POJOKBOGOR.ID - Banyak orang menganggap beristirahat di dalam mobil dengan AC menyala sebagai hal yang aman dan nyaman, terutama saat perjalanan jauh atau ketika kelelahan di perjalanan mudik.
Namun, siapa sangka kebiasaan ini justru bisa berbahaya, bahkan berujung kematian jika dilakukan terlalu lama.
Ya, terdengar mengerikan, tapi secara ilmiah hal ini memang bisa terjadi.
Kasus kematian akibat dugaan keracunan di dalam mobil kerap dikaitkan dengan paparan gas karbon monoksida (CO), gas beracun yang tidak berwarna, tidak berbau, dan sangat sulit dideteksi oleh manusia.
Baca Juga: Pemkab Bogor Semakin Semangat Buat Sukamakmur Jadi Pusat Ekonomi Baru
Nah, inilah yang membuatnya sering disebut sebagai “silent killer”.
Secara ilmiah, karbon monoksida dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar kendaraan yang tidak sempurna.
Gas tersebut bisa masuk ke dalam kabin mobil melalui celah ventilasi, terutama jika kendaraan berhenti lama dengan mesin tetap menyala.
“Lho, kan AC mobil tertutup rapat?” Eits, justru di situlah masalahnya.
Baca Juga: Tradisi Nganyah Perempuan Bali Ternyata Punya Makna Mendalam yang Bikin Merinding
Meski kabin terasa aman, sistem sirkulasi udara mobil tetap memiliki kemungkinan menarik udara dari luar.
Jika posisi kendaraan berada di area tertutup seperti garasi, ruang sempit, atau lingkungan dengan sirkulasi udara buruk, gas CO dapat terakumulasi dan perlahan masuk ke dalam kabin.
Ketika terhirup, karbon monoksida akan masuk ke aliran darah dan berikatan dengan hemoglobin.
Masalahnya, ikatan CO dengan hemoglobin jauh lebih kuat dibanding oksigen.
Akibatnya, tubuh kekurangan suplai oksigen meski seseorang masih bernapas normal.
Dalam dunia medis, kondisi ini disebut hipoksia, yaitu keadaan ketika jaringan tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup.
Dampaknya bisa sangat cepat.
Gejala awal biasanya tampak ringan, seperti pusing, mual, lemas, mengantuk, hingga sakit kepala.
Baca Juga: Hanya Dipangkas 1 Hari, Pemerintah Bisa Hemat Rp40 Triliun per Tahun Dari Program MBG
Nah, ini yang sering disalahartikan sebagai tanda kelelahan biasa.
Padahal, tanpa disadari korban bisa kehilangan kesadaran secara perlahan.
Semakin lama paparan terjadi, fungsi otak dan organ vital mulai terganggu.
Dalam kadar tinggi, karbon monoksida dapat menyebabkan kerusakan otak permanen hingga kematian hanya dalam hitungan menit.
Baca Juga: Dana Transfer Daerah Dipangkas, Sejumlah Sektor Langsung Gonjang-Ganjing! Ini Dampak Nyatanya
Duh, ngeri juga ya.
Para ahli keselamatan transportasi menyebut risiko meningkat ketika seseorang tidur di dalam mobil dengan AC menyala dalam waktu lama.
Saat tertidur, tubuh tidak lagi merespons tanda bahaya seperti pusing atau sesak napas.
Artinya, korban tidak sempat menyelamatkan diri.
Selain itu, kondisi knalpot yang bermasalah, kebocoran sistem pembuangan, atau posisi kendaraan yang terlalu dekat dengan tembok juga bisa memperbesar risiko gas beracun masuk ke kabin.
Karena itu, ada beberapa langkah pencegahan sederhana namun penting:
- Hindari tidur lama di mobil dengan mesin menyala.
- Jangan menyalakan kendaraan di ruang tertutup seperti garasi.
- Pastikan sistem knalpot dan ventilasi mobil dalam kondisi baik.
- Jika merasa pusing atau mual saat berada di mobil berhenti, segera keluar mencari udara segar.
Kesadaran terhadap bahaya ini menjadi penting, terutama saat musim perjalanan panjang seperti mudik atau liburan.
Banyak pengendara memilih beristirahat di mobil karena dianggap praktis, padahal risikonya tidak kecil.
Jadi, kalau rasa kantuk datang di perjalanan, lebih aman mencari rest area atau tempat terbuka untuk beristirahat.
Baca Juga: Imbas Harga BBM, Perusahaan Grab, Gojek Hingga Bluebird Bakal Alami Kenaikan Tarif
Ingat, kenyamanan sesaat tidak sebanding dengan risiko keselamatan.
Kadang bahaya terbesar justru datang dari kebiasaan yang terlihat biasa saja.***




