BOGOR.POJOKSATU.id - Kasus gagal ginjal di Indonesia mengalami peningkatan signifikan dalam satu tahun terakhir. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah kasus penyakit ini melonjak drastis sepanjang periode 2024 hingga 2025.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS Kesehatan, Sutopo Patria Jati, mengungkapkan bahwa lonjakan kasus gagal ginjal berdampak langsung pada peningkatan biaya perawatan yang harus ditanggung BPJS Kesehatan.
Dalam kurun waktu satu tahun, jumlah kasus gagal ginjal dilaporkan meningkat hampir sembilan kali lipat. Tidak hanya itu, biaya penanganan penyakit ini juga ikut melonjak hingga lebih dari empat kali lipat.
Akibatnya, gagal ginjal kini menjadi salah satu penyakit dengan biaya perawatan terbesar dalam sistem jaminan kesehatan nasional.
“Dalam setahun, yaitu periode 2024 hingga 2025, jumlah kasus gagal ginjal melonjak hampir sembilan kali lipat sementara biaya perawatannya meningkat lebih dari empat kali lipat,” ujar Sutopo Patria Jati.
Sutopo menjelaskan bahwa sebelumnya penyakit kanker masih menempati posisi sebagai penyumbang biaya terbesar kedua setelah penyakit jantung dalam pembiayaan BPJS Kesehatan.
Namun pada tahun 2025, posisi tersebut berubah. Gagal ginjal kini menjadi penyakit dengan beban pembiayaan terbesar kedua setelah penyakit jantung.
“Jika pada 2024 kanker masih menjadi penyumbang biaya terbesar kedua setelah penyakit jantung, maka pada 2025 posisinya digeser oleh gagal ginjal,” jelasnya.
Lonjakan kasus ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan BPJS Kesehatan. Selain berdampak pada kesehatan masyarakat, peningkatan jumlah pasien juga memengaruhi beban pembiayaan sistem jaminan kesehatan nasional.
Karena itu, upaya pencegahan serta peningkatan kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat dinilai menjadi langkah penting untuk menekan angka kasus gagal ginjal di Indonesia. ***



