpang dan kru kapal tersebut. ***