POJOKBOGOR.ID - Program Sekolah Rakyat yang digagas Kementerian Sosial (Kemensos) terus berkembang dengan pendekatan yang terbilang unik.

Tidak hanya melibatkan tenaga pendidik formal, Kemensos juga menggandeng para kiai dalam proses pembangunan dan pengelolaannya.

Nah, di sinilah banyak publik mulai penasaran sebenarnya apa peran para kiai dalam Sekolah Rakyat ini?

Ternyata, keterlibatan kiai bukan sekadar simbol atau formalitas.

Baca Juga: Diserbu Warga! Pasar Murah Rakyat Akhir Maret Jual Baju dan Sembako Super Hemat, Mulai Harga Segini

Justru mereka menjadi bagian penting dalam membangun karakter dan pendekatan pendidikan berbasis nilai sosial serta moral masyarakat.

Sekolah Rakyat dirancang sebagai solusi pendidikan bagi kelompok masyarakat rentan, khususnya anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Program ini tidak hanya fokus pada pelajaran akademik seperti membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga pembentukan karakter.

Di sinilah peran kiai mulai terasa kuat.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Mulai Menyebar! Ternyata Tak Cuma Jakarta-Bogor, Ini Daerah Rintisannya

Mereka hadir sebagai pembimbing moral dan penguat nilai-nilai kehidupan.

Ya, bisa dibilang, pendidikan di Sekolah Rakyat ingin menghadirkan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan pembinaan akhlak.

“Pendekatannya lebih manusiawi,” begitu gambaran yang sering disampaikan dalam konsep program ini.

Jadi bukan sekadar belajar di kelas, tapi juga belajar menjadi pribadi yang mandiri dan beretika.

Kemensos melihat kiai sebagai tokoh masyarakat yang memiliki kedekatan emosional dengan warga.

Apalagi di banyak daerah, pesantren dan tokoh agama masih menjadi pusat kepercayaan masyarakat.

Nah, peran ini dimanfaatkan untuk membangun kepercayaan publik terhadap Sekolah Rakyat.

Kehadiran kiai membuat orang tua merasa lebih yakin menitipkan pendidikan anak-anak mereka.

Baca Juga: Kabar Penting! BPJS Ketenagakerjaan Cairkan Santunan Kematian dan Beasiswa untuk PPPK Paruh Waktu

Selain itu, para kiai juga berperan dalam pendekatan sosial kepada keluarga peserta didik.

Mereka membantu memastikan anak-anak tetap mengikuti kegiatan belajar dan tidak kembali putus sekolah.

Menarik, kan? Jadi bukan hanya mengajar, tetapi juga menjadi penghubung antara program pemerintah dan masyarakat.

Sekolah Rakyat mengusung konsep pembelajaran yang fleksibel dan berbasis komunitas.

Baca Juga: Gaji Pensiunan ASN Naik atau Tidak? Taspen Angkat Bicara Usai APBN 2026 Disahkan

Banyak kegiatan belajar dilakukan di lingkungan yang lebih santai dibanding sekolah formal.

Di sinilah sentuhan para kiai memberi warna tersendiri.

Mereka membantu menciptakan suasana belajar yang hangat, inklusif, dan penuh pendekatan personal.

Kadang pembelajaran dilakukan melalui diskusi ringan, cerita inspiratif, hingga kegiatan keagamaan yang membangun kedisiplinan.

Eh, tanpa terasa, peserta didik belajar nilai kehidupan sekaligus pengetahuan dasar.

Model ini dianggap lebih efektif bagi anak-anak yang sebelumnya kurang nyaman dengan sistem sekolah formal.

Indonesia masih menghadapi tantangan angka putus sekolah di beberapa wilayah.

Faktor ekonomi, lingkungan, hingga motivasi belajar menjadi penyebab utama.

Kemensos mencoba menjawab persoalan ini lewat pendekatan kolaboratif.

Baca Juga: Waspada! PPPK Paruh Waktu Hadapi 3 Nasib di 2026, Bisa Naik Status atau Justru Kehilangan Pekerjaan

Melibatkan kiai dinilai sebagai strategi sosial yang tepat karena mereka sudah memiliki pengaruh positif di komunitas.

Dengan pendekatan berbasis tokoh lokal, proses edukasi menjadi lebih diterima masyarakat.

Program pun tidak terasa sebagai kebijakan dari atas, melainkan gerakan bersama.

Keterlibatan kiai dalam Sekolah Rakyat diharapkan mampu menciptakan model pendidikan alternatif yang lebih adaptif terhadap kondisi sosial Indonesia.

Baca Juga: Ini Klarifikasi Resmi dari KOMDIGI, Soal Gaji Pensiunan PNS 2026 Dikabarkan Naik

Bukan hanya mengejar angka kelulusan, tetapi juga membangun generasi yang memiliki karakter kuat.

Ke depan, Kemensos menargetkan Sekolah Rakyat dapat berkembang di berbagai daerah dengan konsep kolaborasi serupa.

Dan ya, kalau melihat antusiasme masyarakat sejauh ini, program ini punya peluang besar menjadi wajah baru pendidikan berbasis komunitas di Indonesia.

Siapa sangka, perpaduan kebijakan sosial dan kearifan lokal justru menjadi kunci inovasi pendidikan masa depan.***