BOGOR.POJOKSATU.id - Pencopotan Dadan Hindayana dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional atau BGN disebut tidak lepas dari hasil evaluasi panjang terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, Presiden Prabowo Subianto telah melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG selama kurang lebih satu setengah tahun.
Dari hasil evaluasi tersebut, pemerintah menemukan sejumlah catatan penting yang dinilai perlu segera diperbaiki.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah soal kualitas makanan MBG yang dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan BGN.
Selain kualitas makanan, catatan lain juga berkaitan dengan kedisiplinan dalam menjalankan standar operasional prosedur atau SOP, tata kelola organisasi, serta pelaksanaan program di lapangan.
Prasetyo menyebut seluruh catatan tersebut menjadi bahan evaluasi pemerintah sebelum akhirnya Presiden Prabowo memutuskan melakukan pergantian pimpinan di tubuh BGN.
“Bapak Presiden telah memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program nasional ini selama kurang lebih satu setengah tahun,” ujar Prasetyo.
Menurut Prasetyo, evaluasi dilakukan untuk memastikan program MBG berjalan sesuai tujuan awal, yakni memberikan makanan bergizi yang layak, aman, dan tepat sasaran bagi penerima manfaat.
Namun dalam pelaksanaannya, masih ditemukan sejumlah hal yang perlu dibenahi.
“Catatan yang ditemukan antara lain berkaitan dengan kedisiplinan menjalankan SOP, tata kelola organisasi, hingga menjaga kualitas makanan yang telah ditetapkan oleh BGN,” jelasnya.
Pernyataan tersebut memperkuat dugaan bahwa pencopotan Dadan Hindayana bukan hanya sekadar pergantian biasa.
Ada evaluasi serius terhadap pelaksanaan MBG, terutama karena program ini menyangkut kebutuhan dasar anak-anak dan masyarakat penerima manfaat.
Kualitas makanan menjadi isu paling sensitif dalam program MBG.
Sebab, program ini bukan hanya soal membagikan makanan secara massal, tetapi memastikan makanan yang diterima benar-benar bergizi, aman dikonsumsi, higienis, dan sesuai standar.
Jika kualitas makanan di lapangan tidak terjaga, maka tujuan besar program MBG bisa ikut terganggu.
Mulai dari asupan gizi anak, kepercayaan orang tua, hingga kredibilitas pemerintah dalam menjalankan program prioritas nasional.
Prasetyo menegaskan, berbagai temuan dalam kurun waktu terakhir menjadi dasar pemerintah untuk melakukan pembenahan.
Pergantian pejabat di BGN disebut sebagai bagian dari langkah memperkuat pelaksanaan program agar berjalan lebih tertib dan sesuai standar.
“Temuan-temuan itu menjadi bahan evaluasi pemerintah dan menjadi dasar bagi Presiden untuk melakukan pergantian pejabat di tubuh BGN,” tegas Prasetyo.
Dengan pergantian ini, publik kini menunggu arah baru BGN di bawah kepemimpinan yang baru.
Tantangan yang dihadapi tidak ringan.
BGN harus memastikan dapur MBG bekerja sesuai SOP, rantai pasok bahan pangan berjalan aman, kualitas makanan terjaga, serta tata kelola organisasi lebih transparan dan disiplin.
Program MBG memiliki skala besar dan dampaknya langsung terasa di masyarakat.
Karena itu, setiap persoalan kecil di lapangan bisa menjadi sorotan besar apabila tidak segera ditangani.
Pencopotan Dadan Hindayana pun menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin memperbaiki pelaksanaan MBG dari hulu ke hilir.
Bukan hanya soal mengganti pejabat, tetapi memastikan makanan yang sampai ke penerima manfaat benar-benar layak, bergizi, dan sesuai janji program.
Kini, pekerjaan rumah BGN semakin jelas: memperbaiki standar, memperkuat pengawasan, dan mengembalikan kepercayaan publik terhadap program Makan Bergizi Gratis.***



