POJOKBOGOR.ID - Program pasar murah rakyat kembali digelar di berbagai daerah pada akhir Maret dan langsung disambut antusias masyarakat.
Yup, sejak pagi hari warga sudah berdatangan, bahkan sebelum stan resmi dibuka.
Alasannya sederhana tapi kuat, harga kebutuhan pokok dan pakaian dijual jauh lebih murah dibanding harga pasar biasa.
Program ini memang rutin digelar menjelang momen pergantian bulan dan periode kebutuhan meningkat.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Mulai Menyebar! Ternyata Tak Cuma Jakarta-Bogor, Ini Daerah Rintisannya
Nah, kali ini yang bikin menarik, bukan cuma sembako yang tersedia, tapi juga pakaian layak pakai dengan harga ramah kantong.
Waduh, siapa yang nggak tergoda?
Di sejumlah titik pelaksanaan pasar murah rakyat, harga barang disebut dimulai dari kisaran Rp5.000 hingga Rp10.000 untuk beberapa kebutuhan dasar.
Paket sembako seperti beras, minyak goreng, gula, dan telur dijual dengan subsidi harga tertentu sehingga lebih terjangkau.
Baca Juga: Kabar Penting! BPJS Ketenagakerjaan Cairkan Santunan Kematian dan Beasiswa untuk PPPK Paruh Waktu
Sementara itu, pakaian seperti kaos, kemeja, hingga busana anak-anak dijual mulai Rp10.000–Rp25.000 per potong.
Murah banget, ya? Nggak heran kalau area stan pakaian justru menjadi salah satu titik paling ramai dikunjungi.
Beberapa warga bahkan mengaku sengaja datang lebih awal agar tidak kehabisan ukuran atau pilihan model.
Meski baju murah menarik perhatian, faktanya kebutuhan sembako masih menjadi primadona.
Minyak goreng dan beras menjadi produk paling cepat habis dalam beberapa jam pertama.
“Kalau sembako pasti prioritas dulu. Lumayan banget selisih harganya,” ujar salah satu pengunjung yang rela antre sejak pagi.
Selain itu, gula pasir dan telur juga termasuk barang yang paling diburu.
Banyak keluarga memanfaatkan program ini untuk stok kebutuhan dapur mingguan agar pengeluaran bisa ditekan.
Baca Juga: Bagaimana Nasib Rapel Pensiunan PNS? Setelah APBN 2026 Disahkan, Ini Penjelasannya
Oh iya, beberapa lokasi bahkan menerapkan sistem pembatasan pembelian agar distribusi tetap merata.
Jadi semua warga kebagian, bukan diborong satu orang saja.
Yang menarik, pasar murah rakyat tidak hanya soal transaksi ekonomi.
Suasananya terasa seperti festival kecil masyarakat.
Baca Juga: Gaji Pensiunan ASN Naik atau Tidak? Taspen Angkat Bicara Usai APBN 2026 Disahkan
Ada interaksi hangat antara pedagang, relawan, dan warga.
Anak-anak ikut datang, pedagang lokal ikut meramaikan, dan warga saling berbagi informasi soal harga terbaik.
Nuansanya terasa lebih santai dan humanis dibanding pasar konvensional.
Program ini juga menjadi ruang sosial baru.
Ya, semacam tempat berkumpul yang menghadirkan rasa kebersamaan di tengah tekanan harga kebutuhan hidup yang belakangan meningkat.
Penyelenggara menyebut pasar murah rakyat bertujuan membantu menjaga stabilitas harga sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat.
Terutama menjelang periode kebutuhan meningkat di akhir bulan.
Dengan adanya subsidi distribusi dan kerja sama dengan distributor lokal, harga barang bisa ditekan tanpa mengurangi kualitas produk.
Program ini juga sekaligus membantu pelaku usaha kecil karena sebagian produk berasal dari UMKM lokal.
Jadi manfaatnya terasa dua arah warga terbantu, pelaku usaha ikut bergerak.
Banyak warga berharap pasar murah rakyat tidak hanya digelar musiman.
Beberapa bahkan mengusulkan agar kegiatan ini rutin hadir setiap bulan.
“Kalau bisa sering diadakan, karena sangat membantu,” kata seorang ibu rumah tangga sambil membawa kantong belanja penuh.
Melihat tingginya antusiasme masyarakat akhir Maret ini, pasar murah rakyat tampaknya bukan sekadar program sementara.
Ia berubah menjadi solusi nyata di tengah kebutuhan ekonomi sehari-hari.
Dan ya, satu hal yang pasti selama harga masih ramah di kantong, warga akan selalu datang.
Bahkan sejak sebelum matahari benar-benar naik.***




